Tadzkirah

Keluarga Bukan Sekadar Tempat Pulang

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

MEMULAI hari bukan sekadar perkara mengisi perut yang lapar. Ada sarapan yang jauh lebih penting bagi jiwa, yakni syukur, senyum, dan amal saleh. Sebab, tubuh yang kita miliki hanyalah instrumen untuk menjalankan tujuan utama penciptaan manusia sebagai hamba Allah SWT.

Sayangnya, tidak sedikit manusia menjalani hidup tanpa visi yang jelas. Hidup dijalani dengan prinsip coba-coba: mencoba pekerjaan, memilih jalan hidup, bahkan membangun rumah tangga tanpa tujuan besar yang hendak dicapai. Tanpa disadari, waktu terus berjalan dan usia habis dalam rangkaian percobaan.

Padahal, Allah SWT tidak membiarkan manusia berjalan tanpa petunjuk. Setiap hari, sedikitnya 17 kali dalam shalat, kita memohon kepada Allah, Ihdinash shirathal mustaqim—tunjukilah kami jalan yang lurus.

Jalan lurus itu bukan sekadar arah yang kita ucapkan dalam doa. Ia adalah jalan yang telah ditempuh para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang saleh. Karena itu, menjadi ironi apabila jalan yang kita mohon kepada Allah dalam shalat justru berbeda dengan jalan yang kita pilih dalam kehidupan.

Visi besar seorang Muslim semestinya dimulai dari unit terkecil dalam kehidupan: keluarga.

Banyak orang merasa telah mencapai puncak kebahagiaan ketika menemukan pasangan hidup yang memberikan ketenangan, cinta, dan kasih sayang. Al-Quran memang menggambarkan tujuan pernikahan sebagai hadirnya mawaddah dan rahmah. Namun, ketenangan dalam rumah tangga tidak berhenti pada rasa nyaman semata.

Ada perbedaan antara as-sakan, as-sakinah, dan keluarga yang diberkahi. Sakan adalah ketenangan yang bersifat biologis dan psikologis. Sementara sakinah merupakan ketenangan yang Allah turunkan ke dalam hati orang-orang beriman sehingga keimanan mereka semakin bertambah.

Di atas semua itu terdapat keluarga yang diberkahi. Keberkahan bukan sekadar perasaan bahagia yang sulit diukur. Ia membutuhkan pembuktian melalui ketaatan dan kesanggupan menjalani ujian kehidupan.

Keluarga Nabi Ibrahim AS memberikan teladan tentang hal tersebut. Keluarga yang diberkahi bukan keluarga yang bebas dari ujian, melainkan keluarga yang mampu membuktikan ketaatan ketika menghadapi ujian yang nyata.

Karena itu, setidaknya ada dua amanah besar yang perlu diperhatikan setiap keluarga Muslim. Pertama, mendidik keturunan agar menjadi penerus risalah Rasulullah SAW. Setelah tidak ada lagi nabi yang diutus, estafet perjuangan untuk menjaga dan menyebarkan nilai-nilai risalah menjadi tanggung jawab umat.

Kedua, membangun lingkungan yang saleh. Kesalehan tidak berhenti pada kebaikan personal. Orang saleh adalah mereka yang terus memperbaiki dirinya sekaligus berusaha memperbaiki lingkungan di sekitarnya.

Salah satu tanda sederhana yang dapat direnungkan adalah bagaimana sebuah keluarga memperlakukan waktu Subuh. Ketika pagi justru menjadi waktu untuk terlelap, sementara keberkahan hari mulai dibagikan, ada sesuatu yang perlu dievaluasi dalam kehidupan rumah tangga.

