Artikel

Lebaran Idulfitri Berbeda, Harus Ikut Siapa? Ini Penjelasannya

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustaz, tahun ini sepertinya umat Islam di Indonesia kembali menghadapi perbedaan dalam penetapan awal Syawal. Sebagai masyarakat awam, sebaiknya kami mengikuti yang mana? Dan mengapa hal seperti ini sering terjadi di Indonesia?

Hamba Allah.

Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Perbedaan penetapan awal Ramadhan, Idulfitri, dan Iduladha memang menjadi fenomena yang kerap terjadi di Indonesia. Hal ini bukan tanpa sebab, melainkan berakar pada perbedaan metode dan cara memahami dalil-dalil syariat dalam menentukan awal bulan Hijriah.

Dalam praktiknya, umat Islam mengenal dua pendekatan utama, yaitu rukyatul hilal (melihat hilal secara langsung) dan hisab (perhitungan astronomi). Keduanya memiliki dasar dari Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad ﷺ. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa umat Islam diperintahkan berpuasa dan berbuka ketika melihat hilal, dan jika tertutup mendung maka bulan digenapkan menjadi 30 hari. Sebagian ulama memahami hadis ini secara tekstual sehingga menekankan rukyat, sementara sebagian lainnya memahami bahwa “melihat” dapat dimaknai dengan pendekatan ilmu pengetahuan seperti hisab, terlebih dengan kemajuan astronomi saat ini. Perbedaan cara memahami dalil inilah yang kemudian melahirkan perbedaan penetapan.

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara Muslim. Namun, yang membedakan adalah cara menyikapinya. Di banyak negara, pemerintah atau otoritas keagamaan memiliki peran dominan sehingga ketika keputusan telah ditetapkan, umat Islam cenderung seragam dalam menjalankan puasa dan hari raya. Sementara di Indonesia, masyarakat memiliki ruang untuk mengikuti pandangan organisasi keagamaan masing-masing. Hal ini mencerminkan dinamika dan kekayaan khazanah keilmuan Islam, meskipun di sisi lain membuat perbedaan itu tampak lebih nyata di tengah masyarakat.

Dalam menyikapi hal ini, Islam mengajarkan dua hal penting, yaitu sikap lapang dalam menerima perbedaan dan pentingnya menjaga kebersamaan. Perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriah termasuk dalam ranah ijtihadiyah, yaitu perkara yang memang terbuka untuk perbedaan pendapat. Para sahabat Nabi dan para ulama besar sepanjang sejarah juga mengalami perbedaan dalam berbagai persoalan, namun mereka tetap menjaga persatuan dan tidak saling menyalahkan.

Di sisi lain, Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa ibadah puasa dan hari raya memiliki dimensi kebersamaan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa puasa adalah pada hari ketika kaum muslimin berpuasa bersama, dan Idulfitri adalah ketika mereka berhari raya bersama. Hal ini menunjukkan bahwa aspek kolektif dalam ibadah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam.

Karena itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam konteks kehidupan bernegara, umat Islam sebaiknya mengikuti keputusan pemerintah atau otoritas resmi dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya. Di Indonesia, keputusan tersebut diambil melalui sidang isbat oleh Kementerian Agama yang melibatkan para ulama, ahli astronomi, serta berbagai organisasi Islam. Proses ini dilakukan melalui musyawarah dengan mempertimbangkan aspek syariat dan ilmu pengetahuan.

Bagi masyarakat awam, mengikuti keputusan pemerintah merupakan pilihan yang bijak karena dapat menjaga persatuan umat. Namun demikian, kita tetap harus menghormati saudara-saudara kita yang memilih mengikuti pendapat lain, selama mereka memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Perbedaan ini tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi ruang untuk saling memahami dan menghargai.

Pada akhirnya, yang lebih penting dari sekadar perbedaan tanggal adalah bagaimana umat Islam dapat menjaga ukhuwah dan memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan serta merayakan hari raya dengan penuh kebersamaan dan ketakwaan. Wallahu a’lam bish shawab.*

KH Bachtiar Nasir