Artikel

Naskah Juara Kedua Lomba Artikel Tadabbur Al-Quran se-Indonesia

TADABBUR AL-QUR’AN DAN IMPLIKASINYA DALAM MENINGKATKAN SEMANGAT KEMERDEKAN PERSPEKTIF QS IBRAHIM AYAT 1 

 

Oleh:

Khairun Nisa || Santriwati Pesantren Ar-Rahman Qur’anic College  

 

Pendahuluan  

Setiap orang yang dilahirkan ke dunia, pada hakikatnya dalam keadaan merdeka.  Kemerdekaan merupakan hak bagi setiap individu untuk mendapatkan kebebasan dalam  menentukan tujuan dan cita-citanya. Kemerdekaan ialah kebebasan dan kedaulatan. Adapun kata merdeka sendiri ialah bebas dari bentuk penjajahan serta pengendalian oleh negara negara lain. Perlu diketahui salah satu peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia yaitu bertepatan pada hari jumat, 9 Ramadhan 1364 H saat Ir. Soekarno membacakan proklamasi  kemerdekaan, hal itu merupakan anugerah besar dari Allah Swt hal ini barulah gerbang dan  terbukanya pintu.  

Makna kemerdekaan dalam islam sendiri ialah berupa sikap tunduk dan patuh,  menghambakan diri kepada yang berhak untuk disembah. Sebagai seorang muslim  kemerdekaan bukanlah semata-mata terbebas dari penjajahan saja, akan tetapi yang paling  utama ialah ketika seorang hamba terbebas dari keaadaan yang menghalanginya untuk  beribadah kepada Allah Swt yaitu bebas dari segala perkara dan rintangan yang membuatnya  jauh dari sang pencipta. 

Sejatinya kemerdekaan secara maknawi ialah keadaan batin yang terbebas dari rasa  menghimpit dan menekan yang menderitakan jiwa serta pikiran manusia yang datang dari  diri sendiri ataupun dari faktor luar. Tugas berat dari sebuah bangsa yang telah merdeka ialah  mempertahankannya serta terbebas dari hegemoni internal atau eksternal yang menindas.¹

Cinta terhadap negara tidak cukup sebatas di bibir, namun harus ikut andil dalam mengayomi  dan bertindak secara nyata. 

 Namun, telah diketahui faktanya bahwa negara Indonesia ini secara resmi sudah di  proklamasi dan diakui kemerdekaannya oleh dunia, ternyata masih banyak masyarakat yang  belum merasakan apa itu arti kemerdekaan. Baik itu dari aspek pendidikan, ekonomi, sosial,  politik, hukum maupun budaya. Begitu juga perilaku beberapa individunya, masih banyak  masyarakat yang masih mencerminkan kepada kehidupan yang tidak sesuai dengan akhlak  Islam. Padahal Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.²

Secara konteks kemerdekaan adalah saat masyarakat tidak lagi mengikuti pola pikir, budaya dan agama serta kepercayaan para penjajah. Masyarakat yang dikatakan merdeka adalah mereka yang memiliki pola pikir, budaya dan agama khas yang dapat membedakan mereka dengan masyarakat lainnya (Fahmi Amhar, 2001).  

Perlu diketahui bahwa di dalam al-Quran juga mengandung semangat kemandirian yang bertujuan untuk memerdekakan manusia dari keterjajahan, baik itu yang bersifat fisik maupun batin. Salah satunya yang terdapat dalam QS Ibrahim ayat 1 yang membahas tentang ruh kemerdekaan. Secara umum yang dapat dipahami adalah bahwa seluruh manusia dapat terbebas dari segala bentuk keterjajahan dan dapat berdaulat atas dirinya sendiri dengan kemerdekaan asli. 

Tulisan ini bertujuan untuk meningkatkan atusiasme dan semangat dalam menumbuhkan rasa nasionalisme yang taat kepada Sang Pencipta, agar menjadi jalan dakwah untuk menggapai hak dan melawan segala bentuk keterjajahan yang masih membelenggu dari dalam diri agar dapat membentuk individu yang dapat dikatakan telah merdeka, meskipun kita tahu bahwa secara pengakuan bangsa ini dikatakan merdeka. Tetapi kemerdekaan tidak cukup hanya dengan sebatas merdeka pada suatu negara, namun kemerdekaan wajib dirasakan oleh setiap orang yang lahir ke dunia ini.

