Tadzkirah

Saat Penyesalan Tak Lagi Berguna, Bahaya Salah Memilih Teman

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

ALLAH menggambarkan sebuah pemandangan yang begitu memilukan dalam Al-Furqan ayat 27–29. Hari ketika seorang yang zalim menggigit kedua tangannya, bukan karena sakit fisik, tapi karena penyesalan yang tak tertahankan. Ia menangis dalam hati, “Andai saja dulu aku berjalan bersama Rasul… andai saja aku tidak menjadikan dia sebagai teman dekatku.” Pada saat itu, ia sadar bahwa orang yang selama ini dianggap sahabat justru menjerumuskannya jauh dari Al-Qur’an. Dan setan, yang dulu begitu ia ikuti, ternyata tak pernah berniat menolongnya.

Ada perkara-perkara yang bisa mencabut hubungan hati dengan Allah Azza wa Jalla. Dan betapa mengerikannya jika seseorang sampai terputus dari rahmat Allah. Semua perjuangan, upaya, dan lelah selama hidup di dunia tiba-tiba tak bernilai apa-apa.

Perjalanan panjang yang seharusnya mengantar kepada pertemuan dengan Allah justru berubah menjadi langkah-langkah tanpa arah. Lelah yang sia-sia. Hidup yang kosong tanpa cahaya.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengingatkan bahwa salah satu hal yang paling merusak hubungan kita dengan Allah adalah berlebihan dalam pergaulan. Memang, pertemanan yang baik bisa mendatangkan manfaat. Tapi pergaulan tanpa batas, yang penuh kelalaian, dosa, bahkan ejekan terhadap Allah dan Rasul-Nya, adalah racun yang perlahan menghancurkan hati.

Allah sendiri sudah menegur kita dalam Al-An’am ayat 68, ketika melihat orang yang memperolok ayat-ayat Allah, tinggalkanlah mereka. Jangan duduk bersama orang yang zalim. Jangan biarkan hati terbiasa mendengar, melihat, dan ikut larut dalam kelalaian mereka.

 

Hati yang Rusak

Hati manusia itu lembut, rapuh, dan mudah rusak. Ketika terlalu sering diisi percakapan tak berguna, gosip, keluhan, kesibukan yang tidak membawa kita kepada Allah, hati itu akan menjadi gelap dan sempit. Ia penuh dengan urusan orang lain tapi kosong dari perhatian pada diri sendiri. Ia sibuk dengan dunia tapi lupa dengan akhirat. Lelah, tapi tak bertambah dekat kepada Allah.

Ibnul Qayyim bahkan berkata bahwa penyakit terbesar yang menimpa manusia berasal dari sesama manusia. Banyak orang saleh kehilangan keutamaannya bukan karena kurang ibadah, tapi karena buruknya pergaulan. Bahkan satu kata dari seseorang bisa menghancurkan kebahagiaan abadi.

Pergaulan yang dibangun atas cinta dunia dan hawa nafsu tidak akan pernah abadi. Ketika kebenaran tampak, semua akan berubah menjadi permusuhan. Allah Ta’ala sudah menyingkapkannya dalam Az-Zukhruf ayat 67, sahabat akrab akan berubah menjadi musuh pada hari kiamat, kecuali mereka yang bertakwa.

Inilah pengingat keras bagi kita, pergaulan yang sala baik dalam dunia nyata maupun dunia maya, bisa menggiring kita pada maksiat dan menjauhkan kita dari takwa.

 

Jangan Sampai Salah Teman

Penyesalan yang digambarkan dalam Al-Furqan ayat 27–29 adalah penyesalan yang paling dalam. Banyak orang di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang sebenarnya tahu kebenaran, tetapi memilih berpaling. Mengapa? Karena pengaruh teman-teman dan lingkungan mereka. Dan fenomena itu terulang hari ini. Meski kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah begitu jelas, banyak yang tetap memilih untuk menjauh. Mereka lebih mendengar suara lingkungan yang menyesatkan daripada suara wahyu.

Banyak yang takut dijauhi kalau terlalu religius. Takut kehilangan circle. Takut dibully. Takut tidak masuk dalam proyek. Dan akhirnya mereka ikuti saja arus pergaulan, meski arus itu menenggelamkan iman mereka perlahan-lahan.

Tanpa terasa, orang yang sibuk dengan pergaulan seringkali paling jarang membaca Al-Qur’an. Padahal Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengadu, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak dipedulikan.”

Jadwal demi jadwal dalam pergaulan membuat seseorang makin jauh dari Allah, makin longgar terhadap maksiat, dan makin sering menghadiri kegiatan yang melemahkan ibadah. Karena itu, berhati-hatilah. Di hari kiamat nanti, banyak yang menggigit jari karena salah memilih teman.

Pilihlah pergaulan yang menuntun kita dan keluarga menuju cahaya. Teman sejati hanyalah mereka yang bertakwa, yang mengingatkan, menarik, dan mendekatkan kita kepada Allah, bukan sebaliknya.

Orang-orang bertakwa punya “filter” dalam pergaulan, mata yang menunduk dari maksiat, telinga yang berhati-hati menerima ucapan, dan hati yang peka terhadap kebenaran. Lihatlah sekeliling kita hari ini, apakah orang-orang dekat kita sedang membawa kita menuju takwa atau kepada maksiat?

Satu hal pasti, orang bertakwa hanya akan merapat kepada mereka yang juga bertakwa. Mereka saling mengajak kepada taat, saling menguatkan iman, dan saling mendekat kepada Allah Ta’ala.*

Exit mobile version