Artikel

Naskah Juara Pertama Lomba Artikel Tadabbur Al-Quran se-Indonesia

PELITA (PELAJAR INDONESIA TAAT AGAMA) SEBAGAI TRANSFORMASI  GEN Z DENGAN MEDIA DAKWAH UNTUK MENGUATKAN JIWA KEINDONESIAAN DALAM MENCAPAI CITA-CITA BANGSA DI ERA  SOCIETY 5.0

Oleh:

Faris Ariwibowo || Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Pendahuluan 

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang mayoritas penduduknya  beragama Islam. Indonesia juga disebut sebagai negara maritim, negara dengan ribuan  pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Miangas sampai Pulau Rote. Negara  yang dilalui garis khatulistiwa ini memiliki garis lintang 6˚LU-11˚LS serta garis bujur  95˚BT-141˚BT. Letak astronomis inilah yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang  strategis sebagai jalur perdagangan dunia, sehingga banyak sekali wisatawan  mancanegara yang datang. Kedatangan wisatawan mancanegara sangat penting untuk  roda perekonomian di Indonesia dan menjadi pendatang khusus yang saling berbaur  dengan budaya, agama, dan kebiasaan warga sekitar. Kondisi inilah yang sangat  mendukung kekuatan kedaulatan Indonesia di era society 5.0 yang penuh toleransi dari  segi agama dan etika seluruh masyarakat Indonesia, terutama para generasi Z sebagai  bentuk gambaran Indonesia masa depan dalam perspektif tadabbur Qur’an. Indonesia  telah merdeka sejak tahun 1945 yang dimana banyak melibatkan tokoh-tokoh penting  dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan mengorbankan pertumpahan darah. 

Tema “Peran Generasi Z dalam Dakwah Tadabbur Qur’an untuk Menguatkan  Jiwa Keindonesiaan di Era Society 5.0” sangat sesuai dengan kondisi kehidupan di masa sekarang. Generasi Z mejadi tonggak perubahan untuk memulai langkah baru sebagai  upaya menyebarkan dakwah tadabbur Qur’an untuk menguatkan tujuan kemerdekaan  negara Indonesia yang saling hidup damai serta mengedepankan toleransi. Subtema yang  dipilih yaitu “Indonesia Masa Depan dalam Perspketif Tadabbur Qur’an” sebagai  pandangan pencapaian cita-cita negara Indonesia di masa depan untuk terwujudnya  Indonesia Emas 2045.  

Kondisi masyarakat Indonesia saat ini sangat dekat dengan kedaruratan dalam hal  kaitannya dengan keagamaan. Banyak sekali tersebar kasus-kasus aliran sesat, mengaku  nabi, hingga toleransi antar umat beragama yang sangat rendah. Allah SWT telah  berfirman dalam Q.S. Al-A’raaf:94 “Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada  suatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan  kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan  merendahkan diri”. Hal ini dapat disebabkan karena masyarakat di Indonesia terdiri dari  berbagai suku, budaya, ras, dan agama, sehingga kasus-kasus ini bisa dapat terjadi kapan

saja dan di mana saja atas dasar tidak dilandasinya dengan iman yang kuat dan jiwa yang  sehat. Jika dilihat jumlah penduduk di Indonesia menduduki peringkat keempat terpadat  di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Menurut Direktorat Jenderal  Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementrian Dalam Negeri mencatat,  jumlah penduduk Indonesia mencapai 273,87 juta jiwa pada 31 Desember 2021. Jumlah  penduduk yang besar ini mayoritas beragama Islam dan menjadikan negara ini  menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di  dunia. Terdapat data bahwa di Indonesia ada sekitar 238,09 juta jiwa atau 86,93%  penduduk Indonesia yang tercatat beragama Islam (Hermansyah et.al., 2022).  

