Rekonstruksi Darurat Ekologi Sumatera

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).
Banjir bandang dan longsor yang melanda Pulau Sumatera bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah duka kolektif bangsa. Lebih dari 900 nyawa melayang, ratusan ribu orang terpaksa mengungsi, dan tak terhitung keluarga yang kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan masa depan. Di balik angka-angka statistik itu, ada air mata, trauma, dan perjuangan hidup yang tak pernah sederhana.
Apa yang terjadi di Sumatera hari ini layak disebut sebagai darurat ekologi. Banjir yang berulang tidak lagi bisa dipandang sebagai siklus tahunan semata. Alam sejatinya telah lama memberi peringatan, namun peringatan itu berkali-kali diabaikan. Hingga akhirnya, akhir November 2025, peringatan itu datang dalam bentuk yang paling keras: banjir bandang dan longsor yang dipicu Siklon Tropis 95B, memporakporandakan kehidupan.
Sumatera memang memiliki sejarah panjang bencana banjir dan longsor. Namun, mengapa kali ini dampaknya begitu menghancurkan? Jawabannya sederhana sekaligus menyakitkan: karena alam tak lagi sanggup menanggung beban kerusakan yang kita ciptakan sendiri.
Banjir kali ini bukan hanya membawa lumpur dan air bah. Ia membawa fakta. Ribuan gelondongan kayu raksasa terseret dari hulu, akar-akar pohon tercabut, sisa-sisa hutan terhampar tanpa daya. Seolah gunung dan sungai mengembalikan kepada manusia apa yang telah dirampas darinya. Alam menggugat, dengan cara yang tak bisa lagi kita abaikan.
Langkah Kecil untuk Bumi
Meski kondisinya memprihatinkan, harapan belum sepenuhnya padam. Alam masih bisa dipulihkan, asalkan kita mau berubah. Ada langkah-langkah kecil yang bisa dan harus kita lakukan agar bumi ini tetap layak diwariskan kepada anak cucu.
Pertama, jadilah konsumen yang bertanggung jawab. Minimalkan penggunaan produk berbahan kayu alam dan kelapa sawit yang tidak bersertifikat lestari. Pilihan kita di pasar adalah suara kita. Setiap produk yang kita beli menentukan nasib hutan dan masa depan generasi berikutnya. Alam adalah amanah, dan setiap keputusan kecil adalah bentuk pertanggungjawaban kita di hadapan Allah.
Kedua, bangun gerakan bersama di tingkat akar rumput. Bentuk kelompok penjaga hulu sungai, hutan, dan lingkungan desa. Pantau dan jaga bersama-sama. Suara kolektif jauh lebih kuat daripada keluhan individu. Diam justru melahirkan akibat yang lebih besar dan lebih menyakitkan.
Ketiga, berani bercermin dan mengakui kesalahan. Kita adalah bagian dari masalah ini, termasuk dalam hal memilih pemimpin. Kebijakan yang salah membuka pintu bagi kerusakan besar. Ketika pemimpin tidak berpihak pada rakyat dan lingkungan, maka bencana tinggal menunggu waktu.
Fakta di lapangan menunjukkan betapa parah dampaknya. Danau-danau di wilayah terdampak kini terkepung kayu dan sedimen. Ekosistem air tawar kolaps, ikan mati, kadar oksigen menurun drastis, air menjadi keruh dan berbau. Bakteri patogen berkembang, sumber pangan dan mata pencaharian masyarakat pun lenyap. Semua ini bukan musibah alam semata, melainkan buah dari kebijakan yang rakus dan abai terhadap nasib rakyat kecil.
Keempat, urai akar persoalan. Banjir bandang di Sumatera adalah hasil interaksi destruktif antara keserakahan manusia dan perubahan iklim. Ekspansi sawit dan industri kayu telah menggerus benteng alami. Hutan primer diganti perkebunan monokultur yang rakus air, tetapi tak mampu menahan limpahan hujan. Keuntungan hanya dinikmati segelintir oligarki, sementara kerugiannya ditanggung rakyat.
Gelondongan kayu yang hanyut bersama banjir adalah bukti telanjang pembalakan liar di hutan lindung dan taman nasional. Bekas gergaji dan potongan kayu yang masih segar menunjukkan bahwa itu bukan pohon lapuk, melainkan hasil penebangan yang belum sempat diangkut. Ini adalah akibat dari kebijakan durjana dan juga dari kelalaian kita semua.
Karena itu, bangkit dan bergeraklah sekarang. Kawal izin pemanfaatan hutan di daerah masing-masing. Hadiri musyawarah desa, forum publik, hingga diskusi kebijakan. Waspadai dan lawan setiap upaya perambahan hutan. Bagi para pengambil kebijakan, tegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Jangan ragu menolak pembukaan hutan yang tak berpihak pada kelestarian dan keselamatan rakyat.
Untuk para pemuda, jangan pernah ragu berdiri di garda terdepan. Alam yang sehat adalah masa depan kalian. Pertahankan masa depan itu dengan keberanian, meski harus berhadapan dengan keserakahan. Lakukan langkah kecil yang bermakna, menanam pohon, menjaga sungai, menyuarakan kebenaran.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas dan ia mampu menanamnya sebelum hari kiamat tiba, maka tanamlah.” (HR. Bukhari dan Ahmad)
Karena sesungguhnya, menyelamatkan alam adalah bagian dari iman—dan masa depan tak akan pernah lahir dari sikap diam.*