KSP

Lima Hal perusak cahaya hati (1)

Oleh KH Bachtiar Nasir

Ada lima hal yang bisa merusak cahaya hati dan menghilangkan tekad di dalam jiwa:

Pertama, bahaya jika manusia bergaul dengan manusia. Sampai ulama mengingatkan, hati-hati bergaul dengan orang yang tunduk pada hawa nafsunya, karena ia akan menyebabkan penyakit hati yang luar biasa.

Hati-hati jika berkawan dengan orang-orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya. Pergaulan dia sangat destruktif. Ini sangat berbahaya.

Suatu hari perlu kita menyendiri. Misal sedang jalan bersama teman-teman. Kalau bisa jangan berkumpul terus. Menyendiri sejenak untuk berzikir, membaca Qur’an. Jangan sampai sepanjang waktu perjalanan hanya dengan teman-teman saja, tidak ada ruang berdua-duaan dengan Allah Subhana Wa Ta’ala. Jangan sampai shalat hanya sebentar saja, kurang khusyu’nya di hadapan Allah.

Kedua, hal yang bisa menghilangkan cahaya hati adalah panjang angan-angan.

Hati-hati, terutama bagi yang sudah usia senior, hidup hanya sebentar lagi. Di Al-Qur’an sudah diingatkan, bahwa hidup hanya sebentar. Bagi yang sudah lansia akan merasa, “Hidup kok, cepat sekali? Tahu-tahu sudah tua.”

Ada yang hidup sudah lama tetapi hidupnya masih berkutat dalam angan-angannya. Ini bahaya.

Angan-angan yang dimaksud adalah ilusi kosong.

Kata Ibnu Qayyim Al-Jauziah tentang panjang angan-angan:
Apa yang lebih sulit dan berat bagi jiwa? Ya, angan-angan itu, karena melelahkan.

Jalan menuju Allah itu tidak mudah, kecuali mereka yang dimudahkan oleh Allah. Maka seorang hamba harus bersungguh-sungguh meminta pertolongan kepada Allah, memperbaharui kehidupannya dengan mendekatkan diri kepada Allah, dan mengetuk pintu-Nya dengan kerendahan dan kehinaan diri.

Tidak ada jalan yang membimbingnya menuju Allah selain cinta yang tulus, zikir yang terus menerus dan mengingat Allah dengan hati dan lisan secara istiqomah. Dengan demikian ia akan terhindar dari empat perusak hati lainnya, karena penyebab perusak hati itu tidak mampu menguasai hati yang hidup dengan cinta kepada Allah dan sibuk berzikir kepada-Nya.

Sumber kekuatan dan tekadnya hanya dari Allah, dan kebebasannya dari ketergantungan kepada makhluk semuanya atas pertolongan Allah semata.

Panjang angan-angan yang merupakan perusak hati adalah ombak besar di lautan kebodohan yang tidak memiliki tepi dan pantai. Lautan ini penuh dengan bangkai orang-orang yang tenggelam, harta benda orang-orang yang binasa, dan barang dagangan para penipu, serta kesibukan dunia.

Di lautan panjang angan-angan ini kepala harta mereka adalah penipuan, modal usaha mereka adalah janji-janji setan, sementara keuntungan mereka adalah khayalan dan tipuan semu.

Ombak-ombak panjang angan-angan menghempaskan dengan keinginan batil, dan setiap jiwa berkhayal untuk setiap sesuatu yang tidak pernah dicapai.

Mereka membayangkan angan-angan kosong dan harapan-harapan palsu, dan mengetuk lukisan khayalan mereka tentang cita-cita dunia yang fana.

Namun tatkala mereka terbangun, mereka menyadari bahwa semua itu hanyalah mimpi yang sirna dan sia-sia.

Bahaya panjang angan-angan ini bagi orang soleh dan penuntut ilmu. Orang yang memiliki tekad yang lemah seringkali dipenuhi angan-angan yang menipu dan khayalan yang memperdaya. Ia mengira telah berilmu dan beramal, padahal itu belum tertanam dengan benar di dalam hatinya.

Orang yang benar-benar berilmu dan beriman adalah yang menggabungkan antara ilmu, keyakinan, dan amal yang mendekatkan kepada Allah dan tunduk di hadapan-Nya.

Adapun angan-angan semu adalah cahaya palsu dan kebohongan yang memperdaya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam pernah memuji orang yang punya niat baik dan tulus, meski belum sempat melakukannya karena keterbatasan kemampuan.

Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya dunia ini untuk empat golongan. Salah satunya adalah seseorang yang dikaruniai Allah ilmu, tetapi tidak harta, lalu ia berkata, seandainya aku memiliki harta seperti Si Fulan, niscaya aku akan berbuat sebagaimana yang ia lakukan. Maka keduanya memperoleh banyak pahala yang sama.

Dalam ilmu Takziyatunnafs, Ibnul Qayyim mengatakan panjang angan-angan sebagai ombak besar di lautan ombak besar kebodohan. Seseorang merasa akan berubah tanpa benar-benar berubah.

Dari data yang ada, 85 persen orang menginginkan perubahan penting padahal mereka tidak melakukan apa-apa. Mereka ingin kehidupan lebih baik tetapi tak melakukan apa pun hari ini. Hidup hanya penuh angan-angan “besok, nanti kalau sudah mapan”. Padahal angan-angan seperti itu hanya fatamorgana yang indah dilihat tetapi tidak bisa disentuh.

Kata neurosains, hati akan merasa lemah jika sering membayangkan hasil tanpa menjalani proses.

Karena itu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang berniat tulus akan mendapat pahala, meskipun belum mampu beramal.”

Dari hadits tersebut, yang diberikan pahala adalah ketulusan dan usaha, bukan mimpi kosong.

Hidup ini terlalu singkat jika hanya bermimpi menjadi baik. Allah memanggil kita untuk bergerak bukan menunda.

Mulai hari ini, mulailah dengan satu langkah dengan satu ayat, mulai satu perbaikan. Perubahan tidak terjadi besok, tetapi dimulai dari sekarang. (*)