Pentingnya Ilmu dan Muliakan Ulama

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
ISLAM adalah agama yang sangat mementingkan ilmu dan memuliakan ulama. Banyak sekali ayat-ayat Alquran yang menjelaskan pentingnya ilmu dan keutamaan para ulama.
شَهِدَ اللَّـهُ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 18).
يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Al-Zumar [39]: 9).
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al-Anbiya` [21]: 7).
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّـهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّـهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir [35]: 28).
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham, akan tetapi mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HR. Tirmizi, Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).
Namun kalau kita lihat kondisi dan keadaan umat Islam sekarang, khususnya di negara kita ini, maka sungguh sangat jauh dari apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Bahkan terhadap Alquran yang seharusnya menjadi pegangan umat Islam dalam menjalani hidup ini. Apalagi mengamalkan kandungan Alquran itu.
Maka mungkin kita dapat menyimpulkan bahwa sikap umat Islam terhadap ilmu, khususnya ilmu agama.
- Lalai dan menyepelekan ilmu agama tersebut.
- Kurangnya minat terhadap ilmu agama tersebut.
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110).
Yang bermaksud bahwa amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ikhlas hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hasan al-Basri mengatakan orang yang beramal tanpa ilmu itu lebih banyak merusaknya daripada memperbaiki. Maka tuntutlah ilmu dengan tidak mengabaikan ibadah dan beribadahlah dengan tidak mengabaikan menuntut ilmu. Sesungguhnya sebagian golongan hanya beribadah saja dan meninggalkan ilmu sampai-sampai mereka mengangkat pedang terhadap umat Muhammad.
Dalam Islam ada hal-hal yang tidak boleh tidak, kita harus mengetahuinya.
- Cepat merasa cukup dengan ilmunya.
- Tidak menghormati spesialisasi ilmu agama.
Orang tidak lagi menghormati otoritas ulama dalam mangajarkan ilmu agama dan memberikan bimbingan dalam menjalani hidup melalui fatwa-fatwanya agar sesuai dengan tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya. Sekarang siapapun bisa berceramah dan membuat pengajian dan majlis ta’lim serta mengeluarkan fatwa-fatwa meskipun baru belajar agama yang penting dia panadai berpidato dan mempunyai keunikan.
Dengan modal beberapa ayat Alquran yang tidak ia pahami tafsir dan maknanya, dan beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang banyak beredar di lidah orang banyak yang kebanyakannya hadits dhaif bahkan palsu. Mereka kemudian berani berfatwa dan menjawab hampir semua pertanyaan orang banyak yang kalau ditanyakan kepada ulama-ulama besar Islam terdahulu maka hanya sebagian kecil saja yang sanggup mereka jawab, dan untuk sisanya mereka lebih banyak mengatakan ‘la a’lam’ (aku tidak tau).
Adapun sikap umat kita terhadap ulama, kalau melihat umat Islam di negara kita sekarang ini, maka kita dapat mengelompokkannya kepada dua kelompok.
Pertama, ada yang sangat dan terlalu fanatik kepada kiai atau ustaznya sehingga ia hanya taqlid buta (mengikuti saja apa kata kiyai atau ustaznya tanpa ada lagi sikap kritis dan melihat kuat atau tidak dalilnya) dan tidak mau lagi mendengarkan dan menerima pendapat kiai atau ustaz lain yang bertentangan dengan pendapat kiainya. Sehingga apapun kata kiai atau ustaznya, baik itu benar berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi SAW ataupun salah bahkan bisa jadi itu suatu kesesatan maka mereka tetap mengikutinya karena itu kata kiai atau ustaznya.
Kedua, sebagian yang lain, sebaliknya mereka sama sekali tidak menganggap pengajaran atau fatwa kiai dan para ulama sehingga menganggap fatwa itu sama dengan ucapan dan omongan politisi atau artis. Bahkan jika ada fatwa ulama tentang suatu masalah maka yang dimintai pendapat tentang fatwa itu bukannya ulama lagi tapi pengamat atau artis yang tidak ada dasar ilmu agamanya dan tidak mengetahui dasar dan dalil dikeluarkannya fatwa tersebut.
Keduanya adalah sifat ekstrem dan berlebih-lebihan yang saling berlawanan dan Islam tidak menganggap hal itu sikap tercela.
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ ، فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ
Jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam beragama kerana sesungguhnya umat-umat terdahulu binasa kerana sikap berlebih-lebihan dalam beragama. (HR. Ibnu Majah).
Padahal Islam mengajarkan kepada umat untuk menghormati dan memuliakan para ulama. Karena merekalah yang telah mengajarkan dan membimbing mereka untuk tetap berada di jalan Allah dan tidak tergelincir mengikuti anjuran dan godaan setan serta menjadi tempat bertanya tentang hukum Allah SWT.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan dalam sabdanya:
لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا ، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ. رواه أحمد والطبرانى
“Bukanlah dari golongan umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih besar di antara kami, tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak ulama kami.” (HR. Ahmad dan Thabrani).
‘Ikrimah seorang tabi’in mengatakan, “Janganlah kamu menyakiti seorang ulama karena barangsiapa menyakiti seorang ulama berarti dia telah menyakiti Rasulullah SAW.” Hal itu tentu karena kedudukan ulama sebagai pewaris ilmu para nabi untuk disampaikan kepada umat hingga hari kiamat nanti.
