Tadabbur

Hikmah Keberadaan Anjing dalam Kisah Pemuda Kahfi

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُ‌قُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَ‌اعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَ‌ارً‌ا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُ‌عْبًا

“Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (Surat al-Kahfi [18]: 18).

Dalam ayat di atas, Allah Ta’ala juga menyebutkan keadaan anjing para pemuda kahfi tersebut dan menggambarkannya mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua tempat mereka bersembunyi.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa penyebutan anjing milik pemuda kahfi dalam rangkaian kisah para pemuda al-kahfi dalam ayat Alquran di atas menunjukkan bahwa menemani dan berteman dengan orang-orang shaleh itu mempunyai manfaat yang sangat besar. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan berkah para pemuda kahfi itu juga meliputi anjing mereka. Sehingga ia juga tertidur sebagaimana para pemuda kahfi tersebut, dan ini merupakan manfaat menemani orang-orang shaleh sehingga seekor anjing pun mendapatkan tempat dan kedudukan disebutkan dalam Alquran.

Dalam tafsirnya Imam al-Qurthubi menyebutkan bahwa Abu al-Fadhl al-Jauhari menegaskan dari atas mimbar di masjid Mesir bahwa sesungguhnya barangsiapa yang mencintai orang-orang shaleh maka ia akan mendapatkan berkahnya. Bahkan seekor anjing yang mencintai orang-orang shaleh dan menemani mereka disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab sucinya.

Imam al-Qurthubi menambahkan bahwa jika seekor anjing saja mendapatkan kemuliaan ini karena menemani dan bergaul dengan orang-orang shaleh dan para wali Allah SWT, sampai-sampai disebutkan dalam kitab suci Alquran. Maka bagaimana menurutmu dengan orang-orang beriman yang mentauhidkan Allah SWT, yang bergaul dan mencintai para wali Allah SWT dan orang-orang shaleh. Sungguh ini merupakan hiburan bagi orang beriman yang mungkin lalai dan tidak sampai kepada derajat yang tinggi, tetapi dia mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat, para ulama shaleh yang mengamalkan ilmunya karena Allah.

Hal itulah yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditsnya:

عن أنس بن مالك قال : بينا أنا ورسول الله – صلى الله عليه وسلم – خارجان من المسجد فلقينا رجل عند سدة المسجد فقال : يا رسول الله ، متى الساعة ؟ قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ما أعددت لها قال : فكأن الرجل استكان ، ثم قال : يا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” ما أعددت لها كثير صلاة ولا صيام ولا صدقة ، ولكني أحب الله ورسوله . قال : فأنت مع من أحببت . في رواية قال أنس بن مالك : فما فرحنا بعد الإسلام فرحا أشد من قول النبي – صلى الله عليه وسلم – : فأنت مع من أحببت . قال أنس : فأنا أحب الله ورسوله وأبا بكر وعمر ، فأرجو أن أكون معهم وإن لم أعمل بأعمالهم

Dari Anas bin Malik ra. ia berkata, “Ketika aku keluar dari masjid bersama Rasulullah SAW., kami dijumpai oleh seorang lelaki di dekat pintu masjid. Orang itu bertanya,”Wahai Rasulullah, kapan kiamat tiba?” Rasulullah SAW. balik bertanya kepada orang itu: “Apa yang telah kau persiapkan untuknya?” Anas mengatakan: “Seakan-akan lelaki tersebut tertunduk diam,” kemudian lelaki itu berkata,”Aku belum menyiapkan shalat, puasa, ataupun shadaqah sunat yang banyak, akan tetapi aku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.” Mendengar ini Rasulullah SAW. bersabda : “Engkau bersama dengan orang yang engkau cintai.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam satu riwayat, disebutkan bahwa Anas berkata, “Kami tidak pernah merasa gembira setelah Islam sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi SAW.: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai). Anas melanjutkan, “Aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, Abu Bakar dan umar, maka saya berharap bisa bersama dengan mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang shaleh sehingga kita mendapatkan berkah mereka dan bisa bersama dengan mereka nanti di hari akhir. Aamiin. Wallahu a’lam bish shawab.*