Tadabbur

Bersama dalam Barisan Kebaikan

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

Bismillahirrahmanirrahim

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

Manusia tidak bisa hidup sendirian. Ia memang diperintahkan untuk senantiasa hidup bersama orang lain demi mewujudkan harmoni dan keselarasan. Begitu pula dalam Islam. Jihad, dakwah, bahkan ibadah rutin pun banyak yang diperintahkan untuk dilaksanakan secara bersama-sama.

Dalam surah Ali Imran ayat 104, Allah Ta’ala berfirman agar ada segolongan atau sekelompok orang di tengah umat yang menyeru kepada kebaikan. Mereka menawarkan, menyampaikan, dan menghadirkan kebenaran dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan kehidupan manusia, baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat.

Kelompok tersebut juga mengemban tugas untuk mengajak manusia melakukan yang ma’ruf sekaligus mencegah kejahatan, kekejian, dan kemungkaran.

Segolongan umat yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah mereka yang sekadar bersama, tetapi tidak bersatu. Mereka adalah orang-orang yang berhimpun karena memiliki tujuan yang sama dan bergerak bersama untuk mewujudkannya. Inilah jamaah kaum Muslimin: bersatu dalam barisan, bukan sekadar berkumpul.

Mereka memiliki tujuan yang sama dalam memperjuangkan perkara-perkara yang membawa maslahat, sesuai dengan syariat Islam serta kebaikan yang dapat diterima oleh akal sehat. Dengan mengikuti teladan Rasulullah SAW dan petunjuk Allah Ta’ala, mereka menjadi orang-orang yang beruntung: orang-orang yang senantiasa mengajak kepada kesalehan serta kemaslahatan agama dan kehidupan dunia.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa mereka adalah kelompok yang mengkhususkan diri untuk menangani tiga tugas utama: menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari kemungkaran.

Tidak mudah menjadi bagian dari orang-orang yang dijanjikan keberuntungan tersebut. Tidak mudah pula menemukan kelompok yang benar-benar istiqamah menjalankan tugas itu.

Lebih banyak orang bersedia bergerak bersama ketika ada keuntungan duniawi yang bisa diperoleh. Bahkan, tidak sedikit yang memilih memisahkan diri karena menganggap proyek menyeru kepada kebaikan, mengajak kepada yang ma’ruf, dan mencegah kemungkaran tidak semenarik proyek-proyek yang dapat menggembungkan isi rekening.

Berjuang mencari nafkah tentu bukanlah amalan yang hina. Namun, kita harus menyadari bahwa apa pun yang kita cari sejatinya berada dalam genggaman Allah Azza wa Jalla. Karena itu, menempatkan Allah sebagai yang pertama dan utama merupakan jalan untuk memperoleh apa yang benar-benar kita butuhkan.

Allah Ta’ala menjanjikan keberuntungan kepada mereka yang menjadikan tiga tugas tersebut sebagai prioritas hidup.

Dalam menjalani kehidupan, kita membutuhkan sandaran agar langkah tetap kokoh menghadapi berbagai dinamika. Kita juga membutuhkan tempat kembali ketika lelah atau terpuruk. Allah-lah sebaik-baik tempat bersandar dan kembali. Dari-Nya datang modal, fasilitas, kesuksesan, bahkan kesempatan untuk bangkit dan memperbaiki diri ketika kita harus belajar lebih banyak dari kehidupan.

 

Sempurna untuk Menyempurnakan

Menjalankan dengan sungguh-sungguh tiga proyek prioritas tersebut sesungguhnya merupakan “sekolah” untuk menyempurnakan diri.

Abu al-Tsana’ Syihabuddin Mahmud al-Alusi (Al-Alusi) berkata, “Allah memerintahkan mereka menyempurnakan orang lain setelah menyempurnakan diri sendiri.”

Inilah salah satu makna penting yang terkandung dalam surah Ali Imran ayat 104. Sebelum berusaha memperbaiki orang lain, seseorang harus terus berikhtiar memperbaiki dirinya sendiri.

Proses penyempurnaan itu tentu tidak mudah. Agar tidak tertinggal, tidak tercerai-berai, dan memperoleh pertolongan Allah Ta’ala, jangan memisahkan diri. Jangan memilih berjalan sendirian karena pada hakikatnya manusia memang tidak mampu menjalani semuanya sendiri.

Karena itulah, keberadaan kelompok umat yang menyeru kepada kebaikan bukan sekadar pelengkap. Keberadaannya merupakan kebutuhan yang sangat penting.

Tiga proyek prioritas dengan satu janji istimewa tersebut membutuhkan satu modal utama: takwa kepada Allah Azza wa Jalla.

Manusia dapat tergelincir ketika harta mengambil tempat yang semestinya hanya diperuntukkan bagi Allah. Ketika uang menjadi tujuan tertinggi, manusia bisa kehilangan orientasi hidup dan justru merasakan sempitnya rezeki.

Karena itu, jika ingin menjadi muflihun—orang-orang yang memperoleh keberuntungan dunia dan akhirat—maka tiga tugas dalam ayat tersebut harus dijalankan: menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Ketiganya juga perlu berjalan secara berurutan.

Pertama, yad’una ilal khair, yakni proyek menyeru dan menawarkan kebaikan. Pada tahap ini, yang dibangun adalah kesadaran dan visi tentang kebaikan.

Kedua, ya’muruna bil ma’ruf, yakni proyek menegakkan nilai-nilai kebaikan. Di dalamnya terdapat ibadah, akhlak, amanah, keadilan, serta kinerja yang dilakukan secara paripurna. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata karena sebuah nilai dapat berhenti menjadi sekadar wacana apabila tidak dipraktikkan.

Ketiga, yanhauna ‘anil munkar, yakni mencegah kerusakan sebelum semakin meluas. Kebaikan diperintahkan dengan cara yang baik. Kemungkaran pun dicegah tanpa melahirkan kemungkaran yang lebih besar.

Ketiga hal tersebut merupakan rangkaian yang saling melengkapi. Jika urutannya diabaikan, proyek dakwah—bahkan berbagai ikhtiar dalam kehidupan—dapat kehilangan efektivitasnya.

Orang yang terus-menerus melarang bisa jadi hanya akan ditakuti, tetapi tidak diikuti. Sebaliknya, orang yang terus mengajak dan menyuruh tanpa mampu mencegah keburukan mungkin akan disukai, tetapi tidak mampu melakukan banyak perubahan.

Karena itu, ketiganya harus berjalan secara utuh dan proporsional: mengajak kepada kebaikan, menegakkan yang ma’ruf, lalu mencegah kemungkaran.

Orang-orang yang disebut beruntung dalam ayat ini bukan sekadar memperoleh keberuntungan biasa. Menurut Al-Alusi, mereka akan mendapatkan keberuntungan yang sempurna.

Sebuah keberuntungan yang diraih melalui proses penyempurnaan diri, lalu diteruskan dengan ikhtiar menyempurnakan kehidupan bersama.*