Langkah-langkah modernisasi pendidikan Islam di Indonesia yang sudah  berkembang menjadikan lembaga-lembaga pendidikan terutama madrasah dan pondok  pesantren banyak berdiri dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Bagi generasi Z  sendiri mondok memiliki tujuan untuk mendidik menjadi hafidz Al-Qur’an yang  berakhlakul karimah. Al-Qur’an merupakan pedoman dalam kehidupan. Generasi Z sendiri merupakan generasi yang lahir setelah generasi Y yang lahir di tahun 1995 sampai  tahun 2010 (Widarti, 2022). Generasi ini disebut dengan generasi yang sangat dekat  dengan kemajuan teknologi. Kemajuan Negara Indonesia tidak bisa lepas dari adanya  perkembangan teknologi yang sangat canggih. 

Indonesia saat ini sedang membutuhkan sumber daya manusia yang unggul.  Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh oleh para generasi Z di dalam dunia kerja.  Saat ini pemerintah sedang berusaha keras mendongkrak roda perekonomian Indonesia  setelah terpuruk akibat pandemi covid-19. Indonesia sempat mengalami resesi ekonomi 

pada saat awal mula merebaknya covid-19, banyak perusahaan yang harus melakukan  efisiensi dalam usahanya dengan melakukan PHK massal terhadap karyawannya, sampai  dengan tidak mampu memberikan pesangon terhadap karyawan yang di PHK (Achiel  et.al., 2020). Ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 mengalami kontraksi sebesar minus  5,32 persen dibandingkan kuartal II tahun sebelumnya (BPS, 2020).

Pembahasan 

Sejarah Penyebaran Islam di Indonesia 

Kemerdekaan negara Indonesia tidak lepas dari sejarah perjuangan peradaban  Islam yang telah lama diperkenalkan di bumi Nusantara ini. Sejarah Islam telah menjadi  saksi perjuangan bangsa Indonesia dalam misi menuntaskan kemerdekaan. Islam dibawa  ke Nusantara (Indonesia) pertama kali pada abad ke-7 pada tahun 31 H/651 M.  Penyebaran Islam di Nusantara (Indonesia) pada awalnya didorong oleh meningkatnya  jaringan perdagangan di luar Nusantara. Pedagang dan bangsawan dari kerajaan besar  Nusantara biasanya adalah yang pertama mengadopsi agama Islam. Banyak ditemui  bangunan peradaban Islam yang masih kokoh berdiri hingga sekarang, misalnya Masjid  Menara Kudus, Masjid Agung Demak, Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Masjid Agung  Surakarta, dan Masjid Agung Banten. Bauto (2014) menyatakan bahwa sejak awal  perkembangannya, agama di Indonesia telah banyak menerima akomodasi budaya,  sebagai contoh agama Islam, dimana agama Islam sebagai agama faktual banyak  mempengaruhi norma-norma atau aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan  agama-agama lain. 

Gambar 1. Peta Masuknya Islam ke Indonesia. 

(Nasution, 2020) 

Norma-norma dan tatanan kehidupan bernegara telah banyak disebutkan dalam  Al-Qur’an, bahkan para Nabi telah banyak mengisahkan salah satunya adalah hidup  dengan norma dan tatanan hidup yang baik. Allah SWT telah berfirman dalam Q.S. An Nahl:120 “Sesungguhnya Ibrahim ialah seorang yang bisa dijadikan sebagai teladan yang  patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk hamba yang menyekutukan (Allah)”. Teladan-teladan ini juga perlu diterapkannya dalam kehidupan  bernegara untuk terciptanya rasa nasionalisme dan cinta tanah air terhadap negaranya  sendiri. Nasionalisme merupakan sikap yang menunjukkan rasa cinta terhadap tanah air  serta siap berkorban untuk memajukan bangsa dan negara. 