 

 Pembahasan 

A. Kemerdekaan Dalam Al-Qur’an 

Secara umum kemerdekaan memiliki beberapa arti. Pertama, bebas dari perhambaan dan penjajahan. Kedua, terlepas dari tuntutan. Yang ketiga tidak terikat pada pihak tertentu. ³ Adapun dalam bahasa Arab pada kata “ merdeka” diartikan dengan  h urrun (حر), ‘itqun (عتق), dan istiqlāl (استقالل). Kata h urrun yang digunakan dalam al Qur’an memiliki dua maksud. Pertama, lawan dari abadi dan terbebas dari segala kekurangan. Kedua, lawan dari dingin adalah panas.4

Adapun kemerdekaan yang didefinisikan oleh para ulama bukan sekedar ucapan lisan, namun juga pembenaran dengan hati dan dilaksakan oleh seluruh anggota tubuh. Dalam hal ini harus terhunjam dalam hati agar melahirkan kebebasan hati nurani.5 Di dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa al-Qur’an sangat menjunjung tinggi kemandirian yang paling utama adalah kemandirian untuk masing-masing individu, kemerdekan berpikir, kemandirian berbicara, bahkan kemandirian memilih jalan hidupnya sendiri, seperti mengormati akal dan memuliakan kemandirian berpikir , mencegah segala bentuk paksaan dan pengusaan akal.6   

Ada tiga kemerdekaan yang dapat ditemukan di dalam al-Qur’an, yaitu kemerdekaan menjadi manusia seutuhnya, kemerdekaan memilih keyakinan dan kemerdekaan untuk  berkreasi dan aktifitas.7 Dalam Islam, orang yang merdeka bukan pula berarti bebas secara absolut tapi seorang yang merdeka adalah orang yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan yang telah diatur oleh Allah Swt sehingga tidak ada lagi pada  dirinya merasa bersalah dan terhindar dari dosa dan maksiat, karena ia sudah  berpegang dan menjalankan perintah Allah Swt dengan sebaik-baiknya.   

Kemerdekaan menurut al-Qur’an sendiri juga tidak terlepas dari peran para nabi dan  rasul yang mengemban amanah untuk memerdekakan manusia dari masa jahiliah pada  saat itu, tentunya banyak sekali tantangan dan hambatan yang dihadapi. Al-Qur’an memberikan ruang kebebasan dalam mengembangkan gagasan dalam pemikiran, serta  kebebasan dalam berkreasi sangat di junjung sebagai penghormatan bagi hak fundamen  manusia.8

Suatu negera dapat dikatakan merdeka secara hakiki ialah apabila kemerdekaan itu  secara menyeluruh dalam berbagai pilar. Sedangkan individu yang dikatakan merdeka  ialah saat seseorang berperilaku dengan didasarkan kepada pertimbangan rasional,  sedangkan bagi seorang yang beriman ialah pertimbangan rasionalnya disandarkan  kepada aturan Allah Swt. Maka apabila orang yang dalam kehidupannya senantiasa  dikendalikan oleh hawa nafsu, bisa dikatan bahwa ia belum menjadi seorang yang benar-benar merdeka.9

B. Tafsir Q.S Ibrahim Ayat 1 

Surah Ibrahim merupakan surah ke-14 dalam al-Qur’an, terdapat 25 ayat dan  termasuk surah makiyyah karena turunnya surah ini bertepatan di Makkah sebelum hijrah  nabi ke Madinah. Adapun yang akan dibahas penulis ialah surah Ibrahim ayat 1 yang  dikaitkan dengan kemerdekaan. Adapun ayatnya sebagai berikut:  

الٓر ۚ كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu  mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin  Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.”10

