Meniti Jalan Hidayah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)”. Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.”(QS. Al-An’am ayat 90).
Ayat ini ditujukan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meniti jalan hidayah para nabi dan rasul sebelumnya. Apalah lagi kita yang baru hadir hari ini, di atas muka bumi. Kita ini adalah pendatang baru; dibandingkan orang-orang shaleh, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para nabi dan rasul Allah Ta’ala terdahulu.
Sebagai pendatang baru yang tidak ingin banyak salah dan tidak ingin tersesat, tentu sangat penting untuk merujuk pada apa yang dilakukan oleh para pendahulu. Oleh karena itu, orang-orang yang berilmu, tidak pernah lupa untuk menengok terlebih dahulu pada referensi apa yang digunakan dan dilakukan oleh para salafus shalih (pendahulu).
Bahkan dalam ayat di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibimbing langsung oleh Allah Azza wa Jalla pun diperintahkan untuk melihat, petunjuk apa yang telah diberikan oleh para Rasul sebelumnya. Seperti yang diabadikan di dalam surat Al-An’am ayat 83:
“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.”
Teladan Tertinggi
Untuk menghadapi kaum penentang, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam diperintahkan untuk belajar kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam. Dari level yang paling tinggi sampai level yang paling rendah. Kita sendiri butuh role model untuk menjalani hidup ini. Dan, para nabi dan rasul Allah adalah role model yang paling tinggi dari sudut analisa apa pun. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah Ta’ala. Allah yang memilih mereka dengan segala keutamaan yang mereka miliki.
Kita menyekolahkan bahkan menguliahkan anak-anak tak lain untuk mencapai tujuan tertinggi dari sebuah ilmu. Yaitu untuk diamalkan sehingga semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan taat kepada-Nya. Hingga kelak menjadi pribadi-pribadi yang memiliki integritas tinggi dan akhlak yang baik. Oleh karena itu, sangat penting untuk membangun kedekatan antara anak-anak kita dengan sejarah dan teladan para nabi dan Rasul. Terutama, pribadi Rasulullah saw dan teladan yang diwariskannya. Jangankan anak-anak dan generasi muda, kita sendiri pun akan sangat sulit melaksanakan sebuah kebaikan; jika tidak tahu, seperti apa kebaikan itu haris dilakukan dan dengan standar apa kebaikan itu bisa dikatakan sebagai bagian dari ibadah.
Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al Imran ayat 31,
“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Kita Hari Ini
Hari ini, kondisi yang paling memprihatinkan terjadi pada bangsa ini. Elitnya korupsi dan masyarakat jelatanya berjudi. Uang judi online yang dipertaruhkan oleh rakyat jelata ini sangat besar, trilyunan jumlahnya. Uang sebegitu besarnya melayang sia-sia. Semakin miskin si rakyat yang terjerat judi dan bandar judi platform yang menadahinya semakin kaya raya.
Ironisnya, di balik judi online yang sebagian besar pelakunya bertaruh 100 ribu ke bawah itu; ada pejabat, ada petinggi-petinggi yang justru menjadi backing-nya. Mereka menikmati trilyunan uang gelap itu. Sementara yang terjerat adalah rakyat kecil yang bermimpi memiliki sedikit uang demi menyambung kehidupan. Walau mereka tahu, caranya haram. Belum lagi jerat pinjaman online yang ironisnya, sebagian besar penggunanya adalah guru-guru honorer. Ini semua tentu menjadi contoh buruk bagi bangsa ini. Menjadi gambaran buruk yang sama sekali tidak boleh mengimbas kepada generasi muda kita.
Jika ingin menjadi orang sukses dunia dan akhirat, maka tidak ada jejak yang lebih pantas kita ikuti selain jejak kehidupan nabi dan rasul Allah. Terutama jejak Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadikanlah sebagai standar kehidupan.
Memiliki seorang nabi dan rasul adalah karunia tersendiri bagi kita. Akan sangat sulit membedakan hitam dan putih dalam kehidupan, tanpa adanya petunjuk dan contoh dari nabi dan rasul Allah Azza wa Jalla. Akan sangat sulit untuk tidak terjerembab dalam jurang kehinaan hawa nafsu, jika tidak ada petunjuk dan bimbingan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Dunia ini tipuan, banyak orang yang tidak mengerti hakikat kesuksesan yang sesungguhnya. Hingga yang terdeskripsi di dalam hati hanyalah melulu harta dan jabatan. Padahal, sungguh semua itu akan lenyap. Yang kekal adalah kehidupan kita di akhirat nanti, yang ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. Dan, sejatinya, dunia dihadapan seorang yang berorientasi akhirat, hanyalah pengemis yang memperbudak diri kepadanya.
Bagaimana menjadi orang yang bisa mengikuti jalan hidayah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan salafus shalih? Yang pertama, perhatikan shalat kita. Perbaikilah dan shalatlah sebagaimana Rasulullah Muhammad saw shalat. Yang kedua, shaumlah seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah dan puasanya Daud Alaihissalam. Perhatikan pula zikir dan sabarnya kita dalam beribadah. Apakah sudah seperti Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berdiri hingga kaki-kakinya bengkak untuk menyampaikan rasa syukur atas karunia Allah Ta’ala. Juga untuk ibadah lainnya.
Semoga Allah mampukan kita untuk senantiasa menjadi orang-orang yang menjadikan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para nabi dan rasul Allah, serta orang-orang shaleh; sebagai suluh penerang jalan hidup. Melakukan kembali peri kehidupan mereka, baik yang kita sukai maupun tidak, sebagai tuntunan.*
