Tadzkirah

Shalat yang Menghidupkan Hati

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

ALLAH Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Rabb yang wajib kita sembah. Tidak ada yang lain.

Namun sayangnya, tak sedikit di antara kita yang melaksanakan shalat tanpa benar-benar menghadirkan Allah di dalam hati. Secara lahiriah memang terlihat sedang shalat, tapi sesungguhnya seperti orang yang tidak shalat. Matanya menatap tempat sujud, tetapi pikirannya berkelana entah ke mana. Bibirnya bergerak, namun hatinya tidak sedang berbicara kepada Allah.

Mengapa bisa demikian? Karena kita belum benar-benar mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keyakinan kita belum bertumpu pada ilmu yang kuat. Akibatnya, banyak orang shalat tanpa memahami makna dari bacaan yang ia ucapkan. Orang seperti ini mudah terpengaruh, mudah goyah. Sekadar godaan materi, pujian, atau sedikit tekanan sudah cukup membuatnya kehilangan arah.

Padahal dari luar, ia tampak religius. Berjilbab, rajin shalat, bahkan aktif dalam kegiatan keagamaan. Namun, karena hubungan hatinya dengan Allah lemah, ia mudah tumbang ketika diuji.

Bagaimana shalatnya selama ini? Bagaimana ibadah dan puasanya selama ini? Kita tak berani menuduhnya musyrik, tetapi jelas ibadahnya minus—karena tidak menghadirkan Allah di dalam hati.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ۖ هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ

“Dialah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 22)

Ayat ini mengajarkan bahwa Allah mengetahui segala yang tersembunyi dan yang tampak. Jika keyakinan ini benar-benar tertanam dalam jiwa, maka setiap kali kita mengucap Huwa ar-Rahmān ar-Rahīm, hati kita akan bergetar.

Keyakinan seperti inilah yang menjadi benteng dari segala bentuk kesesatan. Tidak mudah disesatkan oleh logika yang keliru atau ide yang menyesatkan, sebab hati telah yakin: Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Mengetahui setiap rahasia dalam diri kita.

Sering kali, kita tidak benar-benar tahu apa yang kita cari dalam hidup ini. Kita mengejar dunia, menumpuk harta, mengumpulkan kesibukan, padahal semua itu bisa menjadi beban yang menjerat. Namun Allah Maha Tahu. Karena itu, Dia menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk, sebagai cahaya yang membimbing kita agar langkah tidak salah arah.

Dalam ayat berikutnya (QS. Al-Hasyr: 23), Allah kembali memperkenalkan diri-Nya dengan nama-nama yang penuh makna:

Al-Malik (Raja), Al-Quddus (Yang Maha Suci), As-Salam (Yang Maha Sejahtera), Al-Mu’min (Yang Maha Memberi Keamanan), Al-Muhaimin (Yang Maha Mengawasi), Al-‘Aziz (Yang Maha Perkasa), Al-Jabbar (Yang Maha Memaksa), dan Al-Mutakabbir (Yang Maha Agung).

Namun banyak manusia yang tidak mengenal-Nya lewat nama dan sifat tersebut, dari situlah pintu kesyirikan terbuka.

Menariknya, dalam surat Al-Hasyr terdapat 40 kali penyebutan nama dan sifat Allah: 24 kali disebut “Allah”, dan 16 kali dalam bentuk sifat atau dhamir. Ini menunjukkan betapa pentingnya mengenal Allah agar pintu kemusyrikan tertutup rapat.

Kini mari kita menatap ke rumah sendiri. Wahai para orang tua, terutama para ayah, perhatikan anak-anak kita. Setelah mereka menuntut ilmu, apakah rasa takutnya kepada Allah bertambah? Apakah ilmunya membuatnya semakin tunduk kepada Rabb-nya?

Jangan-jangan justru sebaliknya. Dulu, waktu di PAUD rajin mengaji. Saat SD, semangat membaca Al-Qur’an. Tapi ketika SMP mulai malas, SMA makin jarang, dan setelah kuliah… mushaf pun tak lagi disentuh.

Ini tanda bahwa ilmunya tidak berbuah iman. Banyak orang yang semakin tinggi pendidikannya, namun tidak semakin dekat dengan Allah. Padahal, tujuan sejati menuntut ilmu bukan hanya untuk pandai, tetapi agar semakin takut kepada-Nya. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.*

Exit mobile version