Tadzkirah

Ashabul Kahfi dan Seni Menemukan Perlindungan Allah

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

DALAM riuh kehidupan modern, manusia kerap terjebak dalam pusaran ambisi dan kepenatan duniawi. Hari-hari dihabiskan untuk mengejar materi, validasi, jabatan, popularitas, dan pengakuan dari sesama. Tanpa disadari, hati pun perlahan menggantungkan harapan kepada makhluk.

Padahal, semakin kuat manusia bergantung kepada selain Allah, semakin mudah jiwanya diguncang kecemasan. Ketika sandaran itu rapuh, kebingungan muncul. Ketika harapan kepada manusia tidak terpenuhi, arah hidup pun terasa semakin kabur.

Alquran menghadirkan kisah para pemuda Ashabul Kahfi sebagai pelajaran tentang ke mana seorang mukmin harus mencari perlindungan ketika dunia tidak lagi memberikan ruang bagi keselamatan iman.

Para pemuda itu menghadapi tekanan lingkungan yang mengancam akidah mereka. Mereka kemudian memilih menyingkir ke sebuah gua. Secara kasatmata, gua bukanlah tempat yang nyaman. Sempit, gelap, dan jauh dari kemewahan dunia.

Namun, di tempat yang secara lahiriah tampak penuh keterbatasan itulah mereka menemukan perlindungan Allah.

Di dalam gua tersebut, mereka memanjatkan doa yang begitu dalam:

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi: 10).

Doa ini memperlihatkan sebuah kesadaran tauhid yang sangat penting. Para pemuda Kahfi tidak hanya meminta agar persoalan mereka diselesaikan. Mereka memohon rahmat dari sisi Allah sekaligus meminta agar Allah menyiapkan jalan yang benar dalam urusan mereka.

Ada pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Ada keadaan ketika akal, kekuatan, harta, jabatan, dan jaringan manusia tidak lagi mampu memberikan jalan keluar.

Pada titik itulah seorang hamba belajar bahwa pertolongan sejati bukan semata-mata lahir dari perhitungan manusia. Ada pertolongan Allah yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

 

Gua di Zaman Modern

Kita mungkin tidak harus meninggalkan kehidupan dan mencari gua seperti para pemuda Ashabul Kahfi. Akan tetapi, setiap manusia membutuhkan “gua” dalam kehidupannya.

Gua itu dapat berupa ruang sunyi tempat seorang hamba kembali kepada Allah. Bisa berupa sudut mihrab di rumah, masjid, atau ruang sederhana tempat kita mengambil jeda dari hiruk-pikuk dunia.

Tidak harus berjam-jam. Barangkali 10 hingga 15 menit setiap hari cukup untuk memulai latihan uzlah batin: menjauh sejenak dari kebisingan dunia, menenangkan pikiran, mematikan gangguan digital, lalu menghadapkan hati sepenuhnya kepada Allah.

Pada saat itulah seseorang belajar melepaskan ketergantungan kepada jabatan, harta, popularitas, koneksi, dan penilaian manusia.

Sebab, ada kalanya kita terlalu sibuk memperbaiki hubungan dengan manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.

Doa Ashabul Kahfi juga mengajarkan permintaan yang sangat penting: “wa hayyi’ lana min amrina rasyada“—siapkanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.

Ini bukan sekadar permintaan agar hidup menjadi mudah. Mereka meminta agar Allah memberikan rasyad, yakni ketepatan dan kelurusan dalam menentukan jalan.

Sebab, tidak semua kemudahan merupakan kebaikan. Tidak semua promosi membawa keberkahan. Tidak semua kelimpahan materi membuat seseorang semakin dekat kepada Allah.

Ada fasilitas yang justru membuat manusia sombong. Ada keberhasilan yang membuat hati lalai. Ada popularitas yang perlahan menggeser keikhlasan.

Karena itu, yang perlu diminta seorang mukmin bukan hanya kelapangan rezeki, tetapi juga kelurusan dalam menggunakan rezeki. Bukan sekadar jabatan, tetapi petunjuk agar jabatan tidak menjadi jalan kesombongan. Bukan hanya kesuksesan, tetapi kemampuan agar kesuksesan tetap berada di jalan yang diridhai Allah.

Di tengah begitu banyak pilihan hidup, doa Ashabul Kahfi dapat menjadi kompas.

Ketika harus mengambil keputusan besar, ketika berada dalam kebingungan, ketika berhadapan dengan tekanan, atau ketika dunia menawarkan begitu banyak pilihan, seorang mukmin perlu kembali bertanya: Apakah jalan ini mendekatkan saya kepada Allah atau justru menjauhkan saya dari-Nya?

Di sanalah pentingnya ruang sunyi. Bukan untuk melarikan diri dari kehidupan, melainkan untuk kembali memasuki kehidupan dengan hati yang lebih jernih. Bukan untuk meninggalkan dunia, melainkan agar dunia tidak menguasai hati.

Ashabul Kahfi mengajarkan bahwa tempat yang sempit dapat menjadi luas ketika rahmat Allah hadir. Sebaliknya, kehidupan yang penuh fasilitas dapat terasa sempit ketika hati kehilangan arah.

Maka, jangan hanya mencari tempat yang nyaman. Carilah juga tempat di mana hati kembali menemukan Allah.

Sebab, ketika seorang hamba benar-benar bersandar kepada-Nya, kesulitan tidak selalu langsung menghilang. Namun, Allah dapat memberikan sesuatu yang lebih berharga: petunjuk untuk menemukan jalan keluar.

Dan terkadang, jalan keluar itu datang justru dari tempat yang tidak pernah kita bayangkan.*

Exit mobile version