Inspirasi Guru Ngaji “Pulau Ulama”

Oleh:
Mahmud Budi Setiawan Lc.*
ADA kata-kata mutiara Arab (mahfūẓāt) yang dulu penulis dengar langsung dari Ustadz Abdurrahman, guru mata pelajaran Ushul Fiqih di Ma’had Al-Ittihad Al-Islami Camplong, Sampang, Madura pada tahun 2005 yang sampai saat ini tak lekang dari benak penulis. Redaksinya demikian:
فِيْ أَيِّ أَرْضٍ تَطَأُ فَأَنْتَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ إِسْلَامِهَا
“Di manapun anda berada, maka anda bertanggung jawab terhadap keislamannya.”
Di manapun berada, memang dakwah Islam menjadi tanggung jawab muslim. Terlebih, jika dia adalah jebolan pesantren atau yang memang dididik khusus untuk mempelajari syariat Islam, maka tanggung jawabnya jauh lebih besar. Dalam Al-Qur`an kegiatan kelompok ini dinamakan tafaqquh fiddīn (memperdalam pengetahuan tentang agama Islam).
Terkait hal ini, Allah berfirman: “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah [9]: 122)
Orang-orang yang memiliki karakter demikian, berdasarkan gambaran sabda Nabi, akan mendapat kemuliaan dari Allah sebagaimana berikut:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Siapa yang dikehendaki Allah mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikan pemahaman untuknya dalam agama.” (HR. Bukhari)
Ibnu Baṭṭal dalam “Syarh Ṣahīh al-Bukhāri” (2003, I: 154) menjelaskan beberapa pelajaran dari hadits ini:
فِيْهِ فَضْلُ الْعُلَمَاءِ عَلٰى سَائِرِ النَّاسِ. وَفِيْهِ فَضْلُ الْفِقْهِ فِى الدِّيْنِ عَلٰى سَائِرِ الْعُلُوْمِ، وَإِنَّمَا ثَبَتَ فَضْلُهُ، لِأَنَّهُ يَقُوْدُ إِلَى خَشْيَةِ اللهِ، وَالْتِزَامِ طَاعَتِهِ، وَتَجَنُّبِ مَعَاصِيْهِ
“Di dalamnya (terkandung) keutamaan ulama atas seluruh manusia. Di dalamnya juga (ada) ketuamaan pemahaman agama atas seluruh ilmu. Keutamaannya ditetapkan demikian tidak lain karena ia bisa mengantarkan pada rasa takut kepada Allah, komitmen mentaati-Nya serta menjauhi pelanggaran kepada-Nya.”
Termasuk bagian dari penyebaran dakwah Islam dan bagian dari pemahaman agama adalah mengajarkan Al-Qur`an. Dalam salah satu haditsnya, Nabi Muhammad e bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Orang yang paling baik di antara kalian adalah seorang yang mempelajari Al Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
Dalam kitab “Fath al-Bāri (1379, IX: 76), Al-Hāfiẓ Ibnu Hajar al-‘Asqalāni memberikan catatan terkait hadits ini:
الْقُرْآنُ أَشْرَفُ الْعُلُومِ فَيَكُونُ مَنْ تَعَلَّمَهُ وَعَلَّمَهُ لِغَيْرِهِ أَشْرَفُ مِمَّن تَعَلَّمَ غَيْرَ الْقُرْآنِ
“Al-Qur`an merupakan ilmu yang paling mulia. (Dengan demikian) maka orang yang mempelajarinya serta mengajarkannya kepada yang lain adalah lebih mulia daripada yang belajar selain Al-Qur`an.”
Rupanya, kata-kata mutiara tersebut, beberapa ayat dan hadits tersebut benar-benar tercermin dari Guru Ngaji Al-Qur`an bernama Ustadz Ihsan Farid yang menjadi obyek penelitian dalam tulisan ini.
Pada dasarnya, dengan kecerdasan dan kemahirannya membaca dan memahami Al-Qur`an sejak di pesantren Al-Ittihad Al-Islami, beliau memiliki kesempatan untuk mendapat beasiswa dan meneruskan kuliah baik di dalam dan luar negeri. Hanya, saja jalan yang dipilih adalah kembali ke kampung halaman menyebarkan dakwah Islam.
