Tadzkirah

Ketika Dunia Terlalu Riuh, Dengarkan Tiga Nasihat Imam Al-Ghazali

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

DI TENGAH dunia yang serba cepat ini, di mana notifikasi tak pernah berhenti, waktu terasa selalu kurang, dan hidup seakan berlomba dengan algoritma, ada nasihat lama dari seorang ulama besar yang terasa seperti oase di tengah hiruk pikuk.

Nasihat itu datang dari Imam Al-Ghazali, ulama dan cendekiawan besar yang hidup lebih dari sembilan abad lalu. Dalam kitabnya Yaa Ayyuhal Walad (“Wahai Anak”), beliau menulis surat nasihat untuk muridnya. Siapa sangka, kata-katanya kini justru terasa makin relevan bagi kita yang hidup di era modern: penuh distraksi, ambisi, dan pencarian makna.

Imam Al-Ghazali menyampaikan tiga nasihat abadi, tentang hidup, cinta, dan amal.

Pertama, silakan saja menikmati kehidupan dunia sepuasnya. Namun ingat, suatu hari nanti kematian pasti datang menjemput. Tidak ada yang bisa menolak datangnya ajal. Kita boleh berlari sejauh apa pun, tapi tidak akan pernah bisa lari dari ketetapan Allah. Waktu akan menua, tubuh akan melemah, dan hidup akhirnya akan berhenti.

Kalau kita sudah tahu bahwa kematian pasti datang, maka orang yang cerdas adalah mereka yang mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelahnya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. At-Tirmidzi).

Artinya, kecerdasan sejati bukan diukur dari harta, jabatan, atau popularitas, tetapi dari sejauh mana kita sadar bahwa dunia hanyalah persinggahan menuju akhirat.

Kedua, cintailah apa pun yang ingin kamu cintai di dunia ini. Namun jangan lupa, pada akhirnya kamu akan berpisah dengan semuanya. Entah itu harta, jabatan, pasangan, bahkan orang-orang yang paling kita sayangi. Semua cinta duniawi pada akhirnya akan berakhir dengan perpisahan.

Semakin dalam cinta kita kepada sesuatu, semakin perih pula rasa kehilangan saat ia pergi. Maka sesekali, renungkanlah: akan tiba waktunya tubuh ini terbujur kaku, dibungkus kain kafan, ditinggalkan sendirian di liang lahat. Tak ada yang ingin berada di posisi itu, tapi itulah kenyataan yang pasti. Bahkan, orang yang paling mencintai kita di dunia ini, mungkin justru yang pertama kali menutup wajah kita dengan tanah.

Saat itu, tiada lagi tempat bersandar kecuali Allah semata. Hasbiyallah, hasbiyallah, hasbiyallah. Cukuplah Allah sebagai sandaran, tempat menggantungkan harapan, tempat kembali dari segala lelah dan takut.

Maka, selama hidup masih diberi waktu, gunakan cinta kita untuk sesuatu yang mengarah kepada Allah. Cintailah dunia secukupnya, agar ketika tiba waktunya berpisah, hati kita tidak hancur, karena cinta terbesar telah tertambat pada Sang Pencipta.

Ketiga, lakukanlah apa pun yang kamu inginkan di dunia ini. Kejar cita-citamu, wujudkan impianmu, tapi jangan lupa, semua akan Allah balas dan hisab. Tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari catatan-Nya.

Firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 49, “Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya. Mereka berkata, ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan mencatat semuanya.’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada tertulis. Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.”

Setiap keputusan, langkah, dan perbuatan kita, sekecil apa pun akan diperhitungkan. Karena itu, jangan menunggu tua untuk memperbaiki diri. Jangan menunggu sempat untuk bertobat, karena kita tak pernah tahu kapan waktu “sempat” itu datang.

Semoga Allah menganugerahkan umur panjang yang penuh keberkahan, memberi kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri dan bertobat sebelum ajal tiba.

Allahumma inna nas-aluka salamatan fiddin, wa ‘afiyatan fil jasadi, wa ziyadatan fil ‘ilmi, wa barakatan fir rizqi, wa taubatan qablal maut, wa rahmatan ‘indal maut, wa maghfiratan ba’dal maut.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keselamatan dalam agama, kesehatan badan, tambahan ilmu, keberkahan rezeki, tobat sebelum mati, rahmat saat mati, dan ampunan setelah mati.

Tiga nasihat Imam Al-Ghazali ini menjadi cermin bagi banyak orang masa kini yang merasa masih muda, masih kuat, dan merasa hidup sepenuhnya milik mereka sendiri. Padahal, hidup ini sepenuhnya milik Allah, dan kita hanyalah tamu sementara di dunia. Maka bijaklah menjalani hidup, karena setiap napas yang kita hembuskan sejatinya adalah perjalanan pulang menuju-Nya.*

Exit mobile version