Membaca Tasbih dalam Lumpur

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Di tanah ini, di bawah langit Aceh yang diberkahi, kita berdiri sebagai keturunan para raja dan sultan, sebuah kaum yang secara ruhani tidak pernah terjajah. Namun, kehebatan sebuah bangsa bukan hanya diukur dari silsilahnya, melainkan dari kedalaman imannya.
Allah SWT pernah berpesan kepada Bani Israil tentang tiga kemuliaan, yakni kenabian, kerajaan, dan keutamaan yang tidak diberikan kepada bangsa lain. Namun bagi Aceh, Allah memberikan infrastruktur yang jauh lebih mewah, yakni infrastruktur keimanan.
Lihatlah harmoni antara syariat dan adat kita. Keduanya menyatu laksana zat dan sifat yang tak terpisahkan. Namun, mari kita renungkan lebih dalam melalui pesan-Nya di Surah Al-Isra.
Coba tataplah ke atas. Langit yang berlapis tujuh itu tidaklah diam. Begitu pula bumi tujuh lapis yang kita pijak. Allah berfirman dalam ayat ke-44, ”Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka…”
Pohon kelapa yang melambai, burung yang bersarang di dahan, aliran sungai, hingga lumpur yang hari ini menggenangi rumah kita, semuanya sedang bertasbih. Lumpur ini bukan musuh. Lumpur ini adalah utusan Allah.
Jika kita ikut bertasbih bersamanya, maka lisan kita tidak akan lagi disibukkan oleh keluhan. Sebab, bagaimana mungkin kita mengutuk sesuatu yang sedang memuji Penciptanya?
Antara Amarah dan Luapan Rahmat
Saat banjir bandang datang menerjang, seringkali kita bertanya: “Apakah Allah sedang marah?”
Mungkin ada percikan peringatan di sana, terutama bagi kita yang mungkin telah lama membiarkan Al-Qur’an berdebu di sudut lemari.
Namun, ingatlah sabda Nabi SAW bahwa rahmat Allah jauh melampaui murka-Nya (Rahmati wasi’at ghadhabi). Banjir ini adalah rahmat yang menyamar. Lumpur ini adalah bentuk kasih sayang yang mungkin cara membacanya belum kita pahami.
Hanya ada satu cara untuk merasakannya, tunduk dan bertasbih. Ketika kita menyadari bahwa setiap butir lumpur membawa kehendak-Nya, maka hati kita akan damai. Tidak ada yang salah dari peristiwa ini; yang ada hanyalah undangan bagi kita untuk kembali “pulang” kepada-Nya.
Al-Qur’an sebagai Perisai
Ada rahasia besar di Surah Al Isra ayat 45. Allah menjanjikan sebuah “dinding pemisah” (hijabam mastura) bagi mereka yang membaca Al-Qur’an. Sebuah tabir yang tidak terlihat namun nyata, yang memisahkan antara hamba-Nya dengan mereka yang tidak beriman kepada akhirat.
Dahulu, perisai ini melindungi Rasulullah SAW dari pandangan istri Abu Lahab yang hendak mencelakainya. Hari ini, perisai yang sama bisa melindungi kampung kita. Jika kita ingin tanah ini terjaga dari bencana, jika kita ingin kampung ini tak lagi terserang musibah, maka jawabannya ada pada interaksi kita dengan Kalam-Nya.
Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa khatam. Jadikan Al-Qur’an sebagai napas desa kita. Sebab, ketika sebuah kaum sibuk bertasbih dan membaca ayat-ayat-Nya, maka alam pun akan bersahabat dengan mereka.
Lumpur ini rahmat. Banjir ini rahmat. Dan Allah senantiasa Maha Suci di atas segalanya.*