Sebagai orang pulau Pagerungan Kecil, ia merasa punya tanggung jawab mengajarkan Al-Qur`an, memberantas buta aksara Al-Qur`an dan memajukan pendidikan Islam di pulaunya. Dalam proses dakwah ini, tentunya banyak sekali inspirasi dan pelajaran yang didapat dari hayat perjuangan beliau. Semoga tulisan ini bisa menambah spirit para guru Al-Qur`an dan menginspirasi perjuangan dalam mengajarkan Islam.
==========
Pagi itu hawa terasa sejuk. Rumput-rumput bermesraan dengan embun pagi. Semilir angin menerpa wajah dengan sangat lembut. Suara burung bersahutan menyambut fajar. Suasananya begitu indah memesona. Asri menentram jiwa. Dalam kondisi demikian, di pelataran rumah, terlihat sepasang suami istri sedang menghabiskan waktu bersama-sama. Keduanya merupakan guru ngaji kampung pulau Pagurungan Kecil yang tergolong aktif.
Di tengah asyiknya bercengkrama, tiba-tiba sang istri bertanya, “Mas bagaimana nanti klo anak kita besar dan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi?” Sang suami menjawab, “Anak-anak kita sudah ditentukan kadar rezekinya oleh Allah Subhanahu wata’ala.”
Mendengar jawaban sang suami, istri pun menimpali, “Bagaimana kalau kita berhenti saja menjadi guru ngaji, kita cari pekerjaan lain agar bisa membantu sekolah anak kita?” Sontak saja sang suami menjawab dengan nada yang agak tinggi, “Apa pun yang terjadi kita akan tetap mengajarkan Al-Qur`an, karena ini adalah pekerjaan terbaik menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku pernah mendengar riwayat, ‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur`an serta mengamalkannya.’ (HR. Bukhari)”
“Di sisi lain, Allah subhanahu wata’ala akan memberi yang terbaik untuk kehidupan kita. Seandainya di muka bumi tidak ada seorang pun yang perhatian terhadap al-Qur`an, maka kita berkewajiban mengajarkan al-Qur`an.” Mendengar pemaparan tegas sang suami, istri pun terdiam seketika dan meminta maaf atas kekhilafannya. Sang istri pun semakin lebih mantap menemani perjuangan suami menjadi guru Al-Qur`an di Pagurungan Kecil.
Kisah ini merupakan kejadian nyata dari Ustadz Farid yang menjadi inspirasi dalam tulisan ini. Nama lengkapnya Ihsan Farid. Tinggal di Dusun Korma, Pagerungan Kecil. Kecamatan Sapeken. Kabupaten Sumenep Madura. Pulau ini terhitung kecil. Jika dikelilingi, kira-kira akan mencapai titik tolak pertama sejauh 4 kilometer. Uniknya, meski masih masuk wilayah Madura, bahasa sehar-hari mereka adalah bahasa Bajau atau Bajo, Mandar dan Bugis, karena konon nenek moyang mereka berasal dari Sulawesi (baca: https://posbi.id/budaya-pulau-pagerungan-kecil-sapeken-sumenep-jawa-timur/ diakses pada, 19/11/2022).
Beliau dilahirkan di Sumenep 8 Maret 1986. Hobi sejak kecil adalah bermain sepak bola. Cita-citanya yang sampai sekarang dipegang teguh olehnya adalah ingin menjadi guru ngaji yang sukses. “Profesi saat ini dan sampai mati insya Allah, jadi guru ngaji,” tutur ustadz yang beristri satu dan anak empat ini di sela-sela wawancara via WA.
Pulau Pagerungan Kecil secara geografis terletak di Madura tepatnya madura Paling Timur. Dari Kalianget (Pelabuhan Sumenep) ke Sapeken hingga pulau ini, ditempuh 18 jam dengan perjalanan menggunakan kapal laut. Saat ini sudah ada pesawat mini dari Sumenep ke Pagerungan Besar sehingga bisa ditempuh jauh lebih cepat.
