Kenalilah Allah dengan Ilmu

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya, jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah ayat 120).
Di era digital dan sosial media saat ini, gerakan-gerakan yang bertujuan mengaburkan keyakinan kita kepada Allah Subahanu wata’ala dan Rasul-Nya makin marak. Upayanya tidak hanya sekadar pembelokkan halus, tetapi juga dilakukan semakin terbuka dan berani. Berkedok toleransi antar umat beragama atau penghormatan kepada adat budaya bangsa.
Sinkretisme
Upaya mengaburkan esensi beraqidah ini sebenarnya upaya lama yang dilakukan oleh iblis dan rekan sejawatnya dari bangsa jin maupun manusia. Agar kita semakin jauh dari aqidah yang murni dan tidak mengenal Allah sebagai Rabb semesta alam. Target iblis bukanlah agar kita sesat, tetapi iblis sudah menang manakala kita sudah ragu pada agama kita.
Bentuk kerja-kerja iblis untuk membuat kita ragu biasanya dengan menggunakan pola sinkretisme. Yaitu, mencampuradukkan antara satu keyakinan dengan keyakinan yang lain. Metode ini mengatasnamakan modernisasi, toleransi, kesetaraan, moderasi, dan berbagai macam nama lainnya. Sayangnya, ini kemudian digembar-gemborkan oleh sebagian kecil umat ini yang tidak paham akan agamanya sendiri. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.’ Kami bertanya; ‘Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?’ Beliau menjawab, ‘Siapa lagi kalau bukan mereka?’” (HR Musim)
Ambilah contoh dalam tren berpakaian saat ini, sebagai simbol moderasi, maka di dalam corak batik yang dipakai di instansi tertentu, terdapat gambar-gambar tempat-tempat beribadah semua agama. Patutlah kita ingat bahwa di dalam sebuah hadits shahih, dinyatakan bahwa kenakanlah pakaian baru, hiduplah mulia, dan matilah sebagai syahid. Seakan Rasulullah saw ingin berpesan kepada kita bahwa pakaian itu bukan hanya menutup aurat dan memenuhi syarat estetika belaka. Namun, pakaian yang kita kenakan haruslah membuat hidup kita lebih terpuji dan kelak, pantas mengantarkan kita bertemu dengan Allah Azza wa Jalla dalam keadaan syahid.
Pastinya orang-orang yang husnul khatimah diakhir hidupnya pernah memikirkan hal itu semasa hidupnya. Apakah pakaian yang dikenakannya berstatus halal dari asal dan bahannya. Apakah pakaiannya mengindarkan dirinya dari bahaya dan maksiat. Apakah pakaian yang dikenakannya pantas dikenakan manakala bertemu dengan malaikat dan menghadap Tuhannya. Misalnya, jangan sampai pakaian yang kita kenakan disaat shalat justru memuat gambar atau simbol yang membenarkan – apalagi men-syiarkan penghambaan kepada selain Allah Ta’ala.
Standar Hidup
Artinya setiap tindakan dan setiap pilihan yang kita ambil dalam hidup, mestilah dipikirkan baik-baik. Agar dapat bernilai ibadah dan menjadi bekal yang dapat diperhitungkan di akhirat nanti. Sebab, setiap hal dapat dikatakan bernilai ibadah manakala memenuhi dua syarat. Pertama, dilakukan ikhlas karena Allah Ta’ala. Bukan karena kebutuhan kita pribadi atau keluarga semata. Harus dijalan Allah dan mengikuti cara-cara yang diizinkan oleh Allah Azza wa Jalla. Jangan sampai kita mengaku di jalan Allah tetapi caranya bukan mengikuti apa yang telah diatur oleh Allah. Kedua, dilakukan sesuai dengan tuntunan dan teladan Rasulullah Muhamad saw. Barulah disebut sebagai ibadah.
Begitulah pula setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil dalam hidup. Semuanya harus berdasarkan standard operating system yang sudah Allah Ta’ala tentukan. Pastilah sangat berbeda makna dan nilai keberanian seorang mujahid yang berjuang di jalan Allah dengan keberanian seorang preman yang balap motor liar di jalanan. Yang satu berani mati karena Allah dan di jalan Allah. Yang satu berani mati karena maksiat dan melakukan hal yang tidak disukai Allah.
Orang-orang yang beriman setiap langkahnya selalu dibarengi dengan ilmu dan ketaatan. Ilmu akan hakikat kehidupan dan hakikat kematian. Ilmu akan kebesaran dan keagungan Allah Azza wa Jalla yang dibentangkan dalam setiap hikmah penciptaan-Nya. Sehingga setiap manusia yang memiliki iman akan mengenal Tuhannya dan memahami tujuan keberadaan dirinya.
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’” (QS. Al Imran ayat 190).
Usaha untuk mengaburkan dan memudarkan keyakinan kita sebagai orang beriman, sejatinya tidak akan pernah berhenti hingga akhir zaman. Sepanjang pertarungan antara iblis dan manusia berlangsung hingga hari pembalasan, maka sepanjang itulah perjuangan untuk bertahan dan membentengi umat ini akan terus digelar.
Namun, senjata untuk berjuang itu hanya satu: ilmu. Kenalilah Allah Azza wa Jalla dengan ilmu. Itulah sejatinya ilmu kehidupan yang paling utama dan tujuan tertinggi dari sebuah ilmu.
Sehingga setinggi apa pun ilmu yang dimiliki seseorang atau secanggih apa pun suatu ilmu, tetapi jika tidak mampu mengantarkan seseorang untuk semakin mengenal dan meyakini Allah sebagai Tuhan pencipta dirinya dan semesta alam, maka tidaklah itu bisa disebut sebagai ilmu hidup yang utama.
Juga, sebanyak apa pun ilmu pengetahuan yang dimiliki seorang ilmuan, tetapi jika itu malah semakin sombong dan menjauh dari Tuhannya, maka tidaklah dapat dikatakan ilmu yang dimilikinya bermanfaat; justru harus semakin waspadalah orang-orang disekitarnya karena ilmu itu justru berpotensi mendatangkan bahaya.*