Belajar dari Gontor, UBN: Rahasia Pesantren Bertahan Lintas Zaman Ada pada Nilai dan Wakaf

SOLO–Pesantren tidak cukup hanya mengandalkan gedung, aset, jaringan, atau sumber pembiayaan yang besar untuk bertahan lintas generasi. Menurut pendakwah sekaligus alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), kekuatan pesantren justru terletak pada keteguhan nilai, sistem kelembagaan, regenerasi kepemimpinan, dan kemandirian ekonomi.
Hal itu disampaikan UBN dalam acara MULTAQO Mudara Maahid Forum Maahid dan Madaris Qur’an Indonesia (FORMAKIN) di Solo, Sabtu (3/10/2026).
UBN menjadikan perjalanan satu abad Gontor sebagai contoh bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat bertahan melewati perubahan sosial dan politik. Menurut dia, keberlangsungan pesantren tidak boleh bergantung pada satu figur. Ketergantungan kepada seorang kiai memang dapat menjadi kekuatan ketika tokoh tersebut masih memimpin, tetapi dapat menjadi kelemahan ketika regenerasi tidak disiapkan.
“Kalau titik sentral di kita menjadi kekuatan, memang kuat di awal, tetapi rawan di akhir,” kata UBN.
Dalam sejarah Gontor, tiga bersaudara yang dikenal sebagai Trimurti, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi, membangun kembali pesantren yang sebelumnya mengalami kemunduran. Pada 1958, para pendiri mewakafkan Gontor kepada umat melalui Badan Wakaf.
Bagi UBN, keputusan tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang menjelaskan kemampuan Gontor bertahan hingga memasuki usia satu abad. “Di situlah keberkahan demi keberkahan datang. Ini mukadimah mengapa Gontor bisa seratus tahun,” ujarnya.
UBN mengatakan keberadaan Badan Wakaf dan kepemimpinan kolektif menjadi jawaban atas persoalan keberlanjutan pesantren. Regenerasi, menurut dia, tidak cukup hanya dilakukan terhadap orang, tetapi juga terhadap sistem nilai dan manajemen. “Jadi ada regenerasi sistem nilai yang tidak terputus,” katanya.
Ia juga mengingatkan, “Riskan kalau hanya satu kiai.”
Namun, kelembagaan saja tidak cukup. Pesantren harus mengetahui nilai apa yang tidak boleh berubah meskipun zaman terus bergerak. UBN menggunakan perumpamaan syajarah thayyibah atau pohon yang baik untuk menggambarkan fondasi pesantren.

“Kalau pondok kehilangan syajarah thayyibah-nya, maka hilanglah pesantren,” kata UBN. Ia juga menekankan pentingnya tafaquh fiddin atau pendalaman agama. “Yang bermasalah adalah ketika hilang tafaquh fiddin-nya,” katanya.
Keteguhan terhadap nilai tidak berarti pesantren menutup diri dari perubahan. Menurut UBN, pesantren harus mampu membaca perkembangan teknologi, perilaku generasi muda, dan transformasi sosial. “Kalau kita tidak baca peta sekarang ini, teknologi ini, maka kita akan tergilas oleh zaman,” ujarnya.
Karena itu, metode pendidikan boleh berkembang, tetapi prinsip dasar pesantren harus tetap dijaga.
Kemandirian ekonomi menjadi unsur penting lainnya. UBN mengatakan pesantren harus mampu mendapatkan pembiayaan tanpa kehilangan kebebasan menentukan arah pendidikannya.
“Bagaimana biaya ada tetapi tidak didikte,” katanya.
Menurut dia, ketergantungan yang terlalu besar kepada donor tertentu dapat menciptakan kerentanan. Karena itu, wakaf memiliki posisi penting karena aset tidak lagi menjadi milik pribadi pendiri atau keluarganya, tetapi diperuntukkan bagi kemaslahatan dan generasi berikutnya.