Sekilas tentang “Pulau Ulama”
Mayoritas penduduk pagerungan kecil berpropesi sebagai nelayan. “Termasuk ayahanda saya dulu juga pernah menjadi nelayan sebelum berpindah profesi ke meubeler,” cerita Ustadz Ihsan Farid kepada penulis. Pagerungan Kecil ini juga dikenal sebagai “Pulau Ulama”. Disebut demikian, karena yang membuka pulau ini adalah ulama seperti Syeikh Abdu Rauf, Syeikh Abdul Ghani, Pung Bondak dan Puang Abu Hurairah (Ayahanda Ust. Ad-Dailamy pendiri Pesantren Abu Hurairah di Pulau Sapeken).
Secara umum, meski disebut “Pulau Ulama”, masih banyak masyarakat yang belum paham tentang ilmu Al-Qur’an. Ini membuat Ustadz Ihsan Farid semakin bersamangat untuk menjadi Guru Ngaji. Pada zaman dahulu, pengajaran Al-Qur’an yang penting sudah bisa baca dan lancar tanpa memperhatikan tahsin. Sedangkan zaman sekarang, di samping lancar harus sesuai tajwid dan tahsinnya. Terkait hal ini Ustadz Ihsan bercerita, “Dalam setiap kali pertemuan saya selalu sampaikan bahwa masih banyak yang harus kita pelajari tentang tilawah.”
Masa kecil Ustadz Ihsan Farid hingga SMP dihabiskan di Pulau ini. Pada fase ini juga, beliau pernah mondok di pesantren Al-Barkah. Setelah itu, melanjutkan studinya di Ma’had Al-Ittihad Al-Islami Camplong, Madura. Pasca lulus dari MII Camplong tahun 2006, sempat beberapa semester kuliah di STID Mohammad Natsir Jakarta. Kemudian berhenti karena mendapat beasiswa untuk studi di Universitas Al-Azhar.
Beasiswa ke negeri Kinanah ini tak jadi diambil. Kemudian, Ustadz Ihsan Farid mengabdi di Probolinggo, bergabung bersama alumni-alumni MII Camplong kala itu. “Alhamdulillah di sana saya banyak belajar tentang metodologi pembelajaran Al-Qur’an (Metode Ummi), sehingga menyebabkan saya optimis untuk pulang ke kampung halaman dan mengajarkan Al Qur’an kepada keluarga adik dan anak anak di pulau,” cerita beliau dengan penuh semangat.
Menjadi Guru Ngaji di Madrasah Sabilut Taqwa
Tahun 2009 Ustadz Ihsan Farid pulang ke Pagerungan Kecil, kemudian ikut andil dalam membina anak-anak di Pesantren Persis Al-Barkah Pagerungan Kecil, dan diamanahi menjadi kepala Madrasah Diniyah Sabilut Taqwa masuk pada siang hari. Sebelumnya, madrasah ini dikelola teman-teman seniornya. Saat itu, jadwal masuk hanya 3 kali dalam seminggu.
Ketika Ustadz Ihsan datang dan diamanahi mengelola madrasah ini, beliau membuatan gebrakan baru dengan mengubah metode pembelajaran lebih fokus pada tahsin Al-Qur’an. Ternyata inisiatifnya sukses dan diminati oleh berbagai kalangan. Indikator kesukseannya di antaranya: Pertama, masjid yang dipakai untuk tempat belajar penuh. Kedua, sudah tidak bisa menampung santri. Ketiga, untuk mengatasinya maka dibuka kelas baru dengan menggunakan rumah-rumah jamaah masjid.
Dalam madrasah Sabilut Taqwa, guru-guru yang mengajar bisa disebut sebagai guru relawan. Mengapa disebut demikian? Karena mereka murni mengajar karena keinginan dan kerelaan mereka dan mereka pun tahu kalau mereka tidak digaji. Kalapun ada uang bulanan untuk mereka, itupun tak layak disebut gaji. Dalam sebulan guru menerima paling banyak: 13.000 rupiah. Ini terus berjalan dari 2009 hingga 2019.
