Mari Mendetoks Digital Jiwa Kita.

Oleh KH Bachtiar Nasir
Jika puasa menahan lapar dan haus, sudah kita ketahui. Mungkin banyak yang belum paham, bahwa saat puasa juga perlu digital detoks dari syahwat visual. Ini tentang puasa mata dan menajamkan fokus perhatian.
Beberapa dekade lalu godaan puasa tidak sehebat seperti sekarang karena serbuan media digital belum membombardir seperti sekarang ini.
Serbuan banjir informasi dari screen (layar) HP di tangan kita, menimbulkan krisis yang tidak terlihat. Misalnya pada anak-anak, kelihatannya mereka baik-baik saja. Tetapi penelitian tentang kesehatan mental mereka, sungguh mengejutkan.
Riset menunjukkan penggunaan gadget berlebihan pada anak meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, perilaku agresif, sulit berkonsentrasi, dan adiksi. Paparan layar yang tinggi menyebabkan gangguan tidur dan emosi, memicu rasa kesepian, serta menghambat perkembangan sosial. Anak yang sering bermain HP lebih berisiko mengalami masalah perilaku, seperti mudah marah, kurang sabar, dan memiliki kemampuan pengendalian diri yang rendah.
Krisis fokus
Jika abad pertengahan mengalami krisis kelaparan, maka dunia modern ini krisis fokus. Handphone begitu mudah didapat. Rata-rata setiap hari orang memeriksa isi HP bisa sampai ratusan kali.
Waktu layar (men-screening HP) global meningkat drastis dalam satu dekade. Ini bisa menambah racun dopamine.
Dopamine adalah neurotransmitter dan hormon penting di otak yang dikenal sebagai “hormon bahagia” yang memicu rasa senang dan puas karena adanya penghargaan (reward) bagi otak.
Dorongan-dorongan digital terjadi tanpa jeda, tanpa berpikir. Kita tidak lagi lapar makanan, tetapi merasa miskin stimulasi jika tidak membuka HP untuk mengikuti kabar berita.
Kalau dulu orang-orang saat puasa sudah tadarus, sudah shalat, lalu melakukan pekerjaan atau hal lainnya yang bermanfaat, misal mengurus tanaman. Sekarang, orang-orang beralih ke handphone, seperti ada kelaparan stimulasi.
Jadi sekarang lapar makanan bisa berpindah ke lapar stimulasi. Karenanya banyak orang makan sambil melihat screen HP karena merasa butuh informasi, padahal tidak penting.
Lapar stimulasi ini lebih berbahaya daripada lapar fisik, karena bisa menenggelamkan kemampuan tersembunyi. Kita jadi malas, kurang tidur, berpikiran macam-macam. Misal kita sedang tilawah, bisa saja tergoda membuka layar HP, lalu mengikuti keinginan itu. Selalu merasa kecanduan membuka handphone.
Dalam banyak hal ini mengganggu, juga kesadaran moral terganggu. Di sinilah puasa menata kembali diri kita menjadi diri sendiri sejati.
Krisis yang tidak terlihat versi orang awam
Krisis besar manusia sekarang adalah banyaknya waktu untuk melihat layar HP, melihat reels berganti-ganti sekian lama, membaca berita yang tak perlu. Itu semua adalah dopamine, rasa bahagia dan reward bagi otak.
Dopamine seperti hadiah kecil untuk otak yang membuat kita senang. Contohnya jika melihat video lucu, kita senang dan tertawa, mendapat like dan subscriber kita merasa gembira.Terus menerus melakukan scrolling berjam-jam dan tanpa sadar kita menjadi kecanduan stimulasi. Bisa jadi puasa otaknya batal.
Karena definisi puasa yang artinya menahan diri, tidak terjadi pada pola konsumsi digital kita di depan layar. Sebenarnya jadi haram hukumnya karena telah memasukkan begitu banyak stimulasi sampai terganggu otaknya.
Sama halnya kalau fisik kecanduan gula, itu berbahaya. Kecanduan terus menerus membuka layar HP juga berbahaya.
Jangan menjadi budak algoritma, karena otak sudah terbiasa mendapatkan kenikmatan yang cepat, singkat, dan instan.
Ingatlah, tadabbur, membaca Qur’an, shalat, itu membutuhkan ketenangan. Tidak bisa disambi dengan membuka handphone.
Definisi hawa nafsu berbeda sekarang dan zaman dulu.
Definisi di era AI berbeda, tetapi intinya sama, yakni menghilangkan fokus dan konsentrasi. Ini yang disebut Ghadhul Bashar.
Ghadhul Bashar adalah konsep dalam Islam untuk menjaga atau menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan, seperti aurat lawan jenis yang bukan mahram, untuk mencegah fitnah, perzinaan, dan menjaga kesucian hati. Ini bukan berarti memejamkan mata sepenuhnya, tetapi mengalihkan pandangan dari hal maksiat.
Lewat layar HP juga ada syahwat mata (‘ain). Mata yang terus menerus Ingin melihat hal-hal yang viral, yang menarik, tidak peduli halal haram karena algoritma apa yang kita lihat tidak tersertifikasi halal.
Minuman keras memang haram, tetapi itu di dunia nyata. Tetapi di dunia maya pornografi dan hal maksiat lainnya yang ada di layar HP tidak keras sensor haramnya kecuali dari diri sendiri yang mengendalikan.
Handphone, layar gadget, dan akun kita harus bisa kita bendung. Hal yang boleh masuk layar HP kita hanya yang halal.
Akibat dari berlama-lamanya kita melihat layar handphone, mata menjadi lelah, otak lemah, jiwa kosong. Sedikit merenung karena sedikit tafakur. Banyak tertawa tetapi tidak menangis saat membaca Al-Qur’an. Di sinilah puasa menjadi terapi.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus tetapi juga puasa menahan layar gadget.
Puasa mata, menahan dari melihat yang tidak perlu, menahan scrolling yang tidak perlu, menahan diri untuk tidak melihat video yang melelahkan mata, menahan syahwat lewat mata.
Hati itu seperti tanah kalau terus ditanam misalnya ditanam nafsu, dunia yang disodorkan di layar gadget kita, maka apakah ayat-ayat Qur’an gampang tumbuh?
Tidak mudah tumbuh. Di sinilah Ramadhan mendetoks digital jiwa kita.
Saat kita mengurangi scrolling, mengurangi membaca WA, mengurangi media sosial, hati kita akan menjadi tenang, pikiran kembali terstruktur. Efeknya, meskipun berbuka dengan air putih dan kurma terasa lezat, sujud menjadi rasa bahagia kembali kepada Sang Khalik. Jiwa kita kembali tidak tergantung pada stimulus.
Ramadhan bukan saja mengajak kita menutup mulut dari makanan, tetapi juga menyadarkan hati yang sekian lama terjebak.
Puasa juga menutup mata dari screen layar HP yang mencemari hati.