Orang-orang yang Tinggi Derajatnya

Oleh KH Bachtiar Nasir
بسم الله الرحمن الرحيم
Manakah yang lebih tinggi derajatnya, antara mereka yang memiliki nafsu lawwamah, dan nafsu muthmainnah?
Apa yang diperoleh oleh orang-orang yang jiwanya tenang, itu lebih tinggi dari pada seorang mujahid yang masih melawan hawa nafsu dirinya sendiri.
Meskipun orang yang bermujahadah itu lebih banyak amalnya, tetapi orang yang sudah tenang jiwanya lebih tinggi derajatnya. Hal itu karena keutamaan kesempurnaannya terletak pada kedudukan hati di sisi Allah, bukan pada banyaknya amal.
Maka, bisa saja seseorang sahabat Nabi yang sedikit amalnya, itu lebih utama dibanding orang lain yang banyak amalnya, yang lebih banyak bacaan Qur’an-nya. Tetapi keimanan para sahabat Nabi tersebut mantab dan lebih hebat dibandingkan mereka yang masih bekerja keras memperbanyak amalnya dan berjuang antara dunia dan akhirat.
Kita lihat bagaimana kedudukan hati manusia di sisi Allah, tergantung pada kemantapan dan kuatnya keimanan kepada Allah.
Di antara para sahabat Nabi, yang utama adalah para sahabat yang berada di garis depan yang keimanannya tidak diragukan lagi.
Contohnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq yang telah Allah pilih sebagai orang ring satu-nya Rasulullah. Keimanannya, pengorbanannya, kesetiaan kepada Rasulullah, dan amalnya tidak ada yang menyamainya.
Begitu pula para istri beliau shalallahu alaihi wasallam, para ummahatul mukminin yang tidak diragukan keimanannya.
Karenanya tingkatan tertinggi adalah mereka yang sudah pada level muthmainnah. Bukan orang-orang yang masih berjuang melawan hawa nafsunya sendiri, antara dunia dan akhirat.
Berbeda dengan mereka yang hatinya sudah mantap, tenang, menikmati shalatnya meskipun panjang raka’at dan bacaannya. Mereka yang masih berjuang melawan hawa nafsunya, masih memikirkan dunia juga.
Tentu setiap orang harus terus berjuang melawan hawa nafsunya.(*)