Ketika Allah Menguji Apa yang Paling Kita Cintai

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
ADA kalanya Allah SWT menguji manusia bukan dengan sesuatu yang dibencinya, melainkan justru melalui sesuatu yang paling dicintainya. Pada titik itulah keimanan menemukan pembuktiannya: siapa yang sesungguhnya paling utama di dalam hati?
Perjalanan Nabi Ibrahim AS bersama putranya, Ismail AS, memberikan pelajaran mendalam tentang perkara tersebut. Dalam penantian panjang akan hadirnya penerus risalah tauhid, Ibrahim memanjatkan doa yang diabadikan Allah SWT dalam Alquran:
Rabbi hab li minash-shalihin. “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh.” (QS As-Saffat: 100).
Allah mengabulkan doa itu. Ibrahim mendapat kabar gembira tentang kelahiran seorang anak yang halim, penyantun dan berhati lembut. Hadirlah Ismail sebagai buah dari doa, penantian, sekaligus harapan seorang ayah.
Namun, terkabulnya doa ternyata bukan akhir perjalanan iman. Justru setelah nikmat itu hadir, datang ujian yang jauh lebih berat.
Allah tidak menguji Ibrahim ketika Ismail masih bayi. Ujian itu datang ketika Ismail telah tumbuh dan mencapai usia ketika ia mampu berusaha bersama ayahnya. Alquran menggambarkannya dengan ungkapan, falamma balagha ma’ahus-sa’ya.
Inilah fase ketika seorang ayah semestinya sedang menikmati buah penantiannya. Anak yang dahulu hanya berada dalam doa kini telah tumbuh menjadi teman perjalanan. Ia bisa diajak bekerja, berbicara, dan menjadi tempat menggantungkan harapan masa depan.
Pada saat cinta itu sedang tumbuh begitu kuat, Ibrahim menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya. Betapa berat ujian tersebut. Ibrahim seperti sedang dihadapkan pada pertanyaan paling mendasar dalam tauhid: ketika cinta kepada makhluk berhadapan dengan ketaatan kepada Sang Khalik, manakah yang akan ditempatkan paling tinggi?
Jawabannya tampak pada satu ungkapan Alquran yang singkat, tetapi amat dalam: falamma aslama—ketika keduanya telah berserah diri.
Bukan hanya Ibrahim yang berserah. Ismail pun menunjukkan kepasrahan yang sama. Ayah dan anak itu bertemu dalam satu titik: ketaatan kepada Allah SWT.
Pada akhirnya, Allah tidak membiarkan Ismail disembelih. Allah menggantikannya dengan sembelihan yang besar.
Wa fadainahu bidzibhin ‘azhim. “Kami menebusnya dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS As-Saffat: 107).
Di sinilah kita memahami bahwa yang hendak diuji bukanlah darah Ismail. Yang sedang diuji adalah hati Ibrahim. Apakah di dalam hati seorang hamba masih ada sesuatu yang lebih dicintai daripada Allah?
Ibrahim membuktikan ketulusan itu. Allah kemudian mengabadikan pujian kepadanya: Kadzalika najzil-muhsinin—demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Salam untuk Ibrahim diabadikan sepanjang zaman. Keberkahan dilimpahkan kepadanya. Setelah Ismail, Allah juga menyampaikan kabar gembira tentang Ishaq AS, seorang nabi dari kalangan orang-orang saleh.
Kisah ini meninggalkan pelajaran penting bagi kehidupan kita. Setiap manusia memiliki “Ismail” dalam kehidupannya. Tentu bukan untuk disembelih secara harfiah, melainkan sesuatu yang sangat melekat di hati. Ia bisa berupa anak, keluarga, harta, jabatan, usaha, popularitas, cita-cita, atau pencapaian yang diperjuangkan bertahun-tahun.
Semua itu boleh dicintai. Namun, jangan sampai kecintaan kepada titipan mengalahkan cinta dan ketaatan kepada Pemilik titipan.
Sebab, terkadang Allah menguji justru melalui sesuatu yang paling kita sayangi. Bukan karena Allah hendak mengambil kebahagiaan kita, tetapi untuk menunjukkan apakah hati kita masih sepenuhnya bersandar kepada-Nya.
Ibrahim mengajarkan bahwa kepasrahan bukan berarti kehilangan cinta. Ia tetap mencintai Ismail. Namun, cintanya kepada anak tidak menggeser kedudukan Allah di dalam hatinya.
Barangkali itulah salah satu makna pengorbanan yang paling dalam: keberanian menempatkan Allah di atas segala yang kita cintai.
Sebab, ketika seorang hamba mampu berkata dalam hatinya, “Semua ini milik-Mu, ya Allah,” saat itulah kepemilikan berubah menjadi keberkahan, cinta berubah menjadi ibadah, dan ujian menjadi jalan menuju derajat ihsan.
Kita mungkin tidak pernah menghadapi ujian seperti Ibrahim. Namun, pertanyaannya tetap sama sepanjang zaman: ketika Allah menguji sesuatu yang paling kita cintai, masihkah Allah menjadi yang paling utama di hati kita?*