Dalam kitab Tafsir Al-Muyassar yang ditulis oleh Kementrian Agama Saudi Arabia  menjelaskan bahwa maksud ayat di atas ialah bahwa al-Qur’an diturunkan sebagai  petunjuk bagi manusia agar keluar dari kesesatan dan penyimpangan untuk melangkah menuju hidayah dan keridhaan Allah Swt dan segala yang ada di bumi ini berada dibawah  kendali Nya, maka wajib bagi semua muslim untuk beriman kepada Allat Swt. Secara  garis besar bahwa umat muslim tidak boleh lepas dari meminta pertolongan dari Allah  Swt dan senantiasa selalu berdoa.11

Menurut kitab Tafsir al-Wajiz karya Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, seorang  pakar fikih dan tafsir dari negeri Suriah mengatakan bahwa maksud dari surat Ibrahim  ayat 1 di sini ialah agar memerdekaan manusia dari masa kegelapan dan ketertinggalan  yaitu membebaskan manusia dari kekafiran, kebodohan dan kesesatan menuju cahaya  keimanan, ilmu dan hidayah yang terang atas izin Allah Swt.12 

Imam al-Qurthubi dalam kitab al-jami’li Ahkam al-Qur’an, ketika potongan ayat  لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ dijelaskan bahwa salah satu fungsi al-Qur’an ialah  mengeluarkan seseorang dari kegelapan kekafiran serta kesesatan menuju cahaya  keimanan dan ilmu pengetahuan.13  

Dari pembahasan tafsir di atas maksud dari Q.S Ibrahim ayat 1 ini menjelaskan bahwa  kemerdekaan yang sebenarnya ialah ketika seseorang sudah tidak lagi mengedepankan  hawa hafsunya dan lebih mementingkan akal pikirannya dan berusaha membebaskan diri  dari kekafiran dan kebodohan. Berusaha mencari hidayah dan keridhaan dalam  kehidupannya. 

C. Tadabbur Q.S Ibrahim Ayat 1  

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat islam yang di dalamnya banyak membahas  spirit kemerdekaan, salah satu tujuan diturunkannya al-Qur’an ialah untuk mengeluarkan  manusia dari keterjajahan, baik itu yang bersifat fisik ataupun batin dan semua itu  tergantung kepada semangat individu sendiri dalam melawan keterjajahan yang selama  ini mencoba untuk membawa kepada jalan yang keliru.  

Dalam penjelasan di atas bahwasannya seluruh manusia tanpa terkecuali dapat  terbebas dari segala bentuk keterjajahan, salah satu nya ialah terbebas dari keterjajahan  hawa nafsu. Karena sebagian manusia telah dibutakan oleh hawa nafsu sehingga tidak lagi  memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri. Hal ini tentunya dapat dikatakan bahwa ia sudah  tunduk pada hawa nafsunya sendiri dan menjadikan nafsu sebagai tuhannya baginya.  

Dalam hal ini pola pikir, budaya dan kepercayaan merupakan faktor yang dapat  dikatakan bahwa negara itu merdeka secara hakiki jika memiliki pola pikir yang maju,  kebudayaan dan kepercayaan yang tidak mengukuti kepada penjajah sebelumnya, tiga aspek ini yang menjadi pokok utama untuk dapat membedakan suatu masyarakat dengan  masyarakat lainnya.  

Perlu dijadikan suatu pelajaran bahwa negara yang merdeka belum tentu bangsanya  merasakan kesejahteran, merdeka itu tergantung individu masing-masing, apakah  seseorang itu masih ingin diajajah dan tidak ingin keluar dari kesesatan dan kegelapan?.  Pada dasarnya musuh terbesar manusia itu ialah dirinya sendiri, bila seseorang itu telah  mampu mengendalikan dirinya maka seseorang itu akan selamat. Namun apabila tidak,  maka akan sebaliknya.  

Pada Q.S Ibrahim ayat 1 ini menerangkan bahwa manusia harus keluar dari kejahilan dan keterjajahan, kerusakan akhlak, kezaliman yang tidak mengenal Allah Swt serta yang  tidak memiliki pendirian dan tujuan hidup menuju kepada nur, cahaya petunjuk ilahi,  cahaya pengetahun, cahaya tauhid dan ma’rifat dan agar mengenal dirinya serta mengenal  Allah Swt dan berusaha mengapai kemerdekaan serta keluar dari kezaliman.  

