Makna Hasanah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Surat Al-Baqarah [2]: 201).
Dalam tafsir Fi zhilal al-Qur`an karangan Sayyid Quthub, dijelaskan bahwa dalam ayat ini dan ayat sebelumnya disebutkan bahwa ada dua golongan manusia. Pertama, golongan yang obsesinya adalah dunia, sangat mementingkan kehidupan dunia dan sibuk dengan segala urusan dunia.
Dulu ada segolongan orang Arab yang datang ke tempat wukuf pada waktu ibadah haji, dan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah tahun ini sebagai tahun turunnya hujan, tahun kesuburan dan tahun kelahiran anak-anak yang bagus, sedikitpun mereka tidak menyebutkan urusan akhirat dalam doa mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun mengenai golongan manusia ini, tetapi petunjuk ayat ini berlaku umum dan abadi.
Contoh manusia golongan ini selalu ada dan berulang di setiap generasi dan semua tempat, yaitu contoh manusia yang obsesinya hanyalah dunia semata. Bahkan ketika berdoa meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mereka ingat hanyalah urusan dunia karena dunialah yang selalu menyibukkannya, mengisi kekosongan jiwanya, meliputi alam kehidupannya dan menutup hatinya dari selainnya. Mereka itu ada kalanya diberi bagiannya di dunia oleh Allah Ta’ala –kalau dia mentakdirkan untuk memberinya- dan mereka tidak akan mendapatkan bagian sedikitpun di akhirat kelak.
Kedua, adalah golongan yang lebih luas cakrawala pandangannya dan lebih besar jiwanya karena selalu berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala menginginkan kebaikan di dunia dan di akhirat, karena itulah mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.
Mereka meminta kebaikan untuk di dunia dan di akhirat. Mereka tidak membatasi jenis kebaikan itu, tetapi mereka menyerahkan pemilihannya kepada Allah Ta’ala. Allah pun memilihkan bagi mereka apa yang menurut-Nya baik bagi mereka, dan mereka pun ridha atas pilihan itu. Mereka itu dijamin akan mendapatkan bagiannya tanpa dilambat-lambatkan karena Allah itu sangat cepat perhitungan-Nya.
Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa doa ini meliputi semua kebaikan di dunia dan menjauhkan segala keburukan. Kebaikan di dunia itu mencakup semua permintaan yang bersifat duniawi, berupa kesehatan, rumah yang lapang, istri yang shaliha, rezeki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal sholeh, kendaraan yang nyaman, pujian dan lain-lain yang tercakup dalam ungkapan para ahli tafsir, dan tidak ada pertentangan di antara semua itu karena semua itu termasuk ke dalam bentuk kebaikan dunia.
Sedangkan tentang kebaikan di akhirat, maka yang tertinggi adalah masuk surga dan seluruh cakupannya yang berupa rasa aman dari ketakutan yang sangat di pelataran kiamat, kemudahan hisab dan berbagai kebaikan urusan akhirat lainnya. Adapun keselamatan dari api neraka berarti kemudahan melakukan faktor-faktor penyebabnya di dunia berupa menjauhi larangan, perbuatan dosa dan terhindar dari berbagai perkara syubhat dan hal yang haram.
Al-Qasim bin Abdurrahman berkata, “Barangsiapa yang dianugerahi hati yang selalu bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan diri yang sabar berarti ia telah dianugerahi kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan dipelihara dari siksa neraka.”
Oleh karena itu, sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan untuk memperbanyak doa ini. Dalam hadits disebutkan:
عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Anas ra. berkata, “Doa Nabi SAW yang paling banyak adalah, “Ya Allah Tuhan kami, anegerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan selamatkanlah kami dari siksa neraka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, ini lafaz Bukhari).
Dalam tafsirnya, al-Sa’di menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang keadaan manusia, dimana semuanya meminta kepada Allah apa yang diinginkannya dan meminta dijauhkan dari segala yang membahayakannya, tetapi ada tujuan dan permintaan mereka itu berbeda-beda. Sebagian hanya meminta keinginan-keinginan duniawi yang merupakan tuntutan syahwat mereka, sedangkan mereka tidak mendapatkan bagian di akhirat karena mereka tidak menginginkannya dan obsesi mereka hanya sebatas dunia saja.
Sedangkan sebagian lagi memohon kepada Allah Ta’ala demi untuk kebaikannya di dunia dan di akhirat dan selalu berharap pertolongan Allah dalam kepentingan agama dan dunianya.
Setiap golongan akan mendapatkan bagiannya sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan Allah akan membalas mereka sesuai dengan amal perbuatan dan niat mereka. Yaitu berupa balasan yang adil dan tambahan karunia. Dalam ayat ini ada dalil bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan semua permintaan orang yang berdoa, baik ia muslim, kafir atau pun fasiq, tetapi dikabulkannya doa orang yang meminta itu tidak menjadi dalil bahwa Allah mencintainya dan dekat dengannya kecuali dalam masalah untuk kehidupan akhirat dan urusan agama.