Pentingnya Kedamaian dalam Hidup Bernegara Bagi Generasi Z

Negara Indonesia adalah negara dengan penduduknya yang ramah dan banyak  disegani oleh masyarakat luas. Tetapi di lain sisi keramahannya banyak kehidupan  masyarakatnya khususnya adalah beberapa gen Z yang hidupnya saling intoleransi dan  sering mengusik kehidupan orang lain. Padahal kedamaian perlu diterapkan sedini  mungkin untuk terus bersatu menjaga kedaulatan bangsa. Kedamaian perlu diterapkan  baik sesama manusia maupun kepada sang pencipta. Bauto (2014) menyatakan bahwa  terwujudnya suatu “kedamaian” apabila didukung dengan adanya penyerahan serta  kepatuhan (Islam) terhadap Sang Pencipta. Allah SWT telah berjanji kepada siapa pun  yang menyerahkan diri disertai amal sholeh, maka akan mendapatkan kedamaian, karena  dalam penyerahan (Islam) ini terdapat konsekuensi sikap muslim yang logis, tidak pernah  gentar, pesimis, dan takut dalam hidupnya. Besyukurlah kita bisa hidup di negara  Indonesia yang dimana negara ini menjunjung tinggi aksi perdamaian baik di dalam  negeri maupun di luar negeri, misalnya Indonesia terlibat aktif dalam misi perdamaian di  negara-negara lain seperti Mesir, Libanon, Palestina, Irak, Filipina, Kamboja, Vietnam,  Ukraina, Georgia, dan Bosnia. 

Gambar 2. Kontingen Garuda. 

(Sumber : https://akurat.co/amp/alhamdulilah-ribuan-prajurit-kontingen-garuda-di lebanon-aman-dari-ledakan)

 

Negara Indonesia termasuk negara yang diberikan bonus demografi dalam  menuju Indonesia Emas 2045. Banyak sekali remaja-remaja (gen Z) siap kerja yang  menjadikan dampak positif tersendiri dalam kemajuan sebuah negara. Allah SWT telah  berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah:126 “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya  Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah 

buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari  kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan  sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruknya  tempat kembali”. Indonesia membutuhkan peran dari para generasi Z untuk turut serta  bergotong royong membangun Indonesia Emas 2045. Generasi Z harus terus dididik  untuk memberikan pembekalan dan pandangan yang baik. Pembekalan ilmu dapat  melalui media dakwah yang sama seperti dilakukan oleh para nabi ketika menyebarkan  agama Islam. 

Kehidupan di Era Society 5.0 

Kondisi kehidupan saat ini sangat terbantu dengan hadirnya sebuah teknologi  yang membuat pekerjaan seseorang menjadi ringan. Kehidupan di era society 5.0  memungkinkan kita untuk memperbanyak wawasan ilmu pengetahuan yang berbasis AI,  Robot, dan IoT untuk membantu pekerjaan manusia menjadi lebih mudah. Generasi Z  harus dapat memanfaatkan teknologi dengan bijak serta harus dilandasi dengan  pengetahuan yang luas. Perkembangan globalisasi tidak akan terlepas dari yang namanya teknologi. Negara Indonesia harus menghadapi era society 5.0 dengan memperhatikan  dampak yang mungkin dapat terjadi di masa yang akan datang. Maka salah satu cara yang  dapat dilakukan oleh negara Indonesia dalam menghadapi era ini yaitu dengan penguatan  identitas nasional. Zulfa dan Najicha (2022) menyatakan bahwa identitas nasional adalah  suatu ciri khas yang dapat dijadikan pembanding atau pembeda suatu bangsa. Perkembangan teknologi jangan sampai merusak moral dan rasa sosial dari masyarakat  khususnya adalah generasi Z. Sering kali generasi Z menggunakan teknologi dengan tidak  semestinya. Siahaan (2008) menyatakan bahwa teknologi yang canggih semestinya  diciptakan untuk memperluas wawasan dan menambah pengetahuan serta bukan untuk  merusak moral generasi muda. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu  itu hukumnya wajib, bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”. Aisyah (2022) menyatakan bahwa Syaikh Az Zarnuji mengatakan, bahwa di antara hal yang penting  dalam menuntut ilmu yang harus diperhatikan adalah fil jiddi (kesungguhan).