Untuk hal ini, memang tidak bisa dibandingkan dengan intensif guru ngaji di kota-kota besar, misalnya Jakarta. Tapi uniknya, di “Pulau Ulama” ini, mereka tetap bisa konsisten untuk menjadi guru ngaji dengan kondisi sesulit apapun.[1] Penulis jadi ingat gambaran Al-Qur`an yang menggambarkan kisah-kisah para Nabi dalam dakwahnya. Misalnya ungkapan Nabi Nuh ‘Alaihis Salam kepada umatnya:
إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ
“Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka.” (QS. Yunus [10]: 72) Sebuah ungkapan keikhlasan yang patut menjadi teladan para guru ngaji.[2]
Sedikit profil Sabilut Taqwa. Cikal bakal Sabilut Taqwa, pada awalnya tidak punya nama. Lembaga ini sudah berjalan sejak tahun 2004. Sistemnya masuk tiga kali dalam seminggu. Saat itu, yang mengajar sekaligus pendirinya adalah Ibu Nur Hafidzah (sampai sekarang masih aktif mengajar). Kemudian tahun 2006-2007 berubah nama menjadi Al-Barkah 2. Setelah dipimpin oleh Ustadz Ihsan Farid, lembaga pendidikan ini diganti menjadi Sabilut Taqwa, sesuai dengan nama masjid yang menjadi tempat pendidikan pertama.
Lembaga pendidikan ini resmi menjadi Madrasah Diniyah Sabilut Taqwa sejak tahun 2008 dan banyak menelurkan alumni-alumni yang orang katakan lebih pinter ngajinya dari pada santri MTs/SMP di lingkugan sekitar. Dan ini terbukti setelah mereka masuk ke pondok mereka serang menjadi santri nomor satu dalam hal tilawah. Setiap ada lomba tilawah pasti ada yang juara 1, 2 dan 3.
Bila dibagi periodenya, Sabilut Taqwa memiliki dua generasi: Pertama, generasi Masjid. Yaitu santri yang diajar di dalam masjid generasi 1-5. Kedua, generasi Gedung Sekolah yaitu generasi yang proses belajar mengajarnya sudah di ruang kelas.
Perubahan generasi masjid menjadi sekolah cerita singkatnya demikian. Ada seorang muhsinin (penderma) yang mewaqafkan tanahnya seluas 5000 meter persegi sehingga bisa dijadikan tempat untuk membangun madrasah Sabilut Taqwa. Pendiriannya berdasarkan urunan dan swadaya masyarakat.
Simak cerita Ustadz Ihsan Farid berikut ini, “Awalnya kami kesulitan mencari lahan untuk membangun gedung sekolah, akhirnya semua guru berangkat kepulau lain barangkali ada yang mau berpartisipasi untuk pembangunan, tapi hasilnya nihil. Akhirnya, guru-guru terutama dewan ustadz membikin warung diniatkan hasilnya untuk membeli tanah, tapi itu pun tidak berjalan lama, akhirnya kami bertamu kerumah H. Rasyid yang pada waktu itu beliau sebagai wali santri di MDT Sabilut Taqwa. Kami sampaikan perihal masalah kami. Atas takdir Allah, beliau punya tanah dan tanah itu berikut pohon-pohon yang tumbuh di atasnya juga diwaqafkan dan beliau bersedia membantu semua kebutuhan pembangunan dan kebetulan beliau juga punya yayasan sehingga kami bernaung di bawah yayasan tersebut.”
Setelah berhasil meluluskan 10 generasi, maka dewan guru bermusyawarah membuat trobosan baru dimana program ini belum ada di sekolah sekolah lain di Pulau Pagerungan Kecil yaitu: masuk fullday. Dari pagi sampai sore, dan program ini disambut baik oleh semua kalangan.
Suka Duka Jadi Guru Ngaji
Sungguh sangat menggembirakan profesi guru ngaji ini. Sebab, sebagaimana penjelasan Nabi, profesi ini adalah termasuk yang terbaik. Di samping itu, dengan mengajar ngaji, guru bisa bergaul dengan banyak anak dan berbagi ilmu. “Merupakan kebahagiaan tersendiri jika rumah kita dipenuhi dengan suara tilawah anak anak,” ungkap Ustadz Ihsan Farid. Hanya saja, memang dalam menjalankannya tak selalu berjalan mulus. Ada juga duka dalam memperjuangkannya. Suatu hari, pernah ada sebuah peristiwa yang sangat membuatnya terpukul sebagai Kepala Madrasah.
