Jangan sampai Mengikuti Orang yang Lalai

Oleh KH Bachtiar Nasir
بسم الله الرحمن الرحيم
Orang yang sudah berinabah kepada Allah, dia akan meninggalkan sifat lalai, dan tidak akan mau bersama dengan orang yang lalai.
Misalnya dalam sebuah perlombaan balap sepeda yang mengelilingi stadion. Umumnya para peserta tidak akan langsung berpacu cepat sejak start di awal. Tetapi tiba-tiba ada satu orang peserta yang berpacu sangat cepat, dia tidak seperti peserta pada umumnya. Lalu setelah dia menyelesaikan satu putaran, dia kembali ke jajaran peserta lainnya yang melaju dengan lamban. Sampai-sampai semua peserta tidak sadar, sudah ada satu orang yang sudah menyelesaikan satu putaran. Hingga pada akhirnya, kita bisa tahu siapa pemenangnya. Dialah yang sejak awal berpacu sangat cepat yang sudah lebih unggul satu putaran dibandingkan peserta lain.
Begitulah dalam hidup. Contohnya, ada saja orang yang menunda shalat. “Nanti saja, kan masih ada waktu.” Tetapi ada orang yang selalu mengutamakan hak Allah. Dia tahu ada larangan yang harus di tinggalkan, ada hawa nafsu yang harus dia lawan. Itulah hati yang sudah beriman dan tidak mau lalai.
Orang yang sudah berinabah juga merasa takut jika dirinya termasuk golongan orang yang lalai. Dia tidak mau ikut-ikutan lalai di tengah-tengah orang yang lalai.
Di dunia ini banyak orang lalai dibandingkan yang waspada. Di tengah riuhnya kelalaian di sekitar kita, maka tetaplah waspada.
Jangan sembarang mengambil keputusan di antara orang-orang yang lalai, yang jauh dari rahmat Allah. Jika kita berada di antara teman-teman yang mengingatkan jangan lalai dari Allah, itulah rahmat.
Seharusnya kita menuduh diri kita sendiri, bagaimana kondisi batin kita sesungguhnya, sebab orang lain tidak mengetahui rahasia batin kita. Kita sendiri yang mengetahui batin kita, bukan orang lain. Jangan sampai kita sibuk menuduh kondisi batin orang, dan lupa menuduh hati kita.
Lalu, juga jangan merasa aman jika Allah menyingkap hati kita di antara orang-orang lain. Jadikanlah diri kita yang paling keras menuduh diri kita lalai, dan tidak ikut arus mereka yang lalai.
Hati-hati terhadap hal-hal yang mencemari amalan dengan dorongan hawa nafsu. Hendaknya bisa membedakan, mana amalan kita yang merupakan hak Allah, dan mana yang merupakan dorongan hawa nafsu.
Bisa saja amalan kamu hanya porsi untuk dirimu sendiri, dan tidak ada porsi untuk Allah Subhana Wa Ta’ala. Misal, amalanmu hanya untuk karir, bukan karena memenuhi hak Allah.
Orang-orang yang berinabah dan hatinya sudah kembali kepada Allah, dia akan waspada, dan merenungi apakah amalannya untuk Allah atau demi untuk nafsu dirinya sendiri.
Begitu banyak tujuan yang tersembunyi di dalam jiwa, bagaimana keikhlasan amalan-amalan kita?
Di balik sedekah, silaturahmi, di balik cara kita bersikap, ada tujuan-tujuan tersembunyi, dan itu kotor di mata Allah.
Bahkan di antara kebaikan-kebaikan yang kita lakukan, ada tujuan tersembunyi yang negatif. Tanpa kita sadari ada banyak tujuan kita yang kotor. Atau bahkan bisa menghalangi amal-amal kita sehingga tertolak oleh Allah.(*)