Jangan sampai kita umat Islam ini menghina, merendahkan atau bahkan mencaci maki ulama baik yang sekarang mahupun ulama-ulama besar terdahulu yang telah mengajarkan dan menyampaikan ilmu tentang Alquran dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita.
Tetapi sebagai umat yang mottonya adalah:
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS. Al-Baqarah [2]: 111).
Tentu kita harus melihat dulu sifat, akhlak dan keilmuan ulama yang menjadi ikutan kita. Ibnu Sirrin mengatakan “lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu”. Di antara sifat yang harus ada pada seorang ulama sebagaimana yng dijelaskan dalam Alquran adalah:
- Berdakwah berdasarkan ilmu dan hujjah yang nyata
قُلْ هَـٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّـهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّـهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf [12]: 108).
Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan umat Islam akan ulama-ulama tanpa ilmu yang mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak berdasarkan dalil-dalil dari Alquran dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih sehingga ia sesat dan menyesatkan orang banyak.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا ، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Dari Abdullah bin ‘Amru bin al-Ash, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan mengangkatnya dari hati para hamba, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama, sampai ketika Allah tidak menyisakan seorang alim pun maka kemudian manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin-pemimpin mereka. Ketika orang-orang bodoh tersebut ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafadz Bukhari).
Dengan modal beberapa ayat Alquran yang tidak ia pahami tafsir dan maknanya, dan beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang banyak beredar di lidah orang banyak yang kebanyakannya hadits dhaif bahkan palsu. Mereka kemudian berani berfatwa dan menjawab hampir semua pertanyaan orang banyak yang kalau ditanyakan kepada ulama-ulama besar Islam terdahulu maka hanya sebagian kecil saja yang sanggup mereka jawab, dan untuk sisanya mereka lebih banyak mengatakan ‘la a’lam’ (aku tidak tau).
- Ulama itu adalah hamba yang paling takut kepada Allah SWT.
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّـهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّـهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir [35]: 28).
Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabatnya dan ulama-ulama besar sepanjang sejarah Islam. Mereka tidak pernah merasa aman dengan segala amal ibadah yang mereka lakukan, selalu ada perasaan takut bahwa segala amalnya tidak diterima oleh Allah SWT. Sehingga mereka selalu merasa kurang, dan untuk itu mereka selalu berdoa dan berusaha meningkatkan ibadah mereka. Mereka sangat takut akan timbul sifat ujub (merasa bangga dengan amalnya) dalam hati mereka. Bahkan seorang selevel Umar bin Khattab masih menanyakan kepada Hudzaifah bin al-Yaman (satu-satunya sahabat yang mengetahui orang-orang munafik setelah Nabi SAW) apakah ia termasuk orang munafik atau tidak.
- Tidak mengajak atau membiarkan orang banyak mengkultuskannya.
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّـهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللَّـهِ وَلَـٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (QS. Ali ‘Imran [3]: 79).
- Mengamalkan ilmunya dan melaksanakan apa yang disampaikannya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٢﴾ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّـهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُون
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Al-Shaf [61]: 3).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan akibat dari para da’i yang hanya pintar bicara, tapi akhlak dan perilakunya tidak menggambarkan bahwa dia seorang pewaris para Nabi SAW. Rasulullah SAW bersabda:
يُجَاءُ بِرَجُلٍ فَيُطْرَحُ فِي النَّارِ فَيَطْحَنُ فِيهَا كَطَحْنِ الْحِمَارِ بِرَحَاهُ ، فَيُطِيفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ ، فَيَقُولُونَ : أَيْ فُلَانُ ، أَلَسْتَ كُنْتَ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ ؟ ، فَيَقُولُ : إِنِّي كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا أَفْعَلُهُ ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَأَفْعَلُهُ
Akan didatangkan seseorang, kemudian dia dilempar ke dalam neraka, lantas disana ia berputar-putar sebagaimana keledai menarik alat penggilingan, maka penghuni neraka mengelilingi orang tersebut dan bertanya: “Hai fulan, bukankah kamu dahulu pernah memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran?” Ia menjawab: “Iya, saya dahulu memerintah kebaikan, namun aku tidak mengerjakannya, dan aku melarang kemungkaran, namun justru aku melakkannya.” (HR. Bukhari).
- Tidak mengharapkan kesenangan dan keuntungan duniawi dari ilmunya.
اتَّبِعُوا مَن لَّا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ
Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Yasin [36]: 21).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan dalam haditsnya:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عز وجل لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang mempelajari ilmu dari ilmu-ilmu yang (semestinya) dipelajari hanya karena wajah Allah, namun ia mempelajarinya untuk mendapatkan tujuan keduniaan, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat (kelak)”. (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud).
Maka sebagai umat Islam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan untuk beragama berdasarkan iman dan ilmu bukan hanya sekedar ikut-ikutan orang lain atau ikut trend yang ada. Kita dituntut untuk bisa memilah-milih ustaz atau kiai yang akan kita jadikan sebagai ikutan dan tuntunan, bukan sebagai hiburan atau tontonan seperti fenomena yang kita berlaku sekarang di tengah masyarakat kita.
Jangan sampai kita menyerahkan urusan agama kita yang merupakan jalan untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat kepada mereka yang tidak berilmu, jauh dari sifat takut kepada Allah SWT., membiarkan orang banyak mengkultuskannya bahkan terkesan mengajak, akhlak dan perilakunya tidak mencerminkan dirinya sebagai pewaris para nabi dan tidak mencari dan mengumpulkan materi dan segala bentuk kesenangan dunia melalui ilmunya.*