Meniti Jalan Keselamatan dengan Menjaga Lisan

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Ditengah kehidupan yang fana ini, ada satu kunci yang mampu membuka gerbang kebahagiaan abadi di dunia dan di akhirat, yaitu ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Marilah kita renungi dan resapi dalam-dalam makna ketakwaan yang sejati, yang tak hanya menjadi penyejuk hati, tetapi juga menjadi pelita yang menerangi jalan kita menuju ridha-Nya.
Marilah kita tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah untuk menyongsong kehidupan abadi di akhirat. Bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, berislam sampai mati; dan mati dalam kondisi Islam.
Lisan adalah cermin hati. Lidah yang terjaga dari ucapan yang sia-sia dan menyakitkan, adalah tanda kebijaksanaan dan kematangan iman. Ucapan yang baik tak hanya menyenangkan hati pendengarnya, tetapi juga menjadi ibadah yang berbuah pahala.
Lidah yang tajam dapat melukai lebih dalam dari pada pedang. Satu kata yang terucap tanpa pemikiran yang matang bisa menjadi penyesalan yang panjang, bahkan bisa menghantar kita ke jurang neraka. Oleh karena itu, marilah kita berhati-hati dalam setiap kata yang keluar dari lisan kita, memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk.
Dengan menjaga lisan, kita tidak hanya menjaga keharmonisan hubungan antar sesama manusia, tetapi juga memperlihatkan ketakwaan kita kepada Allah. Jadikan setiap kata yang terucap sebagai refleksi dari hati yang bersih, niat yang tulus, dan akhlak yang mulia. Pilihlah kata-kata kita sebagaimana kita memilih pakaian terbaik untuk dipakai, karena ucapan yang baik adalah keindahan yang memancar dari dalam diri kita.
Lisan adalah salah satu alat komunikasi utama yang digunakan manusia untuk berinteraksi. Namun, lisan juga menjadi salah satu sumber terbesar munculnya permasalahan jika tidak dijaga dengan baik.
Tidak mengherankan jika Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu `anhu pernah berujar,
وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ، مَا عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ شَيْءٌ أَحْوَجُ إِلَى طُولِ سِجْنٍ مِنَ اللِّسَانِ.
“Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang lebih membutuhkan penjara yang panjang selain lisan.” (Mausuu’ah Ibni Abid Dunya, VII/38)
Artinya, mengingat bahaya lisan begitu besar, maka sepanjang hayat perlu diupayakan untuk menahan dan mengendalikannya.
Dalam Islam, menjaga lisan bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah kewajiban. Hal ini menjadi jalan keselamatan bagi seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat.
Terkait betapa pentingnya menjaga lisan, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ 97
“Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.”(QS. Al-Hijr [15]: 97)
Dalam kitab “Rasā’il min al-Qur’an” diterangkan :
تُؤْذِيهِ الْكَلِمَةُ الْجَارِحَةُ، وَيَضِيقُ صَدْرُهُ بِالْقَوْلِ السَّيِّئِ، وَهُوَ نَبِيٌّ! فَمَا بَالُكَ بِمَنْ هُمْ دُونَهُ، فَسَلَامًا، ثُمَّ سَلَامًا، ثُمَّ سَلَامًا، عَلَى الَّذِينَ يَخْتَارُونَ كَلِمَاتِهِمْ كَمَا يَخْتَارُونَ مَلَابِسَهُمْ لِأَنَّهُمْ يَعْرِفُونَ أَنَّ الْكَلَامَ أَنَاقَةٌ أَيْضًا!
“Perkataan yang menyakitkan melukainya, dan dadanya menjadi sempit karena ucapan yang buruk, padahal ia adalah seorang nabi
!Lalu, bagaimana dengan orang-orang selain dia? Maka, salam, kemudian salam, kemudian salam, untuk mereka yang memilih kata-kata mereka, sebagaimana mereka memilih pakaian mereka, karena mereka tahu bahwa ucapan juga adalah bagian dari keanggunan!”
Ayat di atas mengingatkan bahwa ucapan yang buruk dapat melukai hati, bahkan seorang nabi sekalipun dapat merasa sakit hati akibat kata-kata kasar. Maka, jika Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam yang mulia saja merasakan beratnya perkataan buruk, bagaimana dengan manusia biasa? Oleh karena itu, menjaga lisan adalah akhlak mulia yang sudah seharusnya diterapkan oleh orang-orang beriman.
Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Muttafaqun ‘Alaih)
Hadits ini menegaskan bahwa lisan yang terjaga adalah bukti nyata keimanan seseorang. Setiap kata yang keluar dari mulut hendaknya membawa kebaikan, bukan keburukan.
Ibrahim at-Taimiy Rahimahullah pernah berkata,
المُؤْمِنُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَتَكَلَّمَ نَظَرَ: فَإِنْ كَانَ كَلَامُهُ لَهُ تَكَلَّمَ، وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ أَمْسَكَ عَنْهُ، وَالفَاجِرُ إِنَّمَا لِسَانُهُ رِسْلًا رِسْلًا.
