Palestina Menang, Bila Kita Tak Diam!

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir
Sebagai sesama Muslim, kita memiliki kewajiban untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina. Kita dipersatukan oleh ikatan iman yang lebih kuat daripada batas wilayah dan kebangsaan. Maka, penderitaan mereka adalah juga penderitaan kita.
Hari ini, rakyat Palestina—khususnya di Gaza—menghadapi tragedi kemanusiaan luar biasa. Sejak Oktober 2023, wilayah Gaza diblokade total oleh Israel. Bahan makanan, air bersih, obat-obatan, listrik, dan bahan bakar tak bisa masuk dengan leluasa. Akibatnya, kelaparan akut melanda, bayi dan anak-anak meninggal dunia karena tidak ada asupan gizi. PBB bahkan menyatakan bahwa sebagian besar warga Gaza kini hidup dalam kondisi “nyaris tak layak huni”. Ini adalah krisis kemanusiaan paling mengerikan abad ini.
Meski kita hanya rakyat biasa, bukan pemegang kebijakan atau kekuatan militer, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendukung perjuangan dan bertahan hidupnya saudara-saudara kita di Palestina.
Pertama, doa: senjata terkuat seorang mukmin. Setiap hari, kita bisa memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memohon agar Dia memberikan pertolongan, kekuatan, dan kemenangan kepada rakyat Palestina. Ini bentuk dukungan spiritual yang sangat berarti, sebab doa adalah senjata utama orang beriman.
Kedua, memahami permasalahan Palestina dengan baik. Kita perlu memahami akar konflik di Palestina secara utuh—dari sisi sejarah, politik, kemanusiaan, hingga iman. Dengan pengetahuan itu, kita bisa melawan narasi yang menyimpang dan menjelaskan dengan benar kepada orang-orang yang bertanya: “Mengapa kita harus membela Palestina?”
Ketiga, membantu lewat harta (infaq dan donasi). Bagi yang diberi kelapangan rezeki, bantu perjuangan mereka melalui donasi atau infaq. Salurkan melalui lembaga terpercaya yang amanah dalam mengantarkan bantuan langsung ke rakyat Palestina, seperti bantuan makanan, obat-obatan, air bersih, dan kebutuhan darurat lainnya.
Keempat, boikot produk pendukung Penjajahan. Sebagaimana diserukan oleh para ulama, termasuk Syaikh Yusuf al-Qaradawi, kita dianjurkan memboikot produk-produk dari perusahaan yang mendukung penjajahan Israel. Informasi tentang produk-produk tersebut dapat dilihat di situs: inminds.co.uk. Boikot adalah bentuk perlawanan damai yang nyata.
Kelima, menjadi relawan kemanusiaan atau medis. Jika memiliki kemampuan dan keberanian, menjadi relawan yang mengantar bantuan ke Gaza atau relawan medis sangatlah mulia. Mereka di sana sangat membutuhkan dukungan langsung, terutama karena sistem kesehatan telah lumpuh akibat blokade dan serangan militer. Seperti yang ditunjukkan oleh Indonesia Peace Convoy, aksi nyata para relawan membuka jalan bagi dunia untuk melihat bahwa kita peduli dan berbuat.
Keenam, menggerakkan kesadaran masyarakat. Peran kita di tengah masyarakat sangat penting. Suarakan isu Palestina lewat diskusi, tulisan, media sosial, karya seni, atau ikut serta dalam aksi-aksi damai. Terutama bagi yang bergerak di media—cetak, online, atau audiovisual—dampaknya bisa sangat besar dalam membentuk opini publik.
Ketujuh, mendidik generasi muda tentang Palestina. Tanamkan nilai kepedulian terhadap Palestina kepada anak-anak dan remaja. Ceritakan perjuangan dan penderitaan rakyat Palestina dari sudut pandang kemanusiaan dan keimanan. Kenalkan mereka pada sejarah Al-Aqsha, pentingnya kemerdekaan, serta peran umat Islam dalam membela yang tertindas. Generasi muda adalah harapan masa depan—dan mereka harus tumbuh dengan kesadaran dan empati global.
Membela Palestina hari ini bukan hanya soal solidaritas, tapi soal kemanusiaan yang paling mendasar. Ini adalah ujian bagi iman kita, nurani kita, dan komitmen kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi keadilan. Semoga langkah kecil kita menjadi bagian dari kemenangan besar untuk saudara-saudara kita di Palestina.*