UBN menggunakan konsep habsul ashl wa tasbil ats-tsamrah, yakni menahan pokok harta dan mengalirkan manfaatnya, untuk menjelaskan kekuatan wakaf. Menurut dia, seorang kiai tidak cukup hanya mengajak orang lain berwakaf, tetapi harus memberikan keteladanan. “Jadi kiai harus genius. Cirinya, kebaikannya tidak bisa dihentikan oleh kematiannya,” katanya.
Ia menegaskan, “Jangan cuma menyuruh wakaf, tetapi dirinya sendiri tidak wakaf.”
Kemandirian ekonomi juga berkaitan dengan independensi kelembagaan. UBN melihat Gontor mampu melewati berbagai fase sejarah Indonesia karena tidak mengikat dirinya secara institusional kepada satu partai politik, organisasi massa, atau kekuatan pemerintahan tertentu.
“Gontor tak tergadai oleh kekuasaan,” kata UBN. Menurut dia, alumni Gontor tetap bebas berkiprah di berbagai organisasi dan profesi, sementara pondok menjaga prinsip “berdiri di atas dan untuk semua golongan”.
Nilai dan wakaf, lanjut UBN, tidak akan bertahan hanya karena dituliskan dalam dokumen. Diperlukan pendidikan sebagai “mesin” yang mentransmisikan nilai dari satu generasi kepada generasi berikutnya. “Mesin perawatnya pendidikan. Bagaimana nilai ini lintas generasi,” katanya. Di Gontor, proses tersebut berlangsung melalui KMI, kehidupan asrama 24 jam, organisasi santri, disiplin, penugasan, dan pengabdian alumni.
Menurut UBN, model Gontor tidak harus disalin secara persis oleh pesantren lain. Namun, prinsip wakaf, kaderisasi, kemandirian, kepemimpinan, dan kesinambungan dapat dipelajari. Ia menyebut Pondok Modern Tazakka sebagai salah satu contoh pesantren yang mengembangkan sistem pemberdayaan dengan akar pendidikan Gontor sesuai konteksnya sendiri. “Saran saya, boleh studi banding ke sana. Lihat langsung bagaimana sistem dikembangkan,” katanya.
Bagi UBN, setelah Gontor mencapai usia 100 tahun, pertanyaan penting bukan hanya bagaimana pesantren tersebut mampu bertahan selama satu abad, tetapi bagaimana nilai-nilainya dibawa memasuki seratus tahun kedua. Tantangan pesantren akan terus berubah seiring perkembangan teknologi, perubahan pola pikir generasi muda, struktur ekonomi, serta dinamika sosial. Karena itu, pesantren harus mempertahankan asas sekaligus memperbarui cara.
UBN menyebut Panca Jiwa, Panca Jangka, moto pendidikan, prinsip berdiri di atas dan untuk semua golongan, serta sistem wakaf sebagai bagian dari nilai yang perlu dijaga. Namun, seluruh instrumen tersebut pada akhirnya bergantung pada kualitas manusia yang menjalankannya. Ia merangkum sikap yang harus terus dirawat dengan empat kata: sabar, tawakal, ikhlas, dan ridha.
UBN kemudian menggunakan ungkapan yang kuat untuk menggambarkan tugas seorang kiai. “Kalau jadi kiai, tugas pertama adalah bocorkan rahmat. Bikin kanal, pipa rahmah dari langit. Tak usah sibuk cari proposal.” Pesannya, pesantren yang ingin berumur panjang tidak cukup hanya membangun gedung dan mengumpulkan aset. Pesantren harus membangun nilai, sistem, kader, dan kemandirian agar manfaatnya terus hidup.
Gontor, dalam pandangan UBN, memberikan pelajaran penting setelah melewati satu abad: manusia dapat meninggal, pemimpin dapat berganti, dan zaman dapat berubah. Namun, apabila nilai telah menjadi sistem, sistem melahirkan kader, dan aset telah diwakafkan untuk kepentingan umat, sebuah pesantren dapat hidup jauh lebih lama daripada para pendirinya.*
