Tadzkirah

Menyusun Target Ibadah Sebelum Ramadhan Tiba

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

BULAN Ramadhan adalah nikmat agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, nikmat besar tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa persiapan yang sungguh-sungguh. Ramadhan bukan sekadar bulan yang dinanti, melainkan amanah yang harus dipersiapkan.

Sebagaimana seorang pejuang tidak masuk medan perang tanpa strategi, dan seorang pelajar tidak menghadapi ujian tanpa belajar, maka seorang mukmin pun tidak seharusnya memasuki Ramadhan tanpa persiapan fisik, mental, ilmu, dan spiritual.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan betapa besarnya ganjaran di bulan Ramadhan. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa setiap amal kebaikan dilipatgandakan hingga tujuh ratus kali lipat, dan Allah berfirman:

“Kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Jika balasannya langsung dari Allah, maka sudah seharusnya kita menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk ibadah yang istimewa ini.

Rasulullah juga bersabda bahwa ketika malam pertama Ramadhan tiba, setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup. Bahkan ada seruan setiap malam, “Wahai pencari kebaikan, kemarilah! Wahai pencari keburukan, berhentilah!” Ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah musim kebaikan yang peluangnya terbuka lebar. Pertanyaannya: sudahkah kita siap menyambut musim itu?

Para sahabat tidak pernah menunggu Ramadhan tanpa persiapan. Ma’la bin Fadhal menyebutkan bahwa mereka berdoa enam bulan sebelum Ramadhan agar dipertemukan dengannya. Enam bulan berikutnya mereka berdoa agar amal-amal mereka diterima. Bagi mereka, Ramadhan adalah proyek tahunan yang direncanakan jauh hari.

Persiapan itu mencakup beberapa hal penting.

Pertama, persiapan iman dan niat.

Meluruskan niat hanya untuk Allah Ta’ala. Tanpa keikhlasan, amal sebesar apa pun akan kehilangan nilainya.

Kedua, persiapan ilmu.

Memahami fikih puasa, mengetahui apa yang membatalkan, apa yang mengurangi pahala, dan bagaimana memaksimalkan ibadah di dalamnya.

Ketiga, persiapan fisik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Ketika Usamah bin Zaid bertanya mengapa beliau banyak berpuasa di bulan itu, beliau menjawab bahwa Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal, dan beliau ingin amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa (Riwayat An-Nasa’i). Ini adalah bentuk latihan sebelum memasuki Ramadhan.

Keempat, persiapan target amal.

Berapa kali khatam Al-Qur’an? Berapa banyak sedekah? Bagaimana menjaga qiyamullail? Tanpa target, Ramadhan mudah berlalu tanpa capaian berarti.

Imam Nawawi mengingatkan tentang orang-orang yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan. Peringatan ini menjadi alarm agar kita tidak sekadar semangat sesaat. Persiapan yang matang akan melahirkan konsistensi setelah Ramadhan.

Saat hilal terlihat dan doa menyambut Ramadhan dipanjatkan, “Ya Allah, tampakkanlah bulan ini kepada kami dengan keberkahan, iman, keselamatan, dan Islam”, sebenarnya kita sedang memohon kesiapan diri. Maka jangan biarkan Ramadhan datang sementara kita belum menyiapkan hati.

Ramadhan adalah ladang pahala yang sangat luas. Hanya mereka yang menanam dengan persiapan yang baik yang akan memanen hasil terbaik. Wallahu a’lam bish shawab.*

Exit mobile version