Tadzkirah

Rumah sebagai Markas Iman

Oleh:

KH. Bachtiar Nasir 

 

RUMAH dalam pandangan Islam bukan sekadar tempat berteduh, beristirahat, atau berkumpul bersama keluarga. Lebih dari itu, rumah adalah markas iman, tempat setiap anggota keluarga bertumbuh dalam keimanan, kasih sayang, dan ketaatan kepada Allah SWT.

Di dalam rumah, setiap anggota keluarga memiliki peran yang saling melengkapi. Ayah memimpin keluarga dengan arah ruhani yang jelas, ibu mendidik dengan penuh kasih sayang, sementara anak-anak merupakan amanah Allah yang harus dijaga dan dibimbing menuju jalan kebaikan. Ketika peran-peran itu berjalan seiring, rumah akan menjadi taman rahmat yang menghadirkan ketenangan bagi seluruh penghuninya.

Alquran memberikan teladan tentang pentingnya menjadikan rumah sebagai pusat ibadah. Allah SWT berfirman dalam Surah Yunus ayat 87 ketika memerintahkan Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS agar menjadikan rumah-rumah kaumnya sebagai tempat menegakkan shalat. Perintah ini menunjukkan bahwa rumah semestinya menjadi tempat pertama lahirnya ketaatan kepada Allah.

Pesan serupa ditegaskan dalam Surah An-Nur ayat 36-37. Allah memuji rumah-rumah yang dimuliakan dengan zikir, shalat, dan ibadah, yang penghuninya tidak dilalaikan oleh urusan dunia dari mengingat-Nya. Rumah seperti inilah yang menjadi benteng keimanan di tengah derasnya godaan zaman.

Rasulullah SAW juga mengingatkan agar kaum Muslim tidak menjadikan rumah mereka seperti kuburan. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa setan akan lari dari rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah. Karena itu, menghidupkan rumah dengan tilawah Alquran bukan hanya menghadirkan keberkahan, tetapi juga menjadi ikhtiar menjaga keluarga dari berbagai godaan.

Rumah yang hidup dengan iman bukan berarti selalu megah atau luas. Rumah yang kuat adalah rumah yang memiliki arah sujud yang jelas, tempat seluruh anggota keluarga saling mengingatkan dalam shalat, membaca Alquran, berzikir, dan menjaga adab. Sebaliknya, rumah yang dipenuhi hiburan tetapi sepi dari lantunan Alquran berisiko kehilangan ruh keimanannya.

Muharram menjadi momentum yang tepat untuk melakukan “reset” kehidupan keluarga. Setiap rumah dapat memulai kebiasaan sederhana, seperti menghidupkan shalat berjamaah, membaca beberapa ayat Alquran setiap hari, menyediakan waktu berbincang bersama keluarga tanpa gawai, serta membangun komunikasi yang lembut tanpa bentakan, ejekan, atau amarah.

Selain menghidupkan ibadah, menjaga kebersihan dan kerapian rumah juga menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan suasana yang nyaman. Rumah yang bersih, tertata, dan dipenuhi bacaan Alquran akan lebih mudah menghadirkan ketenangan bagi seluruh penghuninya.

Tak kalah penting, rumah adalah tempat terbaik untuk berbakti kepada orang tua. Merawat ayah atau ibu yang telah lanjut usia dengan penuh kasih sayang merupakan salah satu pintu menuju surga. Senyuman, perhatian, dan kesabaran kepada mereka menjadi amal yang nilainya sangat besar di sisi Allah SWT.

Pada akhirnya, rumah yang indah bukan hanya rumah yang rapi secara fisik, melainkan rumah yang hidup dengan Alquran, shalat, zikir, akhlak mulia, dan kasih sayang. Dari rumah seperti itulah lahir keluarga yang saling menguatkan dalam iman dan bersama-sama menapaki jalan menuju surga Allah SWT.

Semoga setiap rumah kaum Muslim menjadi markas iman, tempat turunnya rahmat, keberkahan, dan lahirnya generasi yang kokoh memegang nilai-nilai Islam.

Bila diinginkan, tulisan ini juga dapat disesuaikan lebih khas gaya Hikmah Republika, dengan pembuka yang lebih reflektif, kutipan ayat yang lebih ringkas, serta penutup yang lebih kontemplatif.*

Exit mobile version