Kesimpulan 

  1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa satu dari sekian bentuk keterjajahan adalah  dikuasai hawa nafsu, karena hawa nafsu adalah “tuan” yang memperbudak manusia.  Manusia yang telah dibutakan oleh hawa nafsu tidak lagi memiliki kedaulatan atas  dirinya. Seseorang yang mengikuti kemauan ambisi pribadi dalam hal ini dikatakan bahwa orang seperti masih di jajah oleh hawa nafsu dan belum merdeka.
  2. Islam datang dan membangun akal kemudian membangkitkan akal tersebut, agar  manusia gemar memakai akalnya dengan sebaik-baiknya sebangai suatu ni’mat ilahi.  Salah satu bukti merdekanya suatu individu ialah mengutamakan akalnya dari hawa  nafsu, islam begitu berjasa atas manusia dan kemanusian dengan “mobilitas akal”.  Pembukaan dan pergerakan akal manusia yang selama ini tidak mendapat tempat  semestinya dalam kehidupan rohani dan jasmani manusia. Untuk memimpin akal yang merdeka ke jalan benar dan lurus merupakan perintah dari agama. Karena hanya agama islam yang menjunjung agar menjadikan akal merdeka serta menjadikan nya lampu yang bersinar sebagai arah yang benar.
  3. Pada Q.S Ibrahim ayat 1 ini mengkaji tentang keutamaan akal dan mengesampingkan  hawa nafsu yang dampaknya akan merusak kehidupan manusia, ayat ini  memerintahkan manusia untuk lebih mengutakan perintah agama dari pada hasrat  duniawi, menunjukkan manusia kepada jalan yang lurus dengan izin Allah Swt.  

Saran  

Dari hasil penelitian pada Q.S Ibrahim ayat 1 ini masih banyak perbaikan pada  penulisan dan kalimat-kalimat yang dirasa sulit untuk dipahami dan perlu banyak penafsiran  yang harus dilengkapi serta kesempurnaan pada tadabbur ayat. Maka dari itu, penulis  berharap agar pada penelitian selanjutnya bisa menyempurkan artikel ilmiah ini sehingga  dapat memudahkan pembaca dalam memahani maksud penjelas pada setiap teks yang  sampaikan melewati tulisan.  

Catatan Kaki:

1  “Kemerdekaan Dalam Perspektif Islam – Program Kaderisasi Ulama,” diakses 8 Agustus 2023, https://pku.unida.gontor.ac.id/kemerdekaan-dalam-perspektif-islam/
2 Hendra Suhendra dkk, Kumpulan buletin jumat Mesjid Baiturrahman Jilid 2 (CV Jejak (Jejak Publisher), 2018). Hlm. 56.
3 Andi Andri, “Kemerdekaan Dan Kedaulatan Rakyat Dalam Perspektif Mohammad Hatta Dan Islam” 2, no. 2 (2017). Hlm. 138 
4 Syafiul Huda, “Tiga Kemerdekaan Dasar dalam Al-Quran – Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia,” 19 Agustus 2021, https://tafsiralquran.id/tiga-kemerdekaan-dasar-dalam-al-quran-simak penjelasannya/, https://tafsiralquran.id/tiga-kemerdekaan-dasar-dalam- al-quran-simak-penjelasannya/. Diakses pada tanggal 8 Agustus 2023.  
5 M. Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Quran (Mizan Pustaka, 2007). Hlm. 443.  
6 Andri, “Kemerdekaan Dan Kedaulatan Rakyat Dalam Perspektif Mohammad Hatta Dan Islam. “Hmm. 31. 
7 Syafirul Huda, “Tiga Kemerdekaan Dasar dalam Al-Quran – Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di  Indonesia.” Syafiul Huda, “Tiga Kemerdekaan Dasar dalam Al-Quran – Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di  Indonesia,” 19 Agustus 2021, https://tafsiralquran.id/tiga-kemerdekaan-dasar-dalam-al-quran-simak penjelasannya/,https://tafsiralquran.id/tiga-kemerdekaan-dasar-dalam-al-quran-simak-penjelasannya/. Diakses  pada tanggal 8 Agustus 2023.  
8 Dr Fokky Fuad Wasitaatmadja, Filsafat Hukum Rasionalisme dan Spiritualisme (Prenada Media,  2019). Hlm. 59. 
9 dkk, Kumpulan buletin jumat Mesjid Baiturrahman Jilid 2. Hlm. 57
10 Tim Penyempurna Terjemah Al-Qur’an, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf AL-Qur’an (LPMQ), 2019). Hlm. 225. 
11 Kementrian Agama Saudi Arabia, Tafsir> Muyassar (Saudi Arabia, 1431). Hlm. 225 
12 Abu Muhammad Abdul Haq bin Ghalib bin Abdurrahman bin Tamam bin ’Atia’h Al-andalusi, Al Muharr al-Waji>z fii tafsi>r Kitab al-Aziz, ed. oleh Abdussyafi’i Muhammad Abdussalam (Beirut: Da>r al kutub al-Ilmiah, t.t.). Hlm. 369
13 Didi Junaedi, “Tafsir Surat Ibrahim Ayat 1: Al-Quran sebagai penerang dari kegelapan – Tafsir Al  Quran | Referensi Tafsir di Indonesia,” 31 Oktober 2020, https://tafsiralquran.id/tafsir-surat-ibrahim-ayat-1-al quran-sebagai-penerang-dari-kegelapan/, https://tafsiralquran.id/tafsir-surat-ibrahim-ayat-1-al-quran-sebagai penerang-dari-kegelapan/. Diakses pada tanggal 9 Agustus 2023

Daftar Pustaka  

Al-andalusi, Abu Muhammad Abdul Haq bin Ghalib bin Abdurrahman bin Tamam bin  ’Atia’h. Al-Muharr al-Awjiz fii tafsir Kitab al-Aziz. Disunting oleh Abdussyafi’i  Muhammad Abdussalam. Beirut: Da>r al-kutub al-Ilmiah, t.t. 

Andri, Andi. “KEMERDEKAAN DAN KEDAULATAN RAKYAT DALAM PERSPEKTIF  MOHAMMAD HATTA DAN ISLAM” 2, no. 2 (2017). 

dkk, Hendra Suhendra. Kumpulan buletin jumat Mesjid Baiturrahman Jilid 2. CV Jejak  (Jejak Publisher), 2018. 

Huda, Syafiul. “Tiga Kemerdekaan Dasar dalam Al-Quran – Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir  di Indonesia,” 19 Agustus 2021. https://tafsiralquran.id/tiga-kemerdekaan-dasar dalam-al-quran-simak-penjelasannya/, https://tafsiralquran.id/tiga-kemerdekaan dasar-dalam-al-quran-simak-penjelasannya/.

Junaedi, Didi. “Tafsir Surat Ibrahim Ayat 1: Al-Quran sebagai penerang dari kegelapan – Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia,” 31 Oktober 2020.  https://tafsiralquran.id/tafsir-surat-ibrahim-ayat-1-al-quran-sebagai-penerang-dari kegelapan/, https://tafsiralquran.id/tafsir-surat-ibrahim-ayat-1-al-quran-sebagai penerang-dari-kegelapan/. 

Kementrian Agama Saudi Arabia. Tafsir Muyassar. Saudi Arabia, 1431. 

“Kemerdekaan Dalam Perspektif Islam – Program Kaderisasi Ulama.” Diakses 8 Agustus  2023. https://pku.unida.gontor.ac.id/kemerdekaan-dalam-perspektif-islam/. 

Shihab, M. Quraish. Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Quran. Mizan Pustaka,  2007. 

Tim Penyempurna Terjemah Al-Qur’an. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Lajnah  Pentashihan Mushaf AL-Qur’an (LPMQ), 2019. 

Wasitaatmadja, Dr Fokky Fuad. Filsafat Hukum Rasionalisme dan Spiritualisme. Prenada  Media, 2019.