Arti Merdeka

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (QS. Ar-Ra’d ayat 15).
Segala yang ada di langit dan di bumi, sejatinya adalah hamba Allah. Semuanya tunduk dan patuh menyembah Allah Azza Wajalla karena pada dasarnya setiap mahluk akan mencari siapa yang menciptakannya dan setiap hamba akan mencari siapa tuannya.
Sehingga, hakikatnya, setiap hamba yang salah mengabdi kepada yang bukan Tuhannya akan merasa terjajah dan terbebani. Begitu pula manakala seorang mahluk salah mengabdi kepada yang bukan penciptanya, maka ia akan merasa sengsara. Sebab, siapa yang disangkanya sebagai pencipta itu, tidak mengerti dirinya dan hanya memanfaatnya.
Karena itulah, mereka yang berhasil menemukan Pencipta dan Tuannya dengan tepat, pastilah akan merasakan kebahagiaan dan kebebasan; karena mereka bertindak, berpikir, dan berkata sesuai dengan diri mereka dan diberi tugas sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.
Akan tetapi, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang memberikan kebebasan yang sangat luas kepada hamba-Nya untuk memilih, “jalan hidup” seperti apa yang diingankannya. Tak lain karena manusia memiliki perangkat akal, mata, telinga, dan hati di dalam dirinya.
“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua manusia di bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu akan memaksa manusia supaya mereka semua menjadi mukmin?” (QS. Yunus ayat 29).
Inilah kebebasan yang Allah Ta’ala berikan. Kemerdekaan yang bahkan ditegaskan kepada Rasul-Nya yang tahu betul kebebalan manusia untuk mengetahui siapa Tuhan dan Tuannya yang sebenarnya. Ketika, manusia justru lebih memilih untuk terjajah oleh raja-raja kecil yang setara dengan dirinya. Ketika, manusia lebih suka memperbudak diri sendiri dan orang lain, hanya untuk alasan kesenangan dan kekuasaan.
Oleh karena itu, sejatinya orang merdeka adalah dia yang mengenal siapa Tuhan dan Tuannya. Karena, dengan demikian, ia akan memahami dengan tepat kebaikan yang ada di dalamnya dan bersyukur dengan benar atas kebaikan yang diperolehnya. Sehingga tak ada beban yang dirasakannya dan tidak ada sesuatu pun yang tidak bersesuaian dengan kebutuhan dirinya. Tanpa halangan dan rasa kekurangan yang menyakiti dirinya. Karena dia yakin, Allah-lah Yang melindungi dan melindungi. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya. “(Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzamil ayat 9).
Berbahagia Merdeka
Orang-orang yang jiwanya telah bebas seperti ini, tidak akan lagi melihat rintangan dan kesulitan yang harus dilaluinya sebagai beban. Mereka justru merasa bahwa perjuangan adalah tahapan penuh tantangan untuk meng-up grade kualitas diri. Yang akan semakin meringankan langkahnya untuk bisa segera sampai menjumpai Allah, Sang Tuhan dan Tuannya.
Dalam kondisi yang mulia dan terjamin surga. Tidak ada kekhawatiran dan keluh kesah karena mereka yakin, inilah jalan yang terdekat dengan pertolongan dan perlindungan Allah Ta’ala. Mereka merdeka dari beban jiwa dan merdeka dari segala aturan yang dibuat manusia yang ingkar, guna menjauhkan manusia dari Tuhan dan Tuan sejatinya.
Bagi orang yang berjiwa merdeka, seperti apa pun kondisi yang mereka hadapi saat ini, itu tidak penting. Tiap orang memiliki ujian hidupnya sendiri. Terlahir dari orangtua yang muslim atau kafir, terlahir dari keluarga yang kaya atau miskin, atau bahkan terlahir dalam kondisi perang seperti di Palestina atau di negeri yang bernama Indonesia pun itu adalah ujian yang harus diselesaikan dengan baik.
Bagi mereka yang berdiri di atas pijakan Allah adalah satu-satunya Ilaah dan Robb, yang penting adalah menentukan, berada di barisan mana mereka kini berada. Di barisan yang berusaha menistakan agama Allah ‘kah atau di barisan pejuang yang senantiasa mengibarkan keagungan agama Allah Ta’ala? Karena, bagi mereka yang jiwanya telah merdeka – bersebab hanya menjadikan Allah satu-satunya yang ditakuti, telah terang-benderang mana yang benar dan mana yang salah.
“Tidak ada paksaan dalam beragama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah!” (QS. Al-Baqarah ayat 256).
Tak penting nantinya akan menang atau kalah. Yang penting adalah kesungguhan dan profesionalitas dalam memperjuangkan kebenaran yang harus dimenangkan. Yaitu, agama Allah Ta’ala. Tak cukup hanya bersungguh-sungguh dan setia, tetapi tidak mau belajar dan enggan meng-upgrade kompetensi diri. Karena, setiap muslim yang berjiwa merdeka, juga berarti harus mampu memerdekakan dirinya dari kelemahan dan kemalasan. Sehingga, setiap kita mampu menampilkan performa terbaik di hadapan Allah Azza wa Jalla.
Karena, orang beriman yang merdeka itu, harus kuat mengangkat tekad untuk mau melihat dan mampu memperjuangkan kebenaran; kapanpun, dimanapun, dan bagaimana pun keadaannya. Untuk itu kita butuh kompetensi dan profesionalitas yang tinggi untuk bisa berkompetisi dan menjadi pemegang lisensi untuk segala yang terbaik. Demi Islam dan kemuliaan Allah Ta’ala.
Karena, kini umat “terbaik” ini tengah lesu, dilibas supremasi Barat dan teknologi. Segala bentuk penindasan dan kedzaliman – dari yang terlihat canggih hingga ala zaman purba, harus kita terima saat ini. Maka bangkitlah! Kita tidak bisa menunggu keadilan datang, tetapi harus memperjuangkannya. Dan, berjuang untuk keadilan berarti melawan kedzaliman.
Maka siapkan amunisi terbaik yang kita miliki. Berderaplah dan maksimalkan kompetensi, perjuangan ini belum berakhir. Kemerdekaan itu baru kita miliki saat setiap jiwa telah menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Tuan yang tertinggi, serta kita bisa mensyukuri tanpa halangan dan ketakutan.*