Ceritanya demikian. Ada seorang guru wanita (Ustadzah) yang selama mengajar tidak pernah memberitahu suaminya tentang insentif yang diterimanya saat mengajar di Sabilut Taqwa. Pada bulan berikutnya, Ustadz Ihsan mengutus satu orang untuk mengantarkan insentif ke rumah ustadzah tersebut. Sesampai di tempat, tak disangka yang menerima amplop tersebut adalah suaminya. Kemudian ketika dibuka, ternyata isinya hanya 13.000. Besoknya ustadzah itu meminta izin untuk berhenti mengajar karena sudah tidak diperbolehkan lagi oleh suaminya. “Saya merasa bersalah menjadi seorang kepala madrasah tidak becus,” tutur Ustadz Ihsan Farid yang memang hanya bisa memberikan 13.000 untuk para guru perbulannya.
Apa guru-guru yang lain terpengaruh dengan kejadian ini? Ternyata mayoritas tidak terpengaruh. Mereka semakin semangat mengajar. Ustadz Ihsan bercerita, “Setiap pertemuan dengan dewan guru, saya selalu memotivasi mereka untuk istiqamah mengajar karena tugas kita adalah mengajar, biarkan urusan gaji Allah yang menjadi tumpuan, meski kita tetap berusaha untuk senantiasa menjadi lebih baik.”
Duka lain yang paling sering dirasakan adalah ketika kebutuhan rumah tangga sudah menuntut, maka dada harus banyak dielus, karena guru ngaji dikenal dengan keikhlasannya, sehingga orang lain pun akan mengatakan biasa guru ngaji ikhlas. Ketika tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga berbenturan dengan tanggung jawab sebagai guru ngaji, maka disinilah seorang guru ngaji diuji. Bayangkan! Ustadz Ihsan Farid yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak empat, apa cukup dengan 13.000 perbulan untuk menafkahi keluarganya?
Lalu bagaimana para guru bisa mencukupi kebutuhan keluarganya? Untuk menghadapi kesulitan ekonomi, guru-guru punya pekerjaan masing-masing. Ada yang malamnya berburu ikan di laut sampai shubuh; ada yang mengambil upah dari jualan es 10 ribu dan ketika laku semuanya dapat upah 2000; ada pula yang menjalankan odong-odong di luar jadwal pelajaran. Semuanya dilakukan agar aktivitas guru ngaji berjalan dan kebutuhan keluarga terpenuhi walau dengan sangat sederhana.
Alumni-alumni Sabilut Taqwa rata-rata setelah lulus dari tingkat dasar, melanjutkan ke MTs Al-Barkah yang berdomisili di Pagerungan Kecil juga. Ada juga yang melanjutkan ke luar pulau, misalnya: Ma’had Al-Ittihad Al-Islami, Camplong, Sampang, Madura sesuai dengan keinginan orang tuanya serta pesantren-pesantren lainnya.
Ustadz Ihsan Farid sendiri tidak ada pekerjaan sampingan. Hari-harinya diisi penuh untuk mengajar Al-Qur`an. Kegiatan di Sabilut Taqwa: dari Senin – Kamis, dari jam 8-10 mengisi pembinaan tahsin dan Tahfidz perhalaqoh (permajelis/kelas). Sedangkan jam 12.00- Ashar KBM Ulumuddin. Sedangkan Jum’at untuk olah raga. Dan hari Sabtu-Ahad juga tak lepas dari kegiatan belajar Al-Qur`an.
Sampai saat ini guru yang mengajar di madrasah Sabilut Taqwa berjumlah 18 orang (yang dibagi dua. 9 menjadi guru Al-Qur`an, dan 9 yang lai menjadi guru diniyah kelas). Sedangkan santrinya 118.
Iuran wajib bulanan yang tadinya diambil dari santri sejak awal berdiri hingga tahun 2019, yang mana bisa memberi intensif guru sebanyak 13.000 pebulan, kemudian diganti sistemnya oleh Ustadz Ihsan Farid. Hal ini, dilakukan untuk sedikit bisa menaikkan insentif para guru. Maka sejak tahun 2020 hingga sekarang, diberlakukan sistem infak 2000 perhari setiap mengaji, sehingga bisa mendongkrak insentif para guru. Tadinya yang 13.000 menjadi 200.000 perbulan. Bayangkan! Meski dinaikkan 200.000 apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan para guru ngaji? Yang pasti, mereka tetap istiqamah menjalaninya bertahun-tahun.
