KSP

Tiga Keadaan Hawa Nafsu

Oleh KH Bachtiar Nasir

Manakah yang lebih tinggi derajatnya pada dua keadaan: pertama, orang yang berjuang meninggalkan dosa karena takut dan mengagungkan Allah, atau kedua orang yang telah mati perasaan nikmatnya dosa dan merasakan manisnya mengingat Allah

Jawabannya, tentu yang kedua lebih tinggi dan sempurna.

Orang yang sedang berjuang melawan hawa nafsu kedudukannya di bawah orang-orang yang kedua, tetapi tetap mendapatkan penghargaan dari sisi Allah.

Bukankah pahala orang yang berjuang melawan hawa nafsu dan meninggalkan kenikmatan, kedudukannya lebih besar dibandingkan orang yang tidak merasakan nikmatnya dosa lagi?

Jawabannya, balasan seorang mujahid hawa nafsu adalah ridho Allah dan limpahan pahala-Nya juga besar.

Akan tetapi jenis manusia yang tidak merasakan lagi dorongan maksiat, maka kenikmatan lebih utama dari golongan pertama, sebab mereka telah berpindah kepada ketaatan beribadah, kelezatan taat kepada Allah, dan ketenangan jiwa.

Dari sinilah lahir beberapa tingkatan dari orang-orang yang masih menahan diri dan orang yang telah sampai pada derajat orang-orang yang mendalami ilmunya dan sempurna imannya.

Jiwa memiliki tiga keadaan, atau macam-macam nafsu:

1. Nafsu Ammarah bi-su’, yakni jiwa yang memerintahkan pemiliknya berbuat dosa.

Gambarannya, seperti seseorang yang masih dalam perjalanan. Hatinya belum tenang, langkahnya masih terputus-putus karena belum sampai tujuan.

2. Nafsu Lawwamah, yaitu jiwa yang mencela dirinya sendiri, karena ia telah melakukan dosa, baik dosa besar, dosa kecil.

3. Nafsu Muthmainnah, jiwa yang kembali dan ridho kepada -Nya, jiwa yang tenang. Inilah jiwa yang diberikan kepada orang berjihad di jalan Allah. Ia telah sampai derajat al-muthmainah di sisi Allah.

Nafsu muthmainnah memiliki karakter tawakal, suka beribadah (menghamba dengan penuh keikhlasan), suka bersyukur, ridha dengan segala ketetapan Allah, dan takut kepada-Nya.

Ibnu Qayyim menggambarkan pemilik nafsu Muthmainnah seperti seseorang yang mengendarai kendaraannya sampai tujuan dengan selamat.

Antara orang-orang yang memiliki nafsu ammarah bi-su’, lawwamah, dan Muthmainnah, perbedaannya adalah pahala tujuan akhir dan pahala jalan wasilah.

Adapun kelompok pertama, mendapat pahala jalan atau prosesnya.

Apa yang diperoleh oleh jiwa yang tenang, tentu lebih tinggi daripada seorang mujahid yang sedang berjuang melawan hawa nafsunya. Walaupun Mujahid lebih banyak amalnya, tetapi amal jiwa yang tenang lebih telah mencapai tinggi derajatnya, lebih agung dan lebih mulia nilainya.

Keutamaan berpulang bukan semata pada banyaknya amal, tetapi kesempurnaan keadaan jiwa dan kedekatannya dengan Allah.

Tingkatan pertama adalah Muthmainnah, dan kedua adalah mujahadah yang masih berjuang melawan hawa nafsunya.*

Exit mobile version