KSP

Kisah Hatim Al-Ashom yang Zuhud dan Pandai Shalat 

Oleh KH Bachtiar Nasir

Diriwayatkan dari Robbah bin Al-Hawari tentang kekhusyukan shalat. Dia menceritakan Isham bin Yusuf suatu hari mendatangi majelis Hatim Al-Ashom.

Robbah bin Al-Hawari berkata, Isyam bin Yusuf melewati Hatim Al-Ashom yang sedang berbicara di depan majelisnya. Di bertanya, “Wahai Hatim, apakah engkau pandai mengerjakan shalat?”

Hatim menjawab, “Iya.”

Isyam bertanya lagi, Bagaimana engkau shalat?”

Hatim menjawab, “Aku berdiri menegakkan perintah, aku berjalan menuju shalat dengan rasa takut. Aku masuk ke dalam shalat dengan niat, bertakbir dengan mengagungkan keagungan Allah. aku membaca dengan tartil dan tafakur. Aku ruku’ dengan khusuk, dan aku sujud dengan tawadhu. Aku duduk tasyahud dengan sempurna, dan aku mengucapkan salam dengan penuh kehormatan sesuai jalan as-sunah. Aku menyerahkan dengan ikhlas kepada Allah azza wa jalla. Aku mengoreksi ilmu dengan rasa takut, karena aku khawatir shalatku tidak diterima, dan aku menjaganya dengan sungguh-sungguh hingga mati.”

Isyam pun berkata, “Teruslah berbicara. Sungguh engkau benar-benar pandai mengerjakan shalat.”

Semoga kita semua mengerjakan shalat seperti Hatim Al-Ashom. Inilah audit takwa.

Apakah kita pandai mengerjakan shalat?

Ciri-ciri orang yang pandai adalah jika takut shalatnya tidak diterima oleh Allah.

Sufyan bin Uyainah berkata, “Tidak akan lurus satu amal atau ibadah kecuali dengan lurus zuhud, tidak akan lurus zuhud kecuali dengan pemahaman agama, dan tidak akan lurus pemahaman agama kecuali dengan kesabaran.

Ada tiga kata kunci di sini, sabar, fiqih, zuhud, dan output-nya adalah al’amal.

Kalau kita lihat dari kata-kata Sufyan bin Uyainah, pondasi dari semua itu adalah sabar. Sistem intinya adalah al-fiqih atau pemahaman agama. Disiplinnya adalah zuhud. Output-nya adalah ibadah atau disebut al-‘amal atau amal yang lurus yang diterima dan berkelanjutan.

Hikmahnya adalah, ibadah adalah output atau titik keluaran, bukan titik awal dimulai. Yang tampak di permukaan dalam bentuk amal sebenarnya ditopang oleh tiga lapisan tersembunyi seperti disebut di atas. Inilah kenapa amal yang tampaknya banyak tetapi tidak istiqomah karena salah satu lapisan di bawahnya ada yang rapuh.

Ucapan Sufyan bin Uyainah itu sebenarnya merupakan struktur amal ibadah yang luar biasa.

Struktur Ibadah

Sabar adalah akar semua amal. Di sinilah sumber kepempimpinan. Kepemimpinan peradaban lahir dari landasan perpaduan sabar plus yakin.

Lihat Surah As-Sajadah ayat 24:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَىِٕمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْاۗ وَكَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ ۝٢٤

Kami menjadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar. Mereka selalu meyakini ayat-ayat Kami.

Itulah sistem nilai sabar. Sabar bukan sifat pasif, tetapi Infrastruktur dari hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam:

Nabi bersabda,

أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِنْ عَطَاءٍ خَيْرٌ وَأَوْسَعُ مِنْ الصَّبْرِ

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Dan tidakklah seseorang diberi sesuatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari, no. 1376 dan Muslim, no. 1745)

Sabar bukan sifat pasif, melainkan merupakan infrastruktur dari amal kita.*

Exit mobile version