Ustadz Ihsan dalam wawancara yang dilakukan oleh penulis menjelaskan dengan diawali pertanyaan, “Gaji 200.000 dengan gaji sebulan apa cukup? Sejujurnya, nggak cukup, saya juga kadang heran kenapa gaji 200.000 ribu itu tidak membuat guru guru mengeluh.” Sedangkan beliau sendiri, tidak ada sambian lain –sebagaimana keterangan sebelumnya—beliau full ngajar di pesantren NU, Al-Barkah dan Sabilut Taqwa. Kalau ngajar di NU, beliau diberi insentif 500 ribu per enam bulan. Ustadz Ihsan melanjutkan, “Jadi sebenarnya insentif guru di sini kalau dihitung-hitunh, dianggap tidak ada karena semua habis untuk bensin.”
Kendala lain bagi seorang guru ngaji di Sabilut Taqwa adalah listrik. Dalam sehari, listrik hanya menyala selama 2 jam. Padahal anak-anak juga ngaji bakda Maghrib sampai Isya. Sebenarnya, ada PLTD tapi bayarnya 400 ribu peerbulan dan sekarang sudah dinon aktifkan, karena BBM naik. Tapi semua itu tidak menyurutkan para guru dan santri untuk mengajar dan belajar Al-Qur`an.
Itu tadi sekilas tentang aktivitas Ustadz Ihsan Farid di madrasah Sabilut Taqwa sebagai Guru Ngaji. Setelah digali lebih jauh, rupanya perhatian beliau bukan saja mengajarkan Al-Qur`an kepada anak-anak, tapi juga untuk orang-orang yang sudah tua. Mereka ini masuk kelas malam dengan waktu tersendiri.
Pak Rahmat Usia 45 Tahun Tetap Semangat Belajar Al-Qur`an
Salah satu binaan Ustadz Ihsan Farid ada namanya Pak Rahmat berusia 45 tahun. Bapak ini belajar ngaji dari nol. Dari kecilnya, tidak dipentingkan pendidikan ngaji oleh orang tuanya; yang penting adalah kerja. Setelah tua,[3] dia baru sadar bahwa dirinya harus bisa ngaji. Sampai-sampai suatu kali, dia bermimpi masuk neraka karena tak bisa ngaji. Ia pun mendatangi Ustadz Ihsan Farid untuk memohon agar diajarkan membaca Al-Qur`an. Kemudian permintaan itu disanggupi dengan memakai metode Ummi sampai akhirnya bisa membaca Al-Qur`an.
Suatu hari, Ustadz Ihsan Farid singgah shalat di kampung sebelah. Tiba-tiba, beliau terharu karena ternyata bapak itu menjadi imam shalatnya. Dengan nuansa keharuan dengan mata berkaca-kaca, dalam batin beliau berujar, “Alhamdulillah….murid saya yang belajarnya dari usia tua tapi sekarang sudah bisa jadi imam.” Pak Rahmat ini profesinya sebagai nelayan dan menariknya beliau juga suka memberi amplop untuk anak tahfizh Al-Qur`an.
Dzul Islam Santri Cacat yang Semangat Belajar Al-Qur`an
Selain santri muda, dewasa dan tua yang normal, Ustadz Ihsan juga mempunyai santri yang cacat fisiknya.[4] Baginya, Al-Qur`an harus diajarkan kepada siapa saja. Ada seorang santri bernama Dzul Islami. Seorang santri yang kakinya bengkok.
Dari mulai sekolah dasar diniyah, anak ini sudah terlihat semangat belajar Al-Qur`an. Tidak ada pelajaran lain yang disukainya. Ini menjadi perhatian Ustadz Ihsan Farid. Setiap pulang sekolah dari masjid hingga ke rumah, oleh santri ini pasti diisi dengan ngaji, sampai suaranya terdengar oleh orang-orang di kampung. Orang tuanya nelayan dan tukang kayu.
