Dakwah Ekonomi dan Ekonomi Dakwah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
DAKWAH dan ekonomi sejatinya tidak bisa dipisahkan. Dakwah yang berkesinambungan membutuhkan topangan ekonomi. Sehingga kesadaran umat untuk mendukung dakwah dengan ekonomi perlu ditingkatkan.
Dakwah ekonomi dan ekonomi dakwah saling menguatkan. Dakwah ekonomi adalah dakwah yang melahirkan ekonomi. Sementara ekonomi dakwah adalah ekonomi yang membiayai dakwah.
Orang-orang yang berekonomi itu seharusnya sadar, termasuk mereka yang kerja di perusahaan mana pun, pegawai mana pun, berbisnis apapun. Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sumber semua rezeki.
Apa arti kata rezeki? Rezeki itu pemberian dari Allah. Al Atha (pemberian atau anugerah) asli katanya.
Dakwah ekonomi adalah meyakinkan kepada insan-insan ekonomi bahwa rezeki itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan harus dikembalikan lagi kepada Allah. Itu yang harus diyakini. Jika sudah memiliki keyakinan seperti itu, insyaallah berkah ekonominya.
Kemudian, dakwah ekonomi membangun kesadaran karena rezeki itu dari Allah Ta’ala, maka carilah rezeki dengan cara dan jalan yang ditunjukkan Allah. Bukan dengan cara-cara kita.
Sementara ekonomi dakwah, jika para pelaku ekonomi ini membiayai dakwah dengan ekonominya insyaallah tidak akan pernah rugi. Pasti akan mendapat keuntungan berlipat. Sayang rasanya berekonomi hanya untuk keperluan sendiri. Maka berbahagialah Anda yang ditakdirkan menjadi orang kaya kemudian all out membiayai dakwah.
Janganlah kita menjadi orang-orang yang tergambar dalam surat Al Humazah. Orang yang terbiasa mengumpat dan terbiasa mencela. Dan orang yang seperti itu biasanya suka menumpuk harta dan menghitung-hitungnya.
Orang seperti itu akan terserang penyakit jiwa. Orang seperti itu mengira hartanya ini yang akan melanggengkan kekuasaan. Bahkan mengekalkan jiwanya. Ini bahaya.
Contohlah para sahabat Rasulullah yang berlomba-lomba mendukung ekonomi dakwah. Dalam sebuah kisah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang perang pernah meminta kepada para sahabat untuk membuktikan keimanan mereka, kesehatan jiwa mereka lewat jihad harta.
Abu Bakar menyumbangkan seluruh hartanya. Kemudian, Umar bin Khathab menyerahkan separuh dari hartanya. Yang menarik, Utsman bin Affan menyumbangkan 100 ekor unta berikut semua barang-barang yang dibutuhkan di atasnya.
Kemudian Rasulullah bertanya lagi. “Siapa lagi yang hendak menyumbang?
Utsman lalu mengangkat tangan, dan menyampaikan keinginan menyumbang 100 ekor unta lagi beserta semua barang yang dibutuhkan di atasnya.
Rasulullah bertanya lagi. “Lalu siapa lagi?”
Utsman untuk ketiga kalinya mengangkat tangan lagi. “Saya sumbang lagi 100 ekor unta berikut barang yang dibutuhkan di atasnya.”
Jiwa para sahabat ini sangat sehat. Orang sekarang mungkin, dari ilmu ekonominya akan mengatakan apa yang dilakukan para sahabat Rasulullah itu adalah orang gila. Dia tidak pandai matematika. Dia tidak mengerti apa itu ekonomi.
Saya katakan sehat, karena para sahabat Rasulullah bukan penghamba materi, bukan penganut materialisme, yang mengukur kesuksesan dari berapa banyak harta yang dimiliki. Wallahu ‘alam bish shawab.*
