Tadabbur

Ujian Cinta dan Resep ‘STIR’ dalam Keluarga

Ilustrasi

Oleh: 

KH Bachtiar Nasir

 

​”Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS Al-Mulk: 3).

​Allah SWT menciptakan semesta, dengan tujuh lapis langitnya, dalam keharmonisan mutlak tanpa celah. Semua tunduk pada orbitnya, serba rapi dan seimbang. Namun, ketika kita menundukkan pandangan dari langit menatap realitas di bumi—tepatnya di bawah atap rumah kita sendiri—celah dan ketidaksempurnaan itu seolah selalu hadir. Suami, istri, orang tua, hingga anak-anak tak jarang memantik lelah, keluh kesah, bahkan derai air mata.

​Mengapa hal yang paling dekat justru kerap menjadi ujian yang paling menguras emosi?

​Dalam bingkai tadabur Surah As-Saffat ayat 100-113 mengenai kisah keluarga Nabi Ibrahim AS, kita menemukan satu muara jawaban: Ujian Cinta.

​Kecintaan kita terhadap pasangan, orang tua, dan anak keturunan adalah fitrah yang Allah titipkan. Namun, dari fitrah cinta itulah datangnya ujian. Selama rasa cinta itu bertahta di dalam dada, selama itu pula kita harus bersiap menyambut ragam ujian. Anak bisa menjadi penyejuk hati yang diidam-idamkan, tetapi pada saat yang sama, proses mendidiknya acapkali mengoyak batas kesabaran.

​Nabi Ibrahim AS menanti puluhan tahun untuk mendapat keturunan. Ia terus berdoa tanpa lelah: “Rabbi habli minash-shalihin”. Itulah ujian kesabaran dalam penantian. Lalu, saat Ismail lahir dan tumbuh menjadi remaja yang halim (penyantun), ujian yang datang ternyata jauh lebih dahsyat, yakni perintah untuk mengorbankan sang anak kesayangan (QS As-Saffat: 102). Inilah ujian ketaatan tertinggi, di mana cinta kepada Sang Khaliq dipertaruhkan di atas cinta kepada makhluk.

​Ujian keluarga senantiasa menuntut kompromi antara apa yang kita inginkan dan apa yang Allah tetapkan. Ketika anak atau orang tua bersikap tak sesuai harapan, sungguh pada hakikatnya Allah sedang mendidik jiwa kita.

​Untuk menghadapi ombak ujian cinta dalam rumah tangga, kuncinya berpusat pada satu akronim penawar jiwa: STIR (Sabar, Tawakal, Ikhlas, Ridha).

​Kita dituntut untuk Sabar membersamai tumbuh kembang anak atau merawat orang tua yang kian renta. Kita diwajibkan Tawakal, menyadari bahwa kita tak memiliki daya mengendalikan hati anggota keluarga kita (betapapun kita memaksanya) selain karena kehendak Sang Maha Pembolak-balik hati. Kita diajarkan Ikhlas mengabdi tanpa menanti balas budi. Serta diakhiri dengan kelapangan untuk Ridha menerima porsi takdir yang Allah tetapkan di dalam rumah kita.

​Jika STIR ini diaplikasikan, maka keletihan di dalam rumah tak lagi dinilai sebagai beban, melainkan anak tangga menuju derajat “keluarga yang diberkahi” (keluarga mubarak).

​Membangun keluarga yang diberkahi bukanlah proyek semalam, melainkan warisan peradaban. Ia menuntut prinsip agung: al-muhafazhah ‘alal qiyam, wat-taghyir ilal kamal (menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur dari generasi ke generasi, sembari terus berbenah melakukan perubahan menuju kesempurnaan).

​Pada akhirnya, tak ada keluarga yang sepi dari ujian. Namun, bila nahkoda menggenggam erat kemudi STIR, bahtera keluarga akan mampu berlabuh di pantai keberkahan. Sebagaimana Ismail AS yang memohon pertolongan Allah agar bisa bersabar menghadapi ujian (“satajiduni insyaallahu minash-shabirin”), kita pun harus sadar bahwa kita takkan pernah sanggup mendidik keluarga tanpa rahmat dan pertolongan-Nya. Wallahu a’lam bish-shawab.*