Gambar 3. Manfaat Penggunaan Teknologi. 

(Dokumen Pribadi) 

 

Penerapan Dakwah digital sebagai Media Pendidikan Moral 

Pemanfaatan teknologi dalam media pendidikan moral dapat berupa media  dakwah, dakwah dapat juga dilakukan dengan memanfaatkan teknologi, apalagi para  generasi Z sangat dekat dengan penggunaan teknologi, seperti handphone, televisi, dan  teknologi yang lainnya. Saragih (2012) menyatakan bahwa generasi Z merupakan anak  yang sangat melek teknologi atau net generation. Enjang dan Aliyudin (2009)  menyatakan bahwa dakwah merupakan suatu proses transmisi, transformasi, dan difusi serta proses internalisasi ajaran Islam. Dakwah dilakukan dengan tujuan untuk  memberikan informasi dan ajaran agama yang berguna dalam mewujudkan kebahagiaan  dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridhoi oleh Allah SWT. Zaini  (2015) menyatakan bahwa kehidupan di era modern ini menjadi kebaharuan bagi da’i untuk memanfaatkan segala teknologi yang ada untuk mempermudah pencapaian tujuan  dakwah dan sasaran dakwah. Negara membutuhkan orang-orang yang selalu menegakkan  kebenaran dan berlaku adil. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Maidah:8  “Hai orang-orang yang beriman hendaknya kalian menjadi orang-orang yang selalu  menegakkan (kebenaran) karena Allah dan menjadi saksi yang adil. Dan janganlah sekali kali kebencian kalian terhadap suatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil.  Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah,  sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”.

Generasi Z sebagai sasaran dakwah disini disebut dengan iGeneration. Informasi  dan ajaran dakwah juga harus mengikuti perkembangan zaman yang terus berkembang.  Pola pikir generasi Z yang salah harus dihilangkan untuk nantinya dapat menjadi  pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Kemajuan sebuah negara membutuhkan  seorang pemimpin yang baik, hal inilah yang menjadikan tolak ukur bahwasannya  generasi Z harus di bimbing dengan baik. Negara membutuhkan generasi muda yang  berkarakter pemimpin, serta menjunjung tinggi akhlak dan moral. Generasi muda harus  siap menggantikan generasi-generasi tua dalam menjalankan roda kemerdekaan bangsa.  

Bangsa yang maju tidak hanya mempertimbangkan dari segi duniawi saja,  melainkan juga mampu mempengaruhi penduduknya dalam pembentukan sifat individual  yang baik. Apabila suatu negara memegang sepenuhnya kepentingan duniawi, namun  akhirat diabaikan, maka bangsa yang besar sekalipun tidak ada artinya di hadapan Allah  SWT. Sebagaimana kisah kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan Allah SWT  karena kesombongan mereka. Maka itulah pentingnya suatu negara dalam membentuk  penduduknya menjadi manusia yang taat dan kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah.  Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ar-Ruum:7 “Mereka hanya mengetahui yang  lahir/material (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat  adalah lalai”. Allah SWT juga berfirman dalam Q.S. Al-Imran:196 “Janganlah sekali-kali  kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri”. 

Negara Indonesia memiliki cita-cita yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan  makmur. Negara Indonesia juga memiliki tujuan nasional yang tertuang dalam alinea  keempat Pembukaan UUD RI 1945, yang berbunyi: “…melindungi segenap bangsa  Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan 

umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang  berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”. Untuk mencapai  cita-cita dan tujuan tersebut tidaklah mungkin suatu negara dapat berjalan sendiri tanpa  adanya subjek penggeraknya yaitu generasi penerus bangsa.  