“Seorang mukmin jika ingin berbicara, ia mempertimbangkan (dengan baik): jika ucapannya bermanfaat baginya, ia berbicara; jika merugikannya, ia diam. Sedangkan orang yang fasik, lisannya mengalir terus.” (Mausu’at Ibn Abi Dunya, VII/250)
Lisan yang tidak terkendali dapat menimbulkan berbagai kerusakan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Beberapa bahaya tersebut antara lain:
Pertama, Menyakiti Perasaan Orang Lain. Perkataan yang kasar atau tidak dipikirkan dengan baik dapat melukai hati orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan, “Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Isra [17]: 53)
Kedua menghancurkan reputasi dan hubungan sosial.
Ucapan buruk seperti fitnah, gosip, atau umpatan dapat merusak hubungan sosial dan nama baik seseorang.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Sesungguhnya hamba mengucapkan kalimat yang karenanya ia menempati neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR Muslim)
Ketiga, mengundang dosa. Lisan yang digunakan untuk berdusta, mengumpat, atau berbicara tanpa ilmu dapat menjadi penyebab seseorang memperoleh dosa besar.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثَرُ خَطَايَا ابنِ آدَمَ فِي لِسَانِهِ
“Paling banyak dosa anak Adam (manusia) berasal dari lisannya.” (HR Thabrani).
Keempat, menjaga lisan sebagai bentuk keselamatan. Dalam syair Arab, ada kata-kata menarik terkait hal ini:
سَلامَةُ الْإِنْسَانِ، فِي حِفْظِ اللِّسَانِ
“Keselamatan manusia terletak pada menjaga lisan (lidah).” (Al-Hasan, al-Muhaadharat fii al-Lughah wa al-Adab, 130).
Menjaga lisan berarti menggunakan kata-kata yang baik, menahan diri dari ucapan buruk, dan memilih diam ketika tidak ada hal bermanfaat untuk dikatakan.
Ada beberapa langkah praktis menjaga lisan:
Pertama, berpikir sebelum berbicara. Setiap kata yang keluar dari lisan harus dipikirkan dampaknya. Rasulullah bersabda,
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
“Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluannya), maka aku menjamin surga untuknya.” (HR Bukhari)
Umar bin Khattab radhiyallahu `anhu pernah berkata,
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَمْسَكَ فَضْلَ الْقَوْلِ وَقَدَّمَ فَضْلَ الْعَمَلِ.
“Semoga Allah merahmati seseorang yang menahan kelebihan perkataan dan mendahulukan kelebihan amal.” (‘Uyuun al-Akhbaar, I/380)
Kedua, memilih kata-kata yang baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim [14]: 24).
Ketiga, ?enghindari perkataan yang sia-sia. Perkataan yang tidak bermanfaat hanya membuang waktu dan energi. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”(HR Tirmidzi)
Keempat, menggunakan lisan untuk kebaikan. Lisan dapat digunakan untuk berzikir, menyampaikan nasihat, atau menyebarkan ilmu. Allah Ta’ala berfirman,
ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125).
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah contoh terbaik dalam menjaga lisan. Beliau tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar, bahkan kepada musuh-musuhnya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيْسَ بِاللَّعَّانِ، وَلَا الطَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
“Sesungguhnya seorang mukmin itu bukanlah orang yang melaknat, mencela, berbuat keji dan tidak pula mengatakan perkataan kotor.” (HR Ahmad)
Demikian juga yang dicontohkan para sahabat beliau. Mereka sangat menjaga lisan dari yang tak berguna. Maimun bin Mihran pernah bercerita bahwa suatu hari ada seorang laki-laki datang kepada Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu lalu berkata, “Berilah aku wasiat (nasihat)., Salman berkata, “Jangan berbicara.” Laki-laki itu berkata, “Orang yang hidup di antara manusia tidak mungkin tidak berbicara.” Salman berkata,
فَإِنْ تَكَلَّمْتَ، فَتَكَلَّمْ بِحَقٍّ أَوِ اسْكُتْ
“Jika engkau berbicara, maka bicaralah dengan benar atau diamlah.”
Laki-laki itu berkata, “Tambah lagi.” Salman berkata, “Jangan marah.” Laki-laki itu berkata, “Sungguh terkadang sesuatu menimpaku yang aku tidak bisa menguasainya.”
Salman berkata,
فَإِنْ غَضِبْتَ فَأَمْسِكْ لِسَانَكَ، وَيَدَكَ.
“Jika engkau marah, maka tahanlah lisanmu dan tanganmu.” Laki-laki itu berkata, “Tambah lagi.”
Salman berkata, “Jangan bergaul dengan orang-orang.” Laki-laki itu berkata, “Orang yang hidup di antara manusia tidak mungkin tidak bergaul dengan mereka.”
Salman berkata,
فَإِنْ لَابَسْتَهُمْ، فَاصْدُقِ الحَدِيثَ وَأَدِّ الأَمَانَةَ.
“Jika engkau bergaul dengan mereka, maka jujurlah dalam berbicara dan tunaikanlah amanah.” (Ibnu Jauzi, Shifat Ash-Shafwah, 1/259).