Utamakan Akhirat
Al-Sa’di melanjutkan bahwa yang dimaksud dengan kebaikan di dunia adalah segala sesuat yang dianggap baik oleh seorang hamba, berupa rezeki yang baik, luas dan halal, istri yang sholehah, anak yang menyejukan mata, ketenangan, ilmu yang bermanfaat, amal sholeh dan lain-lain yang diinginkan dan dibolehkan. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah keselamatan dari siksa di dalam kubur, di hari dikumpulkannya semua manusia dan selamat dari siksa neraka, mendapatkan ridha Allah mendapatkan surga yang kekal dan berada dekat dengan Allah Ta’ala. Sehingga doa ini menjadi doa yang paling lengkap dan sempurna serta paling dianjurkan karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak berdoa dengan doa ini dan menganjurkannya.
Tetapi, dalam masalah kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat ini, al-Qur`an menjelaskan bahwa sebagai orang beriman kita seharusnya menjadikan kebaikan duniawi yang dianugerahkan Allah Ta’ala sebagai sarana dan alat untuk mencapai kebaikan akhirat yang abadi. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّـهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.” (Surat Al-Qashash [28]: 77).
Kebaikan dunia yang kita dapat haruslah tidak bertentangan dengan kebaikan akhirat yang lebih kita harapkan, dan jangan sampai kebaikan dunia yang kita dapatkan itu malah menjerumuskan kita ke dalam siksaan neraka. Karena kebaikan yang sesungguhnya adalah dipelihara dari siksaan neraka dan dimasukkan ke dalam surga dengan kenikmatan yang kekal abadi:
فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Surat Ali ‘Imran [3]: 185).
Bahkan dalam banyak ayat lain banyak disebutkan keutamaan memilih kehidupan akhirat dibandingkan hanya memilih kehidupan dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَّن كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا ﴿١٨﴾ وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَـٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا ﴿١٩
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (Surat Al-Isra` [17]: 18-19).
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan:
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Surat Al-Syuraa [42]: 20).
Hal itu karena kehidupan dunia ini sungguh sangat kecil dan sedikit sekali dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Allah Ta’ala berfirman:
أَرَضِيتُم بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
“Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (Surat Al-Taubah [9]: 38).
اللَّـهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (Surat Al-Ra’d [13]: 26).
Dan dalam banyak hadits, Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan betapa kecil dan sedikitnya nilai kehidupan dunia ini dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ أَنّ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم مَرّ بِالسّوقِ، دَاخِلاً مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ، وَالنّاسُ كَنَفَيْهِ. فَمَرّ بِجَدْيٍ أَسَكّ مَيّتٍ. فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَدَ بِأُذُنِهِ. ثُمّ قَالَ: “أَيّكُمْ يُحِبّ أَنّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟” فَقَالُوا: مَا نُحِبّ أَنّهُ لَنَا بِشَيْءٍ. وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: أَتُحِبّونَ أَنّهُ لَكُمْ؟” قَالُوا: وَاللّهِ لَوْ كَانَ حَيّا، كَانَ عَيْباً فِيهِ، لأَنّهُ أَسَكّ. فَكَيْفَ وَهُوَ مَيّتٌ؟ فَقَالَ: “فَوَاللّهِ لَلدّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللّهِ، مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa pernah suatu ketika Rasulullah SAW lewat di sebuah pasar sementara orang-orang berada di sekitarnya, beliau melewati bangkai seekor anak kambing yang cacat telinganya. Beliau memegang telinga bangkai hewan tersebut, lalu berkata: Siapa di antara kalian ingin memiliki bangkai anak kambing ini dengan membayar satu dirham?” Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya walau dengan membayar sedikit, karena apa yang akan kami perbuat dengannya?” Rasulullah SAW lalu berkata lagi: apakah kalian suka jika bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian? Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya pun hewan ini masih hidup, ia cacat, telinganya kecil, apatah lagi ia sudah menjadi bangkai!” Rasulullah SAW lalu bersabda, “Maka demi Allah, sungguh dunia ini lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.” (Riwayat Muslim).
عن الْمُسْتَوْرِدِ بن شَدَّادٍ رضى الله عنه قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ أُصْبُعَهُ فِي الْيَمِّ ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ
Dari al-Mustaurid bin Syaddad ra. Ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: “Tidaklah dunia ini dibandingkan dengan akhirat kecuali seperti jari salah seorang di antara kalian yang dicelupkan ke dalam air laut lalu ditarik kembali. Lihatlah betapa sedikit air yang menempel di jari itu.” (Riwayat Muslim).
عن سهل بن سعد الساعدى قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
Dari Sahl bin Sa’d al-Sa’idi ra. Ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Kalau dunia itu sebanding dengan sayap nyamuk di sisi Allah SWT, pasti Allah tidak akan memberi minum seteguk air minum pun untuk orang kafir.” (Riwayat Bukhari).
Kesenangan di dunia ini, jika tidak untuk mendapatkan kebaikan di akhirat dan dipeliharanya seseorang dari neraka, maka ia hanya menjadi kesenangan yang memperdayakan yang membuat manusia tidak pernah puas kecuali jika sudah menghadapi kematian.
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّـهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Surat Al-Hadid [57]: 20).
Wallahu a’lam bish shawab.*