KSP

Rahasia Allah Menurunkan Adam Alaihisallam ke Bumi

Oleh KH Bachtiar Nasir

Mengenai konsep bahagia, intinya adalah dalam keadaan bagaimanapun, kita harusnya tetap berbahagia.

Berikut pelajaran yang bisa kita ambil dari kitab Miftahul Daruss’adah karya Ibnu Qayyim, atau Kitab Kunci Kebahagiaan.

Sesungguhnya Allah Subhana Wa Ta’ala ketika menurunkan Adam dari surga, semua itu karena hikmah-hikmah yang akal tidak mampu menjangkaunya dan lisan tidak sanggup menggambarkannya, karena turunnya Adam Alaihisallam dari surga merupakan esensi kesempurnaan-Nya agar dia kembali ke surga dalam kondisi yang paling sempurna (terbaik).

Allah Subhana Wa Ta’ala menghendaki agar Adam dan keturunannya merasakan pahitnya kehidupan dunia, kesedihan dengan segala kesusahannya, keresahan, dan kesulitan di dalamnya, yang semua itu supaya menjadi jelas standar masuknya mereka ke surga di akhirat kelak.

Dan sesuatu itu akan akan tampak indah karena ada lawannya. Seandainya mereka hidup terus di negeri kenikmatan (surga), maka mereka tidak akan dapat mengetahui nilai dan hakikat kenikmatan tersebut (surga).

Itulah narasi awal dari Ibnul Qayyim Al-Jauziah tentang cara Allah mendidik kita menjadi orang berbahagia.

Dari narasi di atas, di awal beliau menggambarkan tentang Allah menurunkan Adam Alaihisallam yang tidak bisa dijangkau oleh akal dan lisan pun tidak dapat berkata-kata untuk memahaminya.

Poinnya adalah, Adam Alaihisallam dan Hawa diturunkan ke dunia agar bisa merasakan sulitnya kehidupan dunia.

Bandingkan, di surga kalau lapar tinggal makan, di dunia manusia harus mencari dulu sesuatu untuk dimakan. Di surga kalau habis makan rasanya begitu saja, di dunia sehabis makan manusia bisa merasakan mulas, dan hal tak nyaman lainnya. Di surga segala sesuatu tidak terbatas, di dunia serba terbatas.

Di surga semuanya baik, di dunia ada yang jahat.

Itu semua adalah cara Allah mendidik kita semua.

Pada narasi awal ada prinsip penting agama Islam, bahwa semua kejadian Allah tentukan atas dasar hikmah meskipun hal itu kadang melampaui akal manusia.

Penurunan Adam Alaihisallam dari surga bukan hukuman murni melainkan dari rencana kesempurnaan manusia.

Poin Penting tentang Teologi

Dari narasi-narasi di atas, ada poin penting tentang teologi:

Tentang ikhbat diturunkannya Adam Alaihisallam dari surga ke dunia. Ini bukan degradasi hakiki, bukan karena Allah marah, murka, benci, dendam kepada Adam dan hawa. Ini adalah proses tahapan pendidikan (tarbiyah) ruhani pada manusia.

Ikhbat artinya ketertundukan hati yang tulus, berserah diri, dan patuh kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.

Bayangkan, misal orang tua mendidik anak dengan mengikuti semua kemauannya, kelak jika dewasa akan tumbuh menjadi monster bagi orangtuanya. Makanya anak yang dibesarkan dengan segala macam kemudahan akan menjadi manusia lembek dan lemah, gampang putus asa, bukan manusia tangguh.

Inilah yang membantah pendapat fatalistik (pandangan atau sikap hidup yang meyakini bahwa segala sesuatu, termasuk nasib dan masa depan, sudah ditentukan oleh takdir dan tidak dapat diubah oleh usaha manusia, sehingga individu cenderung pasrah, menerima, dan merasa tidak berdaya) atau pesimistis, tentang dosa Adam Alaihisallam.

Karenanya kejatuhan bukanlah akhir tetapi bagian dari perjalanan kemuliaan yang lebih utuh.

Jadi kalau sekarang kita sedang diuji dengan kesulitan, kesedihan, jangan kecewa. Berbahagialah, karena ini adalah proses menuju kesempurnaan.

Ada kalimat kunci, sesuatu tampak indah karena ada lawannya. Diturunkannya Adam Alaihisallam membuat ada perbandingan atau pengalaman kontras. Ketika di surga semua indah, begitu turun ke dunia tidak demikian. Surga terasa indah jika dibandingkan dengan kehidupan di dunia saat Adam sudah turun ke bumi.

Kalau begitu, dunia bagi orang-orang beriman berfungsi sebagai ruang perbandingan ekstensial, karena dunia bukanlah tujuan akhir. Dunia adalah laboratorium makna, tempat manusia memahami hakikat makna dengan kesadaran penuh. Itulah dunia.

Tanpa dunia, surga hanya akan menjadi kenikmatan pasif.

Hikmah Turunnya Adam Alaihisallam ke Bumi

Ada analisis ruhani yang bagus dengan kejadian turunnya Adam Alaihisallam: kepayahan dunia adalah sarana pembentukan jiwa, bukan sekadar ujian eksternal. Dampak ruhani dari pengalaman dunia akan akan melahirkan kerinduan yang autentik pada surga, akan menumbuhkan rasa syukur yang sadar, bukan naluriah, membentuk manusia yang mengerti makna kembali, bukan sekadar ada di dunia ini. Dia kan kembali ke nikmat yang lebih tinggi.

Manusia yang kembali ke surga setelah dunia adalah orang-orang yang kembali dengan kesadaran, bukan dengan kepolosan awalnya. Mereka kembali dengan pengalaman memilih Allah, bukan sekadar hidup dalam nikmat.

Ayat 38 Surah Al-Baqarah:

قُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ مِنْهَا جَمِيعًا

Kami berfirman, “Turunlah kamu semua dari surga!”

Kalimat itu seperti kalimat terpola dari Al-Qur’an yang memiliki makna besar. Polanya adalah bahwa ujian mendahului kemuliaan, bahwa perjuangan mendahulukan pertemuan.

Jadi jika mengalami kejatuhan, ingatlah prinsipnya:

1. Jangan memandang kegagalan sebagai kelemahan. Bisa jadi kegagalan sarana pemurnian dan peningkatan derajat.

2. Dunia bukan tempat pembalasan, tetapi tempat pemaknaan semuanya. Keadilan final dan kenikmatan hakiki ada kelak di akhirat.

3. Sabar dan syukur tidak lahir dari teori, tetapi buah dari pengalaman. Dan dunia adalah sekolah pengalaman itu. Maka diturunkannya Adam Alaihisallam adalah awal perjalanan manusia, bukan tragedi. Dunia adalah jalan pulang, bukan rumah abadi. Surga yang dijanjikan bukan sekadar tempat nikmat, tetapi kembali dengan martabat dan kesadaran cinta yang utuh kepada Allah.