Tadzkirah

Doa yang Diulang-ulang, Senjata Mukmin Melawan Hawa Nafsu

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

DI TENGAH derasnya godaan dunia, manusia kerap merasa tak berdaya menghadapi hawa nafsu, amarah, dan syahwat. Pada saat itulah doa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan senjata yang menguatkan jiwa. Karena itu, Islam mengajarkan agar seorang mukmin tidak pernah lelah berdoa, bahkan mengulanginya berkali-kali dengan penuh keyakinan.

Rasulullah SAW bersabda, “Ad-du’a silahul mukmin” (doa adalah senjata orang mukmin). Dalam hadis tersebut, doa juga disebut sebagai tiang agama dan cahaya langit serta bumi. Maknanya, doa menjadi kekuatan yang menopang keimanan sekaligus menerangi hati yang sedang diliputi kegelapan.

Ulama besar Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjadikan hadis ini sebagai pembuka kitab Ad-Da’ wa ad-Dawa’ (Penyakit dan Obatnya). Pesannya jelas, banyak penyakit hati bermula dari jauhnya manusia kepada Allah, dan obat yang paling ampuh adalah kembali mengetuk pintu-Nya melalui doa.

Karena itu, jangan bosan mengulang doa. Ibarat seorang prajurit yang terus menembakkan amunisi hingga musuh melemah, demikian pula seorang mukmin yang terus memohon pertolongan Allah dalam menghadapi bisikan setan. Setan tidak pernah berhenti menyerang melalui celah emosi, ambisi, dan syahwat. Maka, perlawanan pun tidak boleh berhenti.

Namun, kekuatan doa tidak hanya terletak pada banyaknya ucapan, melainkan pada keikhlasan hati. Doa yang dipanjatkan semata-mata mengharap ridha, pertolongan, dan perlindungan Allah akan menjadi senjata yang tajam. Sebaliknya, doa yang dipenuhi riya atau sekadar rutinitas kehilangan daya pengaruhnya terhadap hati.

Bagi siapa pun yang sedang merasa kalah oleh amarah, dikuasai hawa nafsu, atau terlalu mencintai dunia, jangan putus asa. Berdoalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Tidak harus dengan bahasa Arab; berdoa dengan bahasa yang dipahami pun diperbolehkan. Yang terpenting adalah hadirnya hati, ketulusan, dan keyakinan bahwa hanya Allah tempat bergantung.

Teruslah berdoa. Ulangi doa itu setiap hari. Sebab, boleh jadi kemenangan terbesar seorang mukmin bukanlah ketika ia mengalahkan orang lain, melainkan ketika Allah menolongnya mengalahkan dirinya sendiri.*