Kekerasan Sunyi di Tepi Barat, Studi Kasus Video 15 Detik

Oleh:
Ustaz Bachtiar Nasir
VIDEO 15 detik dari sebuah kebun zaitun di perbukitan kering Tepi Barat ini tidak sedang merekam “pelaku random di ladang kosong”. Ia merekam sejarah yang sedang dihapus, ekonomi yang sedang dihancurkan, dan sebuah bangsa yang perlahan didorong keluar dari tanahnya sendiri.
Dalam rekaman pendek itu, sekelompok orang berpakaian gelap terlihat bekerja dengan tenang dan sistematis, menebang pohon-pohon zaitun yang mestinya menjadi sumber hidup keluarga Palestina. Bukan satu ataupun dua, tetapi barisan pohon yang telah menghidupi generasi. Di belakang mereka, sebuah SUV terparkir santai, seolah ini adalah operasi rutin dan bukan tindakan kriminal terhadap kemanusiaan. Video pendek itu menjadi pintu kecil menuju realitas yang jauh lebih panjang dan kelam.
Dari satu kebun inilah gambaran luas tentang apa yang terjadi di seluruh Tepi Barat perlahan mencuat. Rekaman yang diunggah pada 9 November 2025 oleh akun @Palestine001_ itu diduga berkaitan dengan aksi pemukim Israel di wilayah perbukitan seperti South Hebron Hills. Yang perlu dipahami adalah bahwa kejadian ini bukanlah insiden tunggal. Ia merupakan bagian dari pola kekerasan pemukim terhadap petani Palestina yang semakin intens setiap musim panen zaitun, terutama sejak Oktober 2023.
Selama satu musim saja, ratusan serangan tercatat di seluruh Tepi Barat, banyak di antaranya menimbulkan korban jiwa atau kerusakan berat pada rumah, lahan, dan tempat ibadah. Lebih dari 4.000 pohon zaitun dan bibit dirusak atau dibakar sepanjang panen 2025, sementara di Hebron dan wilayah sekitarnya puluhan hingga ratusan serangan terjadi dalam beberapa minggu. Dengan demikian, video itu bukan pengecualian, melainkan cermin kecil dari statistik kekerasan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Akar Sejarah
Di Palestina, pohon zaitun bukan sekadar tanaman. Ia adalah akar kehidupan. Menghancurkan pohon zaitun berarti memutus sumber nafkah keluarga, karena sekitar setengah lahan pertanian Tepi Barat memang ditanami zaitun dan komoditas ini menyumbang hingga seperlima pendapatan rumah tangga petani. Satu pohon dapat hidup ratusan tahun dan menjadi harta turun-temurun.
Karena itu, menebang zaitun bukan hanya tindakan vandalisme terhadap pertanian, ia adalah serangan simbolik, upaya memutus kesinambungan sejarah, identitas, dan hubungan emosional antara masyarakat Palestina dengan tanah mereka. Ketika pohon-pohon tua itu tumbang, ingatan kolektif pun ikut dipaksa retak.
Hebron dan South Hebron Hills adalah panggung paling jelas untuk melihat bagaimana kekerasan pemukim bekerja sebagai sistem. Hebron adalah kota terbesar kedua di Tepi Barat, dihuni ratusan ribu warga Palestina yang hidup berdampingan dengan komunitas pemukim ekstremis yang jumlahnya jauh lebih kecil namun memiliki perlindungan kuat. Sejak 7 Oktober 2023, intensitas kekerasan melonjak hingga tiga kali lipat dan Hebron menjadi salah satu pusatnya. Selama musim panen 2025, serangan terhadap petani, perusakan lahan, pembakaran rumah, hingga penyerangan tempat ibadah menjadi kejadian hampir rutin.
Setiap kali kekerasan terjadi, kehadiran militer Israel yang muncul tidak serta merta menghadirkan keamanan. Sebaliknya, terlalu sering mereka tidak mencegah serangan, tidak melindungi warga Palestina, atau bahkan berada dalam posisi yang dianggap melindungi pemukim. Hampir semua kasus berakhir tanpa hukuman. Ketika impunitas mencapai angka sekitar 90%, sulit lagi menyebutnya sebagai “kegagalan aparat”; ia lebih tampak sebagai kebijakan diam-diam yang membiarkan kekerasan berlangsung.