 

Tiga Jalan Menuju Keberuntungan

Menjadi penerus risalah Rasulullah SAW berarti memiliki visi yang melampaui usia pribadi. Perjuangan seorang Muslim tidak semestinya berhenti pada keberhasilan dirinya, tetapi harus menjadi bagian dari bangunan peradaban yang dapat dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Tidak perlu merasa kecil hanya karena kontribusi yang dilakukan tampak sederhana. Sebuah bangunan besar tersusun dari bagian-bagian kecil. Baut dan mur yang dibuat di sebuah bengkel sederhana, misalnya, dapat menjadi bagian dari pesawat yang membawa manusia melintasi langit.

Begitu pula dalam perjuangan membangun peradaban Al-Quran. Menjadi satu bagian kecil dalam bangunan besar kebaikan tetap memiliki arti.

Al-Quran memberikan peta jalan yang jelas dalam QS Ali Imran ayat 102-104.

Pertama, membangun ketakwaan dan berkomitmen untuk hidup dalam Islam hingga akhir hayat. Ketakwaan menjadi fondasi sebelum seseorang mengambil bagian dalam perjuangan yang lebih luas.

Kedua, berpegang teguh pada tali Allah dan membangun kebersamaan. Perjuangan tidak mungkin dilakukan sendirian. Kebersamaan diperlukan agar setiap orang dapat saling menguatkan dan tidak mudah tercerai-berai.

Ketiga, menjalankan tiga proyek kebaikan: yad’una ilal khair, mengajak kepada kebaikan; ya’muruna bil ma’ruf, menyeru kepada yang makruf; dan yanhauna ‘anil munkar, mencegah kemungkaran.

Ketiganya merupakan satu kesatuan. Kebaikan perlu diperkenalkan, nilai-nilai makruf perlu ditumbuhkan, dan kemungkaran perlu dicegah dengan ilmu serta cara yang tepat. Dakwah tidak seharusnya membuat seseorang mudah menyalahkan orang lain, apalagi hanya karena keterbatasan pengetahuan.

Allah menyebut mereka yang menjalankan tugas tersebut sebagai orang-orang yang beruntung. Keberuntungan yang dimaksud bukan sekadar keberhasilan material, melainkan keberuntungan yang membawa kebaikan hingga kehidupan akhirat.

 

Ditempa di Lorong Sepi

Menempuh jalan risalah bukan berarti menapaki jalan yang selalu mudah. Ada masa ketika seseorang menghadapi keterbatasan, kesulitan biaya, kesepian, bahkan cibiran dari lingkungan sekitar.

Namun, sejarah para nabi menunjukkan bahwa tempaan besar justru sering hadir dalam kesunyian. Rasulullah SAW dikuatkan ketika berada dalam tekanan. Nabi Musa AS dipanggil Allah di Lembah Thuwa dalam keadaan tanpa pasukan dan kekuatan duniawi.Dari sana kita belajar bahwa kesulitan tidak selalu menjadi tanda bahwa Allah meninggalkan hamba-Nya. Bisa jadi, kesulitan justru menjadi ruang untuk menempa keteguhan.

Karena itu, seseorang yang sedang berjuang tidak semestinya berprasangka buruk kepada Allah. Di balik kesulitan, Allah menjanjikan kemudahan. Jalan yang mendaki memang membutuhkan tenaga lebih besar, tetapi pendakian itulah yang membawa seseorang menuju tempat yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, keluarga Muslim tidak cukup hanya dibangun untuk menemukan ketenangan. Keluarga perlu diarahkan menjadi ruang tumbuhnya iman, kesalehan, dan perjuangan.

Rasulullah SAW membawa rahmat bagi semesta. Mengikuti jejak beliau berarti menjadikan diri dan keluarga sebagai bagian dari estafet risalah tersebut. Di sanalah keluarga tidak hanya menjadi tempat pulang, tetapi juga menjadi tempat lahirnya generasi yang meneruskan kebaikan.

Sebab, keberkahan hidup bukan semata-mata tentang apa yang berhasil kita kumpulkan untuk diri sendiri. Keberkahan juga tentang apa yang mampu kita wariskan kepada generasi setelah kita—iman, keteladanan, ilmu, dan perjuangan di jalan Allah.*