Setelah lulus dari diniyah (masih belum resmi), kemudian masuk Al-Barkah yang mana yang membinanya adalah Ustadz Ihsan Farid. Suatu ketika ada lomba Al-Qur`an. Ia jadi juara satu. Meski kondisinya cacat, tapi dengan Al-Qur`an dia bisa berprestasi di bawah bimbingan Ustadz Ihsan.
Sebenarnya, awalnya orang tuanya tidak mau menyekolahkannya karena kendala biaya. Tapi, karena Ustadz Ihsan Farid sering memberi pemahaman kepada orangtuanya bagaimana menyekolahkan anak bahwa rezekinya akan diatur oleh Allah. Setelah diberi pemahaman, akhirnya orang tuanya mau. Untuk berjuang membantu anak ini bisa melanjutkan studi ke tingkat lebih lanjut, Ustadz Ihsan sampai pernah mengantarkan Dzul Islam untuk mondo ke Pesantren MII Camplong dengan mengendarai perahu yang memuat kayu selama 4 hari 4 malam. Perjalanannya cukup lama yaitu sampai empat hari dari Pulai Pagerungan Kecil. Yang membuat lama, karena itu adalah perahu memuat kayu. Normalnya, kalau naik perahu biasa bisa sampai dalam waktu satu hari. Tetapi, semua itu dilakukannya agar Al-Qur`an ini bisa dipelajari oleh semua orang baik yang normal maupun cacat.
Sekarang Dzul Islam sudah kuliah di Darul Wahyain sekolahnya Ustadz Rasyid Ba’asyir. Setiap kali orang tua Dzul Islam bertemu Ustadz Ihsan Farid, ia meneteskan air mata sembari berkata, “Ini karena usaha kamu.” Inilah di antara kisah singkat perjuangan Ustadz Ihsan Farid dalam mengajarkan Al-Qur`an di “Pulau Ulama” (Pagerungan Kecil). Semoga menjadi inspirasi bagi para guru ngaji.
Kalau ditelusuri di Indonesia, sangat mungkin masih banyak daerah-daerah di kepulauan dan lahan dakwah lainnya yang kondisinya lebih sulit. Tapi, setidaknya dari Ustadz Ihsan Farid penulis mendapatkan banyak mutiara hikmah, di antaranya: Pertama, kesadaran akan keluhuran profesi menjadi guru Al-Qur`an, menjadi tenaga dahsyat yang membuat guru ngaji itu sabar, tabah dan tahan dalam menghadapi segala rintangan dalam perjuangan mengajarkan Al-Qur`an.
Kedua, dengan segala potensi yang dimiliki, sebenarnya ada banyak peluang untuk berkarir lebih baik di luar pulau. Namun, Ustadz Ihsan Farid memilih untuk tetap mengajar di pulaunya. Sebuah pilihan berani yang jarang dipilih oleh rekan-rekan sebayanya yang telah sukses menjadi guru Al-Qur`an di berbagai kota di Indonesia. Hanya hati yang ikhlas dan hanya mengharap balasan dari Allah yang mampu menjali ini semua.
Ketiga, jangan pernah khawatir menjadi guru Al-Qur`an. Di tengah rintangan dan kesulitan yang dihadapi oleh Ustadz Ihsan Farid, pada kenyataannya selalu dibukakan jalan keluar oleh Allah Ta’ala. Jalan guru ngaji adalah jalan sunyi yang tidak semua betah berjalan di dalamnya. Tapi, kemuliaan yang disandangnya akan membuat cemburu orang-orang yang tahu hakikatnya kelak di akhirat.
Keempat, kegiatan-kegiatan seperti ini perlu adanya sokongan dari orang-orang muslim yang berkelapangan harta. Perlu adanya kolaborasi antara guru ngaji dengan orang yang punya harta. Dalam perjalanannya, Ustadz Ihsan Farid sampai diperjumpakan dengan orang yang mewaqafkan tanahnya untuk pembangunan gedung madrasah Sabilut Taqwa.
Kelima, Ustadz Ihsan Farid mempunyai cita-cita luhur untuk menjadi Guru Ngaji Sukses. Suatu profesi yang oleh kebanyakan orang tidak begitu dilirik. Beliau sampai pada prinsin: “Berjuang menjadi guru ngaji hingga mati.” Bagi beliau, cita-cita ini harus dipegang tegus sampai mati.
