KSPTadabbur

Doa-doa Dalam Surat Al-Fatihah (7)

Shirathal-ladzīna an‘amta ‘alaihim, ghairil-maghdhuubi ‘alaihim wa ladh-dhāllīn.

 

Oleh KH Bachtiar Nasir

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

 

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ‎﴿٧﴾

Shirathal-ladzīna an‘amta ‘alaihim, ghairil-maghdhuubi ‘alaihim wa ladh-dhāllīn.

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

 

Doa-doa dalam Surat Al-Fatihah adalah permohonan kepada Allah subhanahu wa ta’ala lewat kalimat-kalimat Allah yang agung.

Dengan ayat ini kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalan yang pernah dilalui orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Siapakah orang-orang yang diberi nikmat jalan yang lurus? Lihat surat An-Nisa: 69

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا ‎﴿٦٩﴾‏

Siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Dari Surat An-Nisa ayat 69, yang dimaksud orang-orang yang diberi jalan lurus adalah:

  • Para nabi dan rasul.
  • Para pecinta kebenaran (membenarkan Allah dan rasul-Nya)
  • Orang-orang yang mati syahid.
  • Orang-orang saleh.

Berdoa dengan ayat صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ‎﴿٧﴾

Seolah-olah kita sedang memohon kepada Allah agar kita diberi nikmat seperti yang Allah sebutkan dalam Surat An-Nisa ayat 69.

Paling tidak kita harus mengikuti atau berada di jalan lurus di dunia ini dengan cara berpedoman pada Al-Qur’an al-Karim. Al-Qur’an sebagai kompas jalan lurus kita dan ini merupakan nikmat. Kita harus mentadabburinya dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. (*)