Tadzkirah

Tujuan Hidup Kita

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan, berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al-Kahfi ayat 45-46).

Apa yang harus kita prioritaskan di dalam hidup? Kemana tujuan hidup mesti kita arahkan? Allah Azza wa Jalla memberikan tuntunan kepada kita melalui perumpamaan air hujan yang diturunkan. Air hujan yang dicurahkan dari langit dengan takaran yang terukur dan menumbuhkan segala yang terbasahi olehnya.

Air hujan yang diturunkan dari langit dengan ukuran dan takaran yang tidak pernah salah itu merupakan rahmat sekaligus penumbuh kembali apa-apa yang pernah mati. “Dan, Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). ” (QS An Nahl: 65).

Dengan turunnya hujan, pohon-pohon yang sebelumnya meranggas, binatang-binatang yang kehausan, dan sumur-sumur rumah manusia yang kering, kembali tersirami dan terisi air. Kegembiraan merebak disana-sini terutama setelah air bersih yang dinantikan setelah kekeringan, terkumpul dimana-mana. Penghuni bumi yang sebelumnya melesu, kembali berbangkit menyambut harapan.

Pepohonan kembali bertumbuh dengan subur, daun-daunnya bertambah jumlah, bunga-bunganya bermekaran, dan buahnya bergerombol ranum. Kaki-kaki binatang pun kembali melangkah dengan gagah; memakan tumbuhan yang subur atau hewan buruannya yang juga telah gemuk.

Manusia pun berbahagia dengan harapan akan masa depan yang lebih baik. Akan tetapi, banyak di antara manusia yang lupa, bahwa segala apa yang ada di dunia tidak akan lama. Dari seorang bayi yang lahir hingga ia kemudian menjadi lansia dan tiada, sungguh bukanlah waktu yang lama.

Waktu berjalan begitu cepat di sisi manusia dengan berbagai dinamikanya yang kadang membuat manusia lupa jalan pulang dan tersesat. Inilah yang kemudian Allah Azza wa Jalla ingatkan dalam kalimat berikutnya berfirman, “… Kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Bahwa, sebagaimana tumbuhan, binatang, atau manusia sekalipun; semua akan menghadapi fase menjadi layu, kering, dan akhirnya menemui kematian. Tunduk di bawah kehendak dan takdir-Nya.

Perumpaan air hujan yang menyuburkan itu adalah pengingat bahwa segala apa pun yang ada di dunia hanya sebentar saja. Umur manusia zaman sekarang paling panjang hanya mencapai 80 tahun, mawar yang merekah cantik hanya berusia dua minggu; begitu pula dalam hitungan tahun, hewan yang kita ternak akan memasuki usia potong – yang jika melampauinya akan merugikan.

Segala yang ada di dunia ini ada batasnya, sebentar, dan tidak akan kekal. Walau demikian, dunia ini memang penuh dengan perhiasan dan hiburan yang memanjakan. Hanya orang-orang yang hidup dengan iman dan hikmahlah yang dapat menjadikan dunia yang sebentar ini, benar-benar menjadi investasi yang berharga.

Yang kelak akan menyelamatkan kehidupan akhiratnya. Oleh karena itu, menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup di dunia ini, bukan berarti menjadikan kita orang-orang yan tertinggal dari pencapaian dunia. Sebaliknya, orang yang cerdas adalah orang yang mampu menjadikan dunia ini sebagai investasi yang menguntungkan untuk kehidupan akhiratnya yang kekal dan tanpa kekhawatiran, dibawah naungan ridha-Nya.

Perhiasan Dunia
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al-Kahfi ayat 46).

Harta dan anak-anak memang adalah perhiasan. Namun, sebagaimana perhiasan, sejatinya ia adalah simpanan, bekal, dan investasi yang digunakan disaat yang tak biasa. Dan, bila digunakan untuk pamer atau berbangga malah membahayakan.

Seperti itulah pula sejatinya kita memperlakukan harta dan anak-anak yang dititipkan kepada kita. Dijaga untuk saat-saat tak biasa kita. Waktu yang istimewa. Saat bertemu dengan-Nya di Padang Mahsyar. Oleh karenanya, akan menjadi luar biasa, manakala harta dan anak-anak kita bisa menjadi energi penggerak amal-amal shaleh yang kita lakukan. Karena, itulah yang akan menjadi harapan kita kelak dapat terbebas dari api neraka.

Dengan demikian, sekali lagi, memprioritaskan akhirat dan menetapkan tujuan perjalanan hidup kita di dunia untuk bertemu dengan-Nya; sama sekali bukan untuk melupakan dunia, bahkan kita harus memaksimalkan pencapaian dunia untuk bekal menuju akhirat. Sejatinya, dunia adalah anak tangga menuju akhirat.

Di keseharian, jangan membuat diri kita tidak mampu beramal saleh karena tuntutan hawa nafsu yang kita turuti dan tingginya gaya hidup yang kita ikuti. Sungguh, tidak akan lama hidup di dunia. Puluhan tahun bagai berlalu begitu saja, tergilas rutinitas dan tuntutan hidup yang mesti kita penuhi.

Meski pada akhirnya, kita tidak pernah bisa benar-benar memiliki apa yang kita perjuangkan itu. Karena, sejatinya apa yang kita perjuangkan bukan karena Allah Ta’ala, tidak akan pernah menjadi sesuatu yang berarti. Apa yang diridhai-dan diterima oleh-Nya-lah yang akan membawa kebahagiaan dan kekal membersamai hingga di akhirat nanti.*