Penulis jadi ingat kata-kata KH. Bachtiar Nasir, “Al-Qur`an itu agung, maka orang yang dekat dengan Al-Qur`an maka akan menjadi manusia agung.” Semoga, akan semakin banyak orang-orang sebagaimana Ustadz Ihsan Farid yang peduli terhadap pengajaran Al-Qur`an di manapun berada dan apapun keadaannya, walau di pulau-pulau terpencil sekalipu sebagai mana di “Pulau Ulama”.
Referensi
Ṣaḥīḥ al-Bukhāri, karya Imam Al-Bukhari
Fatḥ al-Bāry, karya Ibnu Hajar Al-Asqalany
Syarh Ṣaḥīḥ al-Bukhāri, karya Ibnu Baṭṭal
Kisah Kaum Salaf Bersama Al-Qur`an, Dr. Badar bin Nashir Al-Badar
Balita Pun Hafal Al-Qur`an, karya Salafuddin Abu Sayyid
Wawancara dengan Ustadz Ihsan Farid dari 11 – 15 November 2022
[1] Ali bin Husein pernah berkisah, ada seorang ulama bernama Isa bin Mina alias Qalun pada suatu hari kehilangan pendengarannya (jadi tuli). Namun, kondisi sulit tidak membuatnya putus asa dari mengajar Al-Qur`an. Beliau masih mengajarkan Al-Qur`an dengan hanya melihat kedua bibir seorang pembaca. (Baca: Dr. Badar, Kisah Ulama Salaf Bersama Al-Qur`an, 2017: 613). Maka tidak ada alasan untuk putus asa bagi pengajar Al-Qur`an, sesulit apapun kondisinya.
[2] Kalau kita baca dalam kisah ulama salaf banyak teladan yang luar biasa. Mereka tetap istiqamah dalam mengajarkan Al-Qur`an dan terutama mengharap upah dari Allah Ta’aa. Suatu hari, ada orang laki-laki terkemuka dari Hilwan belajar menghafal Al-Qur`an kepada ulama ahli Al-Qur`an bernama Imam Hamzah. Ia berhasil belajar menghafal sampai khatam bersama beliau. Lalu, laki-laki itu menitipkan uang seribu dirham kepada anak Imam Hamzah agar diberikan kepada beliau. Jawaban Abu Hamzah sungguh mencengangkan, “Bagaimaa mungkin aku mengambil upah dari Al-Qur`an? Aku mengajarnya hanya berharap surga firdaus.” (Baca: Dr. Badar, Kisah Ulama Salaf Bersama Al-Qur`an, 2017: 103, 104).
[3] Memang usia tidak menjadi alasan untuk belajar Al-Qur`an. Meski usia sudah tua, semangat belajar Al-Qur`an bagi muslim harus selalu bergelora. Berikut ini ada beberapa contoh yang bisa dibaca dalam buku “Balita Pun Hafal Al-Qur`an” (2013: 93-146) karya Salafuddin Abu Sayyid disebutkan contoh menarik: Malik Muhammad (belajar Al-Qur`an hingga hafal pada usia 60 tahun), Abdullah Musa (hafal Al-Qur`an pada usia 70 tahun), Ummu Shalih (hafal Al-Qur`an pada usia 82 tahun). Jadi, tidak ada alasan tua untuk menghafal Al-Qur`an.
[4] Dalam sejarah ulama salaf, misalnya ada ulama yang bernama Abu Manshur Al-Baghdadi. Beliau duduk di majelisnya sepanjang waktu untuk mengajarkan Al-Qur`an kepada orang cacat. Misalnya orang tuna netra. Dalam sebuah riwayat, ada disebutkan bahwa beliau berhasil membuat 70 orang tuna netra hafal Al-Qur`an. (Baca: Dr. Badar bin Nashir Al-Badar, Kisah Kaum Salaf Bersama Al-Qur`an, 2017: 60)
*Penulis ada juara pertama pada Lomba Menulis Artikel Ilmiah Populer yang diselenggarakan AQL Islamic School dalam rangka Hari Guru Nasional ke-28 tahun 2022.
