Doa-doa Dalam Surah Al-Fatihah (3)
Ar-rahmaanir-rahiim
Oleh KH Bachtiar Nasir
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿٣﴾
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah dua nama Allah yang indah atau Asmaulhusna. Kita mempelajari Asmaulhusna adalah mempelajari tentang Allah melaui nama-nama- Nya, yang dari situ kalbu kita akan hidup dengan:
- Menaati semua perintah Allah subhanahu wa ta’ala.
- Menjauhi semua larangan Allah subhanahu wa ta’ala.
- Menerima takdir Allah subhanahu wa ta’ala.
Kita harus mentaati semua perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan menerima takdir-Nya, sebab semua yang ada alam ini kepunyaan Allah Yang Maha Pemurah (Ar-Rahman), Yang Maha Penyayang (Ar-Rahim). Allah-lah Tuhan sekalian alam, Tuhan yang memiliki Hari Pembalasan.
Imam al-Ghazali berkata, “Barangsiapa yang berpandangan bahwa ada kenikmatan dari selain Allah atau memberikan rasa syukurnya kepada selain Allah dengan beranggapan bahwa itu semua bukan atas pengaturan Allah, maka pujiannya kepada Allah berkurang sesuai kadar keberpalingannya kepada selain Allah.” (Tafsir Imam al-Ghazali, Muhammad ar-Raihani)
Hanya Allah Yang Ya Rahman ya Rahim yang berhak kita muliakan, karena hanya Dia-lah Yang Maha Mulia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebelum memuji Allah, kita rendahkan atau hinakan diri kita di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.
Kita mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala seperti yang dilakukan Nabi Yunus `alaihis salam saat berada di dalam kegelapan perut ikan, dan seperti Nabi Adam ketika dikeluarkan dari surga-Nya Allah subhanahu wa ta’ala.
Abu Hurairah radhiyallahu `anhu berkata, suatu saat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah berfirman, ‘Aku telah membagi (kandungan makna) surah Al-Fatihah untuk-Ku dan untuk hamba-Ku menjadi dua bagian, dan Aku akan mengabulkan apa yang hamba-Ku pinta.’
‘Apabila dia membaca, ‘Alhamdulillahi rabbil `alamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam)’, Allah akan membalasnya dengan berfirman, ‘Hamba-ku telah memuji Aku.’
Apabila dia membaca, ‘ar-Rahmanir Rahim (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang),’ Allah berfirman, ‘Hamba-ku telah memuji Aku.’
Apabila dia membaca, ‘Maaliki yaumiddin (Pemilik Hari Pembalasan),’ Allah berfirman, ‘Hamba-ku telah mengagungkan aku,’ lalu Allah berfirman sekali lagi, ‘Hamba-ku telah memasrahkan urusannya kepada-Ku.’
Apabila dia membaca, ‘Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`in (Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan),’ Allah berfirman, ‘Ini adalah urusan Aku dan hamba-Ku, dan Aku akan mengabulkan apa yang Hamba-Ku pinta.’
Apabila dia membaca, ‘Ihdinash shiraathal mustaqiim. Shirathalladziina an`amta `alaihin ghairil maghdhubi `alaihim waladh dhaalliin (Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang Engkau telah beri nikmat (iman) kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.’
Allah berfirmah, ‘Ini adalah untuk hamba-Ku, dan dia akan mendapatkan apa yang dia pinta.’” (HR Muslim) (*)
