Jangan Mati Seperti Daun Kering

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
PERNAHKAH kita merenungkan, bagaimana sebuah kebaikan mampu bertahan melintasi zaman, bahkan hingga mencapai usia satu abad?
Jawabannya mungkin dapat kita temukan di sebuah “kampung damai” bernama Darussalam, Gontor. Siapa menyangka, Gontor yang konon dikaitkan dengan istilah “enggon kotor”—sebuah tempat yang pada masa lalu lekat dengan berbagai kemaksiatan—kemudian menjelma menjadi tempat lahirnya generasi-generasi penerus dakwah.
Perubahan besar itu tidak terjadi dalam semalam. Ada perjuangan, pengorbanan, dan visi panjang yang ditanamkan para pendirinya. Tiga bersaudara yang kemudian dikenal sebagai Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor memilih mewakafkan diri, tenaga, pikiran, dan harta untuk pendidikan dan perjuangan umat.
Kisah tersebut mengingatkan kita pada pelajaran besar dari perjalanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sebagaimana tergambar dalam Surah As-Saffat ayat 100–113.
Nabi Ibrahim tidak hanya memikirkan kehidupannya sendiri. Ia memikirkan generasi setelahnya. Ia memohon keturunan yang saleh, kemudian mendidik keluarganya untuk tunduk kepada Allah SWT.
Di sinilah kita memahami bahwa keluarga yang diberkahi bukan semata keluarga yang berhasil meninggalkan banyak harta. Ada warisan yang jauh lebih mahal: iman, keteladanan, perjuangan, dan keberanian meneruskan risalah kebaikan.
Rahasia Umur Panjang Kebaikan
Ada pertanyaan menarik ketika sebuah lembaga mampu bertahan hingga satu abad: apa yang membuatnya tetap tegak ketika zaman terus berubah?
Salah satu jawabannya adalah keikhlasan. Keikhlasan membuat seseorang bekerja bukan semata untuk memperoleh tepuk tangan. Ia tidak menggantungkan perjuangannya kepada popularitas, jabatan, ataupun kekuasaan. Ia bekerja karena meyakini bahwa apa yang dilakukan merupakan bagian dari pengabdian kepada Allah.
Di samping keikhlasan, ada kesederhanaan dan kemandirian. Ketiganya menjadi benteng ketika manusia berhadapan dengan godaan yang sangat tua: cinta dunia atau hubbud dunya.
Betapa banyak orang yang awalnya memiliki cita-cita besar, tetapi akhirnya kehilangan arah ketika dunia mulai datang menawarkan kenyamanan. Betapa banyak perjuangan yang semula dibangun atas nama idealisme, perlahan berubah ketika kekuasaan, harta, dan kepentingan mulai menjadi tujuan.
Dunia tentu bukan sesuatu yang harus ditinggalkan. Kita bekerja, mencari nafkah, membangun rumah, mengembangkan usaha, dan menyiapkan masa depan keluarga. Islam tidak melarang semua itu.
Masalah muncul ketika dunia berpindah tempat: dari genggaman tangan menuju singgasana hati. Ketika dunia telah menjadi tujuan tertinggi, manusia dapat kehilangan kejernihan. Keikhlasan terkikis, prinsip mulai dinegosiasikan, dan keberkahan perlahan menghilang.
Wariskan Proses, Bukan Hanya Harta
Pelajaran ini sangat penting bagi orang tua. Kita sering bekerja keras karena ingin meninggalkan sesuatu kepada anak-anak. Rumah disiapkan, tanah dibeli, tabungan dikumpulkan, dan pendidikan terbaik diusahakan.
Semua itu baik. Namun, jangan sampai kita begitu sibuk menyiapkan warisan dunia hingga lupa menyiapkan warisan akhirat. Anak-anak bukan hanya membutuhkan hasil perjuangan orang tuanya. Mereka juga perlu mengetahui proses di balik perjuangan tersebut.
Biarkan mereka melihat bagaimana ayah dan ibunya jatuh lalu bangkit. Bagaimana keluarga mempertahankan prinsip ketika keadaan sulit. Bagaimana rezeki dicari dengan cara halal. Bagaimana keputusan diambil tanpa mengorbankan iman.
Warisan semacam itulah yang dapat membentuk ketangguhan. Harta bisa habis dalam satu generasi. Rumah dapat dijual. Tanah dapat berpindah tangan. Perusahaan bisa bangkrut.
Tetapi nilai yang tertanam dalam jiwa dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Itulah legacy sesungguhnya.
Jangan Hidup Seperti Daun Kering
Manusia tidak diciptakan hanya untuk lahir, tumbuh, bekerja, menua, lalu meninggal dunia. Jika hanya demikian, kehidupan manusia tak ubahnya daun-daun di pepohonan. Tumbuh, menghijau, menguning, kemudian gugur tertiup angin dan akhirnya kembali menjadi tanah.
Manusia diberi amanah yang jauh lebih besar. Kita diberi akal untuk membedakan benar dan salah. Diberi lisan untuk menyampaikan kebenaran. Diberi kemampuan untuk menghadirkan manfaat. Bahkan diberi kesempatan menjadi bagian dari perubahan peradaban.
Karena itu, pertanyaan penting dalam hidup bukan sekadar, “Berapa banyak yang sudah saya miliki?”
Pertanyaan yang lebih dalam adalah, “Apa yang akan tetap hidup setelah saya meninggal?” Apakah ada ilmu yang terus diajarkan?
Apakah ada anak saleh yang meneruskan kebaikan? Apakah ada lembaga yang tetap memberikan manfaat? Apakah ada nilai yang terus dipegang generasi berikutnya?
Seratus tahun perjalanan sebuah lembaga pendidikan memberi kita satu pelajaran: usia manusia memang terbatas, tetapi usia sebuah kebaikan bisa jauh lebih panjang daripada usia orang yang memulainya.
Syaratnya, kebaikan itu ditanam dengan keikhlasan, dirawat dengan keteguhan, dan diwariskan melalui keteladanan.
Di tengah zaman yang semakin riuh, kita perlu kembali menata niat. Jangan sampai perjalanan panjang kehidupan justru menjauhkan kita dari tujuan awal penciptaan.
Allah SWT mengingatkan:
“Wa la tamutunna illa wa antum muslimun.”
“Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
Pada akhirnya, kita memang akan meninggalkan dunia. Rumah, jabatan, kekayaan, dan segala yang kita banggakan akan tertinggal. Namun, ada sesuatu yang masih mungkin terus berjalan setelah kita pergi: jejak kebaikan.
Maka jangan hanya memikirkan apa yang akan kita tinggalkan untuk generasi berikutnya. Pikirkan pula apa yang akan kita hidupkan di dalam diri generasi berikutnya.
Sebab warisan terbaik bukanlah sesuatu yang sekadar berpindah tangan, melainkan nilai kebaikan yang berpindah dari hati ke hati dan terus hidup melintasi zaman. Wallahu a’lam bish-shawab.*
