Menegakkan Ta’awun di Tengah Bayang-Bayang Krisis Global

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
DUNIA sedang memasuki masa yang penuh ketidakpastian. Konflik geopolitik yang terus meluas tidak hanya menghadirkan korban kemanusiaan, tetapi juga mengguncang perekonomian global. Berbagai lembaga internasional memperingatkan bahwa dunia tengah berada dalam bayang-bayang perlambatan ekonomi, inflasi, dan ancaman resesi yang dapat dirasakan hingga ke rumah tangga masyarakat kecil.
Perang pada era modern tidak lagi selalu ditandai oleh dentuman senjata. Kini muncul perang hibrida yang memanfaatkan ekonomi, energi, pangan, teknologi, hingga informasi sebagai alat untuk melemahkan pihak lain. Dalam situasi seperti ini, ketahanan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekuatan militernya, tetapi juga dari kemampuan rakyatnya membangun kemandirian ekonomi.
Islam sejatinya telah lama mengajarkan fondasi ketahanan tersebut. Salah satu pilar utamanya adalah ta’awun, yakni semangat saling menolong dalam kebaikan. Allah SWT berfirman, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS Al-Maidah: 2).
Ayat tersebut mengajarkan bahwa kehidupan seorang Muslim tidak dibangun di atas semangat individualisme. Sebaliknya, Islam mendorong lahirnya masyarakat yang saling menguatkan, saling berbagi beban, dan saling membantu agar tidak ada yang tertinggal dalam menghadapi kesulitan hidup.
Rasulullah SAW memperkuat pesan itu melalui sabdanya, “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan satu bangunan; sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” Gambaran ini menunjukkan bahwa kekuatan umat lahir dari persatuan dan kerja sama, bukan dari persaingan yang saling melemahkan.
Semangat ta’awun memiliki makna yang sangat luas, termasuk dalam bidang ekonomi. Ketika masyarakat berhimpun untuk saling membantu mengembangkan usaha, memberikan modal, berbagi keuntungan secara adil, dan menanggung risiko bersama, maka lahirlah ekonomi yang lebih kuat sekaligus lebih berkeadilan.
Islam juga menegaskan bahwa kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan tertentu. Allah SWT berfirman, “…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS Al-Hasyr: 7). Ayat ini menjadi prinsip penting agar kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Karena itu, ekonomi yang sehat bukan hanya diukur dari tingginya pertumbuhan, tetapi juga dari pemerataan manfaatnya. Ketika petani, nelayan, pedagang kecil, dan pelaku UMKM memperoleh kesempatan berkembang, maka ketahanan ekonomi bangsa akan semakin kokoh dari akar rumput.
Menjauhi Riba
Sebaliknya, Islam memperingatkan umat agar menjauhi praktik-praktik yang merusak keadilan ekonomi. Riba menjadi salah satu penyebab lahirnya ketimpangan dan eksploitasi. Allah SWT dengan tegas menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 275.
Bahkan terhadap pelaku riba, Allah SWT memberikan peringatan yang sangat keras dengan menyatakan perang kepada mereka yang tetap mempertahankannya. Ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi yang dibangun di atas ketidakadilan tidak akan pernah menghadirkan keberkahan, meskipun tampak menguntungkan secara materi.
Selain riba, Islam juga melarang penimbunan barang kebutuhan pokok atau ihtikar. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menimbun barang kebutuhan pokok, maka ia berdosa.” Larangan ini menunjukkan bahwa mencari keuntungan tidak boleh dilakukan dengan menyengsarakan masyarakat.
Di tengah ancaman krisis global, nilai-nilai Islam justru semakin relevan. Umat memerlukan ekonomi yang dibangun di atas kejujuran, amanah, transparansi, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut akan melahirkan keberkahan yang tidak dapat diukur hanya dengan angka pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, setiap Muslim dapat memulai dari langkah sederhana. Menghindari riba, membantu usaha kecil, memperbanyak sedekah, menunaikan zakat, mengembangkan wakaf produktif, serta memilih transaksi yang halal merupakan bagian dari ikhtiar membangun ketahanan ekonomi umat.
Sesungguhnya perubahan besar selalu berawal dari kesadaran individu yang kemudian tumbuh menjadi gerakan bersama. Ketika semangat ta’awun hidup di tengah masyarakat, kekuatan ekonomi umat akan semakin kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman, seberat apa pun krisis yang datang.
Semoga Allah SWT membimbing kita menjadi hamba-hamba yang menghadirkan manfaat bagi sesama, menguatkan yang lemah, menebarkan keberkahan melalui harta yang halal, serta menjadikan setiap ikhtiar ekonomi sebagai jalan meraih ridha-Nya. Aamiin.*