Artikel

Refleksi Tauhid dalam Kehidupan Berpancasila

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al A’raf ayat 172.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)’.”

Mari kita mengingatkan kembali diri sendiri. Bahwa, tugas kita yang pertama dan utama di dunia ini adalah menempatkan ketuhanan berada di posisi yang tertinggi. Inilah upaya kita untuk ber-Laa Ilaaha Ilallah. Untuk kalimat ini kita hidup dan untuk kalimat ini pula kita mati. Untuk kalimat ini pula kita berbuat dan untuk kalimat ini kita memilih untuk bersama atau berpisah. Semuanya harus karena Laa Ilaaha Illaallah.

Hidup Berasas Ketuhanan
Kalimat tauhid inilah yang akan menghasilkan manusia-manusia dengan peradaban yang tinggi dan menciptakan persatuan kokoh karena ideologi. Persatuan karena ideologi jelas lebih meresap kedalam jiwa dan kokoh, dibandingkan persatuan hanya karena persamaan organisasi. Apalagi kepentingan.

Kesadaran berkebangsaan karena tauhid ini pula yang membuat kita selalu siap untuk membela Tanah Air karena memang diperintahkan oleh agama kita yang mulia. Untuk mempertahankan kebangsaan karena tauhid ini tetap tinggi dan mulia pula, maka kita tidak ragu untuk mengorbankan harta dan menumpah darah. Karena, memang itu tugas dari Allah Ta’ala dan agama kita melarang penjajahan serta perbudakan. Persatuan kita adalah bersatu untuk menegakkan kalimat ini: tauhid Laa Ilaaha Ilaallah. Dan ini sejalan dengan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Toleransi kita juga berlandaskan kepada konsep tauhid ini bahwa setiap orang berkebebasan untuk menjalankan perintah agamanya masing-masing.

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (Surat Al Kafirun ayat 6).

Pada ayat itu, setiap orang memiliki hak untuk menjalankan perintah agamanya seraya dilarang untuk mencampuri, apalagi menindas hak orang lain untuk menjalankan perintah agamanya. Sebagaimana agama lain pun dilarang keras untuk mencampuri, apalagi menindas agama kita. Intinya, kita tidak boleh saling mengganggu.

Allah Azza wa Jalla menitipkan bangsa ini sebagai amanah yang harus kita jaga sebaik-baiknya. Dengan hikmah yang merupakan buah dari ilmu. Ilmu yang didapatkan dari Allah dan sunnah Rasul-Nya. Hikmah akan membawa kesejahteraan bagi rakyat semua. Bukan hanya kesejahteraan yang hanya berhak dimiliki oleh sekelompok orang dengan menjadikan kekuasaan yang mereka miliki sebagai senjata untuk menekan orang dan pihak yang tidak sehaluan dengan mereka. Agar keadilan bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Rakyat yang sebenar-benarnya yaitu seluruh lapisan bangsa Indonesia, bukan hanya mereka yang merasa berkuasa dan mewakili rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah membersihkan diri. Membersihkan diri agar terhindar dari kezaliman yang berasal dari “tangan” kita. Hingga benar-benar menjadi manusia yang berkeadilan dan beradab. Memanusiakan diri dengan menghamba kepada Allah Yang Maha Menciptakan saja. Bukan pada manusia, harta, atau jabatan. Mari bersama membangun Indonesia menjadi negeri yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat dan anak bangsa.

Doa untuk Bangsa
Sehingga apa yang jahat benar-benar akan lenyap. Kemudian, Allah Ta’ala berkenan dengan kuasa-Nya memilihkan pemimpin yang akan menegakkan keadilan untuk rakyat, bukan untuk sebagai alat golongan atau pesuruh partai.

Ada seorang saleh yang mengutip hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa sebaik-baik penguasa adalah dia yang mengunjungi ulama. Dan, seburuk-buruk ulama adalah dia mengejar-ngejar penguasa. Karena, penguasa yang sering mencari ulama berarti dia mencari akhirat. Sementara ulama yang mengejar-ngejar penguasa berarti dia mencari dunia.

Seorang ulama yang saleh berkata bahwa lalat yang mengerumuni bangkai memang menjijikkan, tetapi ulama yang menjilat-jilat kepada penguasa lebih menjijikkan dibandingkan lalat yang beterbangan di sekitar bangkai. Ulama yang menjilat pejabat seperti ini adalah ulama Su’, yang harganya lebih rendah dibandingkan lalat hijau yang mengerubungi bangkai.

Mendatangi penguasa boleh saja untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar, untuk mengingatkannya kepada amanah yang dipikulnya. Juga untuk mengingatkannya pada hari akhir; dimana dia akan menjalani hisab yang lebih berat dibandingkan hamba Allah yang lain karena amanah jabatan yang digenggamnya saat ini.

Semoga Allah Azza wa Jalla kuatkan bangsa ini dari segala rongrongan dan godaan dari syahwat kekuasaan dan keduniawian. Sehingga kita semua bisa hidup sejahtera dari cara-cara yang halal. Semoga Allah mampukan dan bantu kita menjadi negara yang kuat. Hingga kita kelak bisa membantu negara-negara terdekat yang terjajah. Sampai negara yang terjauh. Karena, seperti apa pun bentuknya, penjajahan adalah hal yang bertentangan dengan agama kita, juga perikemanusiaan dan perikeadilan.

Semoga Allah Ta’a juga karuniakan kepada kita pemimpin yang hebat yaitu pemimpin yang takut kepada Allah. Khusyu’ mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, menyanyangi rakyatnya, dan memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan bagi negaranya. Aamiin Allahumma Aamiin.*

Exit mobile version