Negara Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945 silam, namun hingga saat ini  menjaga keberagaman negara masih menjadi tantangan tersendiri bagi Negara Kesatuan  Republik Indonesia. Perlu kiranya kita semua sebagai warga negara Indonesia khusunya  para generasi Z untuk merefleksikan diri serta menadaburi ulang keberagaman sesuai dengan petunjuk agama. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat/49;13 “Hai  manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang  perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu  saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi  Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha  Mengetahui lagi Maha Mengenal”. 

Arti Penting Negara yang Besar dari Tadabbur Al-Qur’an 

Berdasarkan ajaran agama dan parameter dari tadabbur Qur’an, negara yang besar  bukanlah negara yang hanya maju dalam hal pencapaian prestasi-prestasinya saja. Melainkan negara yang besar adalah negara yang maju secara maknawi. Maknawi disini  maksudnya yaitu selain meningkatkan kepentingan negara, tetapi juga memperhatinkan  perkembangan moralitas dan norma-norma kehidupan penduduknya. Negara yang maju  dalam perspektif Al-Qur’an adalah negara yang selalu bertakwa dan sesuai dengan isi sila  pancasila sila pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. 

Bangsa Indonesia sedang dihadapkan dengan norma-norma kesopanan yang  lambat laun terasa berkurang jika dibandingkan dengan zaman yang lalu. Pergaulan  remaja saat ini sangat mengkhawatirkan karena perkembangan zaman begitu keras bagi  generasi Z sehingga saat ini sangatlah menipis akhlah dan keimanan seorang remaja.  Padahal generasi inilah yang akan menentukan baik atau buruknya negara ini kedepan. Kemunculan teknologi di era society ini membuat anak-anak menjadi kurang beretika dan  bahkan tidak sama sekali memiliki etika saat bersosialisasi pada masyarakat. 

Sebagaimana contohnya, saat ini banyak sekali generasi Z yang hidupnya meniru budaya  barat seperti berpakaian seksi, berbicara kotor, dan berpakaian yang berlebih-lebihan yang banyak dilihat dari teknologi internet. Peran orang tua juga dibutuhkan untuk  mendidik moral dan etika yang baik. Sebagai generasi Z khusunya generasi penerus  bangsa yang sadar akan teknologi harus memiliki etika dan terus diterapkan baik di dunia  nyata maupun dunia digital. Pemahaman etika digital yang baik harapannya dapat menghilangkan berita hoax, tindakan rasis, perundungan, cyberbullying, hate speech, dan  kebocoran data yang dapat merugikan diri sendiri, orang lain, dan bahkan negara.

Kesimpulan dan Saran 

Perkembangan kemajuan teknologi dan kehidupan yang serba bebas harus  didampingi dengan moral dan etika yang baik. Toleransi antar umat beragama juga harus  terus dijalankan untuk terciptanya kedamaian antar umat beragama. Perbedaan ini bukan  merupakan pemecah kemerdekaan, namun sebagai pemersatu untuk terus berjuang  bersama dalam menjaga kemerdekaan negara Indonesia di era society 5.0. Peradaban  kemerdekaan Indonesia dari sisi tadabbur Qur’an harus terus dilaksanakan untuk  terciptanya jiwa yang kuat serta menjadi pondasi dan pandangan hidup dalam mengiringi  kemajuan negara Indonesia Emas 2045. Peran dari Generasi Z dalam melanjutkan roda  kemerdekaan Indonesia terus dibutuhkan. Negara membutuhkan penerus bangsa yang  memiliki jiwa pemimpin, berkeadilan, beretika baik, dan berakhlakul karimah. 

