Inabah, Kembali kepada Allah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az-Zumar: 54).
Inabah berarti kembali kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu bertaubat dalam ketaatan, menjauhi maksiat, dan bersandar sepenuhnya kepada-Nya. Kembalinya hati inilah yang sejatinya dimaksud, bukan sekadar gerak jasad.
Jika anggota badan bersujud, kita akan segera bangkit menyelesaikan shalat. Namun bila hati yang bersujud, terasa berat untuk mengangkat kepala karena enggan beranjak dari kedekatan dengan Allah.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa inabah adalah upaya untuk meraih ridha Allah dengan taubat terus-menerus serta keikhlasan niat.
Belajar dari Nabi dan Rasul
Seorang hamba yang telah sampai pada tingkatan taubat akan melangkah menuju tingkatan al-inabah. Allah Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim Alaihissalam menempuh jalan ini, lalu memujinya karena sifat tersebut, “Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Huud: 75).
Ibrahim Alaihissalam memiliki akhlak mulia, dada yang lapang, dan kesabaran menahan amarah dari kebodohan kaumnya. Beliau selalu kembali kepada Allah dengan penuh cinta, tunduk, dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.
Beliau tidak sekadar mengikuti keyakinan masyarakatnya. Saat kaumnya menyembah berhala untuk mencari sandaran, Ibrahim justru menggunakan anugerah penglihatan, pendengaran, dan hati untuk mencari kebenaran.
“Katakanlah, ‘Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur’.” (QS. Al-Mulk: 23).
Dengan tiga anugerah ini, beliau merenungi tanda-tanda kebesaran Allah dalam matahari dan bulan. Ketaatannya terbukti ketika beliau rela meninggalkan keluarga di padang pasir gersang, atau bahkan mengorbankan putra kesayangannya Ismail as, hanya demi menjalankan perintah Allah. Semuanya beliau serahkan sepenuhnya kepada-Nya.
Kemurnian hati inilah yang menjadikan Nabi Ibrahim sebagai teladan inabah, setelah Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.
Tentang inabah Rasulullah saw, Allah menegaskan, “Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” (QS. Asy-Syuraa: 10).
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah contoh sempurna hamba yang sabar menghadapi penolakan risalah. Ucapan sinis, syair ejekan, bahkan kekerasan fisik beliau hadapi dengan sabar, akhlak luhur, dan pemaafan yang luas. Semua itu berangkat dari tawakal dan inabah beliau kepada Allah, tempat bersandar segala urusan.
Surga, Tempat Kembali
Kembali kepada Allah sebagaimana Nabi dan Rasul tentu sulit kita sejajari. Namun kasih sayang-Nya tidak pernah terbatas. Surga Allah disiapkan bagi siapa saja yang berusaha kembali dengan hati bertaubat.
“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara peraturan-peraturan-Nya. (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan olehnya dan ia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS. Qaaf: 31–33).
Maka, bersegeralah kembali kepada Allah sebelum datang saat ketika tidak ada lagi pertolongan. Karena hanya mereka yang ber-inabah yang akan kembali ke tempat terbaik: surga-Nya.*