Masafer Yatta, daerah pedesaan di South Hebron Hills, memperlihatkan wajah paling telanjang dari bagaimana hukum, militer, dan pemukiman digunakan sebagai alat pengusiran paksa. Terdiri dari belasan desa kecil dengan lebih dari seribu penduduk, kawasan ini sejak 1980-an ditetapkan sebagai Firing Zone 918, zona latihan militer.
Putusan Mahkamah Agung Israel pada 2022 membuka jalan bagi pengusiran massal, dan sepanjang 2025 gelombang pembongkaran rumah, sumur, panel surya, hingga sekolah berlangsung tanpa henti. Lebih dari seratus struktur dihancurkan, ratusan warga mengungsi, dan banyak anak menghadapi risiko putus sekolah. Ketika penebangan zaitun, pembatasan air, dan serangan pemukim digabungkan, Firing Zone 918 berubah menjadi mekanisme pembersihan etnis yang perlahan tetapi konsisten: membuat kehidupan di sana mustahil sampai penduduk pergi dengan sendirinya.
Di titik ini penting untuk menolak narasi “dua pihak yang saling serang”. Faktanya, kekuasaan sangat timpang. Pemukim Israel mendapatkan perlindungan de facto dari militer dan sistem hukum, sementara warga Palestina hidup dalam struktur pendudukan yang membatasi gerak, akses air, dan kontrol lahan. Ketika pemukim menyerang, kasusnya kerap tidak pernah dibawa ke meja hukum. Sebaliknya, warga Palestina dapat ditangkap hanya karena protes. Secara internasional, PBB melalui Resolusi 2334 tahun 2016 telah menegaskan ilegalitas pemukiman, sementara bantuan militer miliaran dolar per tahun terus mengalir ke Israel dari negara-negara pendukungnya.
Lembaga-lembaga HAM internasional berkali-kali memperingatkan bahwa pola ini bergerak menuju atau telah memasuki kategori pembersihan etnis dan apartheid. Kekerasan di kebun zaitun, di Hebron, dan di Masafer Yatta bukan insiden liar; ia adalah bagian dari arsitektur pendudukan yang terbangun rapi.
Semua ini menghadirkan pertanyaan moral sekaligus strategis. Video 15 detik itu sesungguhnya adalah alarm nurani, pengingat bahwa di balik satu pohon yang tumbang ada keluarga yang kehilangan nafkah dan ada sejarah yang dirampas. Kekerasan pemukim tidak terjadi di ruang kosong, ia tumbuh subur karena negara memberi perlindungan, dana, dan impunitas. Karena itu kecaman tidak cukup. Tekanan nyata harus diarahkan pada pemukiman ilegal dan semua kebijakan yang memfasilitasi pengusiran paksa. Narasi publik juga harus diluruskan: ini bukan konflik dua pihak setara; ini adalah ketidakimbangan kekuasaan yang ekstrem, di mana satu pihak memiliki negara, militer, hukum, dan sumber daya, sementara pihak lain berjuang mempertahankan rumah, kebun, dan hak hidupnya.
Pada akhirnya, video itu menjadi simbol kehancuran yang direncanakan, pohon-pohon tua ditebang agar generasi muda Palestina kehilangan akar ekonomi dan akar sejarah di tanah mereka sendiri. Ia juga menjadi tes moral bagi dunia apakah kita melihatnya hanya sebagai konten viral, atau berani menyebutnya sebagai bagian dari pembersihan etnis bertahap yang dibungkus legalitas semu?
Pertanyaannya bukan lagi “apa yang sedang terjadi di sana?”, melainkan: sampai sejauh mana dunia rela membiarkan penebangan masa depan satu bangsa, yang dimulai dari menebang pohon-pohon zaitun mereka hari ini?*