Kisah lain yang tak kalah menarik untuk diambil pelajaran, suatu hari Syaddad bin Aus Radhiyallahu `anhu berkata kepada pembantunya, “Bawalah bekal kita agar kita bisa bermain-main dengan sebagian isinya.”
Seorang lelaki dari sahabatnya berkata kepadanya, “Aku tidak pernah mendengar satu kata pun darimu sejak aku menemanimu yang tampaknya ada sesuatu seperti ini di dalamnya?”
Syaddad menjawab, “Engkau benar, aku tidak pernah mengucapkan satu kata pun sejak aku berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali aku menahannya dan mengendalikannya kecuali kali ini. Demi Allah, itu tidak akan terjadi lagi dariku seperti ini.” Lalu Syaddad mulai bertasbih, bertakbir, dan memuji Allah Azza wa Jalla. [Mausu’at Ibn Abi Dunya 7/248].
Ketika emosi memuncak, lisan sering kali menjadi tidak terkendali. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan solusi untuk menghindari hal ini,
Menjaga lisan adalah ibadah yang bernilai tinggi di sisi Allah. Lisan yang terjaga dapat menjadi jalan keselamatan, sedangkan lisan yang tidak terkendali dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kehancuran. Sebagaimana pepatah mengatakan, “Lidah lebih tajam daripada pedang.” maka hendaknya kita menggunakan lisan untuk kebaikan dan menghindari keburukan.
Imam Nawawi dalam kitab “Riyaadh ash-Shalihin” (2007: 421) pernah memberi nasihat sangat berharga terkait menjaga lisan,
اِعْلَمْ أَنَّهُ يَنْبَغِي لِكُلِّ مُكَلَّفٍ أَنْ يَحْفَظَ لِسَانَهُ عَنْ جَمِيعِ الْكَلَامِ إِلَّا كَلَامًا ظَهَرَتْ فِيهِ الْمَصْلَحَةُ، وَمَتَى اسْتَوَى الْكَلَامُ وَتَرْكُهُ فِي الْمَصْلَحَةِ فَالسُّنَّةُ الْإِمْسَاكُ عَنْهُ؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَنْجَرُّ الْكَلَامُ الْمُبَاحُ إِلَى حَرَامٍ أَوْ مَكْرُوهٍ، وَذَلِكَ كَثِيرٌ فِي الْعَادَةِ، وَالسَّلَامَةُ لَا يُعْدِلُهَا شَيْءٌ، فَيَنْبَغِي أَنْ لَا يَتَكَلَّمَ إِلَّا إِنْ كَانَ الْكَلَامُ خَيْرًا، وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَتْ مَصْلَحَتُهُ، وَمَتَى شَكَّ فِي ظُهُورِ الْمَصْلَحَةِ فَلَا يَتَكَلَّمُ
“Ketahuilah bahwa seharusnya setiap mukallaf (orang yang telah baligh dan berakal) menjaga lisannya dari semua perkataan kecuali perkataan yang terlihat ada maslahatnya.
Jika sama antara berbicara dan diam dalam maslahatnya, maka lebih baik untuk diam; karena ucapan yang mubah dapat terseret menjadi haram atau makruh, dan hal ini sering terjadi dalam kebiasaan.
Keselamatan tidak ada yang menandinginya, sehingga seharusnya tidak berbicara kecuali jika perkataan itu baik, dan itulah yang maslahatnya terlihat. Jika ragu terhadap munculnya maslahat, maka sebaiknya tidak berbicara.”
Syekh Nawawi dalam kutipan ini memberikan nasihat penting tentang menjaga lisan. Beliau menekankan bahwa setiap orang yang sudah baligh dan berakal harus selalu waspada terhadap apa yang diucapkan. Prinsip dasarnya adalah menjaga lisan dari perkataan kecuali perkataan tersebut memiliki manfaat yang jelas (maslahat).
Lebih dari itu, jika berbicara dan diam memiliki nilai maslahat yang sama, maka lebih baik memilih diam untuk menghindari risiko ucapan yang tidak bermanfaat atau bahkan bisa menjadi haram dan makruh.
Kebiasaan buruk sering kali membawa kita tanpa sengaja mengatakan sesuatu yang bisa menimbulkan dosa. Oleh karena itu, keselamatan lisan sangat diutamakan, dan kita harus berhati-hati untuk hanya mengucapkan kata-kata yang baik dan bermanfaat. Jika ada keraguan tentang manfaat suatu ucapan, sebaiknya lebih memilih untuk tidak berbicara.
Abu Darda’ pernah memberi nasihat,
أَنْصِفْ أُذُنَيْكَ مِنْ فِيكَ، فَإِنَّمَا جُعِلَ لَكَ أُذُنَانِ اثْنَتَانِ وَفَمٌ وَاحِدٌ، لِتَسْمَعَ أَكْثَرَ مِمَّا تَقُولُ.
“Berilah keadilan kepada kedua telingamu dari mulutmu, karena engkau diberikan dua telinga dan satu mulut, agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara.” (‘Uyuun al-Akhbaar, II/573)
Semoga kita menjaga lisan kita dan Allah menganugerahkan keselamatan dunia-akhirat untuk kita.*