Tadzkirah

Mulia dengan Ilmu, Selamat dengan Takwa

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

DI TENGAH zaman yang dipenuhi banjir informasi, ilmu tetap menjadi cahaya yang membedakan manusia dari sekadar pengumpul data. Teknologi semakin canggih, tetapi tanpa ilmu yang benar dan hati yang takut kepada Allah, kecanggihan justru dapat berubah menjadi jalan menuju kerusakan.

Alquran memberikan kedudukan yang sangat mulia kepada orang-orang berilmu. Allah SWT berfirman:

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan.” (QS Ali Imran: 18).

Ayat ini menghadirkan sebuah pemandangan yang agung. Dalam persaksian tentang keesaan Allah, orang-orang berilmu disebut berdampingan dengan para malaikat. Ini bukan sekadar penghormatan, melainkan isyarat bahwa ilmu yang membawa kepada kebenaran akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah.

Karena itu, menjadi pencari ilmu bukan hanya mengejar gelar akademik atau prestasi duniawi. Ilmu adalah jalan untuk mengenal Allah, memahami agama-Nya, mencintai Rasul-Nya, serta menegakkan keadilan dalam kehidupan.

Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa para malaikat menaungi pencari ilmu dengan keridhaan mereka. Gambaran ini memberikan harapan besar, terutama bagi para orang tua yang melepas anak-anaknya merantau untuk belajar. Di mana pun mereka berada, selama niatnya lurus dalam menuntut ilmu yang bermanfaat, pertolongan Allah selalu dekat.

Di sisi lain, tantangan generasi muda hari ini jauh berbeda dibanding masa lalu. Gawai yang setiap hari berada di genggaman dapat menjadi pintu menuju ilmu, tetapi juga dapat menjadi jalan masuk bagi pornografi, kekerasan, kebencian, dan berbagai bentuk kemaksiatan. Semua itu hadir hanya dengan sekali sentuhan.

Karena itu, benteng utama bukanlah sekadar pembatasan teknologi, melainkan penguatan ilmu dan iman. Anak yang dibekali ilmu agama akan memiliki kompas moral ketika berhadapan dengan berbagai godaan. Ia mungkin tidak mampu menghindari seluruh pemandangan buruk di sekitarnya, tetapi ia memiliki hati yang mampu menolak dan menjaga diri.

Allah SWT menegaskan:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS Fathir: 28).

Rasa takut kepada Allah lahir dari pengenalan yang benar terhadap-Nya. Semakin dalam ilmu seseorang, semakin besar pula rasa tunduk dan penghambaannya. Ilmu sejati tidak melahirkan kesombongan, melainkan kerendahan hati.

Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting. Selain memberikan pendidikan terbaik, doa yang tulus menjadi bekal yang tidak pernah putus. Doa orang tua, disertai pendidikan yang benar, menjadi pelindung bagi anak-anak dalam menghadapi fitnah akhir zaman.

Setiap ayah dan ibu tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh, cerdas, dan bermanfaat bagi umat. Jalan menuju cita-cita itu dimulai dari menanamkan kecintaan terhadap ilmu sejak dini, sekaligus membiasakan mereka dekat dengan Alquran dan majelis ilmu.

Semoga Allah SWT menjadikan kita dan anak-anak kita sebagai hamba-hamba yang mencintai ilmu, ditemani para malaikat dalam perjalanan hidup, serta dianugerahi hati yang selalu takut kepada-Nya. Sebab, ilmu yang benar bukan hanya menerangi akal, tetapi juga menjaga hati hingga akhir hayat.*

Exit mobile version