Era society 5.0 bukan menjadi suatu hal yang buruk bagi kita semua khususnya  adalah generasi Z. Perkembangan teknologi harus dijalankan dengan sewajarnya, jangan  sampai kualitas dari manusia akan terkalahkan dengan datangnya sebuah teknologi. Kita  sebagai penurus bangsa harus pintar dalam memanfaatkan teknologi dengan  mengedepankan etika digital yang baik. Harapannya dengan pemanfaatan teknologi di  era society ini pemuda generasi Z sebagai penerus bangsa dapat menjalankan bangsa  Indonesia ini menjadi lebih maju dan lebih baik lagi, karena bangsa yang besar adalah  bangsa yang maju secara maknawi. Jadikanlah era society ini sebagai bentuk kemajuan  sebuah peradaban yang dimana akan membawa kita menjadi lebih baik lagi. Sebuah  peradaban harus dilandasi dengan sebuah pondasi yang kuat seperti Al-Qur’an.  Jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan ke depan agar hidup ini menjadi penuh  makna dengan kita mengamalkan isi Al-Qur’an. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an  untuk diimani, dipelajari, dibaca dan direnungkan. Harapannya dengan kita mengamalkan  isi Al-Qur’an kita dapat menjadi insan yang memiliki jiwa dan iman yang kuat dalam  melanjutkan kehidupan.

Daftar Pustaka 

Achiel, Y., B. Soffy, A. A. Eka, dan J. R. Kumaya. 2020. Dampak pandemi covid-19 bagi  pekerja “PHK, pemotongan gaji, dan motivasi kerja”. Jurnal Psikologi Wijaya  Putra. 1(2). hlm.1-10. 

Ainurrahman. 2020. Alhamdulillah, Ribuan prajurit kontingen Garuda di Lebanon aman  dari ledakan. (Diakses tanggal 12 Agustus 2023). https://akurat.co/amp/alhamdulilah-ribuan-prajurit-kontingen-garuda-di lebanon-aman-dari-ledakan 

Aisyah, A. 2022. Konsep karakteristik pendidik dan peserta didik ideal dalam tafsir Al Qur’anul adhim. Ulumul Qur’an: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. 2(1).  hlm.77-97. 

Bauto, L. M. 2014. Perspektif agama dan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat  Indonesia (suatu penebusan sosiologi agama). Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial.  23(2). hlm.11-25. 

Enjang dan Aliyudin. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Dakwah: Pendekatan Filosofis dan Praktis.  Bandung: Widya Padjadjaran. 

Hermansyah, R., F. P. Amaliya, M. I. Nurhakim, S. Komalasari, S. Susilawati, S.  Hidayatullah, M. Asbari dan A. Purwanto. 2022. Peran agama Islam untuk  mewujudkan kerukunan di lingkungan masyarakat. Jurnal Pengabdian dan  Pelibatan Masyarakat. 2(5). hlm.31-36. 

Nasution, F. 2020. Kedatangan dan Perkembangan Islam ke Indonesia. Mawa Izh Jurnal  Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan. 11(1). hlm.26-46. Saragih, J. F. B. 2012. Fenomena bermain generasi Z dan hubungannya dengan eksistensi  ruang bermain terbuka di ligkungan perumahan sederhana. Journal ComTech:  Computer Mathematics and Engineering Applications. 3(1). hlm.8-14. Siahaan, G. 2008. Orang tua, sekolah dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi  terhadap perkembangan anak. Jurnal Teknodik. hlm.061-074. 

Statistik, B. P. 2020. Ekonomi Indonesia Triwulan II 2020 Turun 5,32 Persen.  No.64/08/th.XXIII. 

Widarti, R. 2022. Inovasi Sistem Layanan Pengiriman Buku di Perpustakaan FEB UGM.  Media Informasi. 31(2). hlm.157-167.

Zaini, A. 2015. Dakwah melalui televisi. At-Tabsyir: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam.  3(1). hlm.1-20. 

Zulfa, A. dan F. U. Najicha. 2022. Urgensi penguatan identitas nasional dalam  menghadapi society 5.0 di era globalisasi. Jurnal Kalacakra: Ilmu Sosial dan  Pendidikan. 3(2). hlm.65-71.