Tadabbur

Utamakan Urusan Agamamu, Allah Mudahkan Hidupmu

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Qs. Al-Lail ayat 1-7

Minta yang Besar
Setiap kita memiliki urusan di dunia ini. Pada saat tertentu, kita pasti ingin agar urusan kita dimudahkan Allah Azza wa Jalla. Di waktu-waktu seperti ini, pernahkah kita berpikir untuk meminta kemudahan yang lebih besar dibandingkan kemudahan yang kita harapkan? Misal, kita ingin agar urusan bisnis yang telah tertunda sekian waktu akibat birokrasi yang berbelit dimudahkan Allah Azza wa Jalla agar kembali lancar. Maka, cobalah untuk tidak meminta “hanya”untuk urusan yang satu itu.

Namun, mintalah sesuatu yang sangat besar – yang bila dihadapi di depan mata, sungguh membuat urusan kita yang lain, tak ada artinya. Misal, mintalah agar Allah Ta’ala sudah mengampuni dosa kita, saat ajal telah menyesak di tenggorokan. Dan, Allah Ar-Rahiim berkenan untuk menghindarkan kita dari siksa kubur juga neraka. Tentu, hal-hal yang disebutkan tadi adalah hal besar yang membuat siapa pun yang menghadapinya, benar-benar tak akan mempedulikan lagi urusannya di dunia.

Semua akan terlihat kecil dan betapa daruratnya urusan setelah kematian, harus dipersiapkan. Karena, tak seorang pun yang mengetahui kapan dirinya dijemput ajal. Karenanya pula, setiap manusia harus benar-benar fokus pada upayanya untuk meraih ridha Allah Azza wa Jalla. Proses berfokus beribadah inilah yang akan membuat Allah Ta’ala juga memudahkan dan menyempurnakan segala urusan kita.

Mengapa demikian? Karena, pangkal permasalahannya sudah mudah. Sudah selesai. Pangkal permasalahan di dunia ini, sejatinya adalah diri kita sendiri. Dosa yang kita lakukan. Selain itu, bila kita terlalu banyak meminta kemudahan untuk hal-hal dunia, maka fokus kita pada akhirat akan pecah dan di sinilah kita akan merugi.

Sebaliknya, dengan berorientasi akhirat, setiap manusia sudah pasti akan juga menjalani kehidupan dengan mudah. Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kita sebuah doa,

“Allahumma ashlih lii diiniilladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii dun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhirotiillatii fiihaa ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khairin, waj’alil mauta roohatan lii min kulli syarrin.”

Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku. Perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku. Perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Jadikanlah Ya Allah, kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan. (HR. Muslim no. 2720)

Kunci Hidup Mudah
Masing-masing kita memiliki latar belakang yang berbeda, paradigma yang berbeda, dan urusan yang beragam untuk diselesaikan dengan hasil yang terbaik. Namun, Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita di ayat lima dan tujuh surat Al-Lail. Bahwa “… orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.”

Apa pun perkara yang harus diselesaikan, ingatlah bahwa membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala, bertakwa atas segala kondisi yang dihadapi, dan selalu yakin bahwa Allah Ta’ala dan surga-Nya adalah ganjaran paling diharapkan; adalah kunci pembuka jalan hidup yang mudah.

Meski belum terprediksi, seperti apa kemudahan itu akan diberikan. Meski banyak orang bilang harapan itu tidak dapat diukur. Meski banyak manusia yang berpendapat bahwa cara yang kita pilih tidak relevan dengan modernisasi dan mustahil diupayakan. Atau, apa pun. Namun, sungguh, Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan ketulusan dan perjuangan hamba-Nya.

Allah Ta’ala selalu memampukan orang-orang yang berorientasi memberi, sehingga mereka selalu lapang dan bahagia dalam takwa. Di mata Allah Ta’ala, orang selalu berjuang untuk memberi ini bisa rusak agamanya, bila tidak diberi kemudahan dan kelimpahan harta untuk memberi.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah ayat 261).

Setelah seorang yang senantiasa memberi ini mendapat gelar takwa dari Allah Azza Wajalla, maka kebahagiaan selanjutnya adalah dijauhkan darinya dari api neraka.

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seseorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS Al-Lail ayat 17-21)

Inilah alur hidup orang-orang yang selalu mendahulukan urusan yang “besar” (urusan agamanya) dibanding urusan dunianya. Orientasinya selalu pada kemudahan di akhirat yang kekal abadi.

Kemudahan untuk urusan dunianya adalah sesuatu yang sudah dijamin Allah Azza wa Jalla. Sehingga dunia ini benar-benar adalah jalan yang mudah untuk dilaluinya. Tak menjadi beban, apalagi hutang yang diwariskan. Karena, ia selalu fokus untuk mencari ridha Tuhannya, hingga di akhir perjalanan, ia benar-benar merasa puas dengan segala nikmat yang dilimpahkan padanya.*