Makna dan Tujuan Talbiyah Haji

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
TALBIYAH adalah syiar ibadah haji. Talbiyah bukanlah sekadar ungkapan kering tanpa makna yang diteriakan oleh para jamaah haji. Talbiyah adalah ungkapan penuh makna yang seharusnya muncul dari hati seorang mukmin yang disinari cahaya iman sehingga dapat membawa pengaruh kepada perilakunya dan mengarahkan hidupnya sesuai tuntunan keimanannya. Oleh karena itu, disunnahkan kepada setiap jemaah haji untuk memperbanyak membaca talbiyah ini sepanjang pelaksanaan ibadah haji.
Dalam hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dijelaskan:
عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” جَاءَنِي جِبْرِيلُ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، مُرْ أَصْحَابَكَ فَلْيَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّلْبِيَةِ ، فَإِنَّهَا مِنْ شِعَارِ الْحَجِّ. رواه أحمد وابن ماجة والحاكم
Dari Zaid bin Khalid al Juhanni ra. ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jibril mendatangiku, lalu berkata: “Wahai Muhammad perintahkan shahabat-shahabatmu agar mengangkat suara merekadengan mengucapkan talbiyah, karena sesungguhnya ia adalah syiar haji.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Hakim).
Talbiyah secara bahasa berasal dari kata ‘labba’ yang berarti menjawab panggilan. Sehingga talbiyah yang diucapkan berkali-kali merupakan komitmen untuk selalu menjawab setiap panggilan dan seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan talbiyah ini juga merupakan jawaban terhadap seruan Ibrahim yang diperintahkan Allah Ta’ala agar menyeru seluruh umat manusia untuk datang ke Makkah demi melaksanakan ibadah haji.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. al-Hajj [22]: 27).
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah Ta’ala memerintahkan Ibrahim untuk menyeru umat manusia agar datang ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji. Ibrahim pun bertanya, “Ya Tuhanku! Bagaimana mungkin seruanku akan sampai kepada umat manusia sedangkan suaraku tidak sampai kepada mereka?” Maka Allah SWT berfirman, “Tugasmu hanyalah menyeru, dan tugas Kami lah untuk menyampaikannya.” Maka dengan penuh keyakinan akan janji Allah SWT Ibrahim kemudian berdiri, dan menyeru, “Wahai umat manusia! Tuhan kalian perintahkan kalian untuk datang ke rumah-Nya untuk menunaikan ibadah haji. Lalu gunung-gunung pun merendah sehingga suara Ibrahim pun sampai ke seluruh penjuru dunia. Bahkan didengarkan oleh mereka yang masih dalam rahim dan sumsum, dan dijawab oleh segala sesuatu mulai dari batu maupun tanaman, dan setiap orang yang ditakdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menunaikan ibadah haji sampai hari kiamat menjawab, “Aku memenuhi panggilan Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan Mu.”
Talbiyah juga mengandung makna lainnya. Dalam kitabnya Tahdzib As-Sunnah, Ibnu al-Qayyim menyebutkan beberapa makna yang terkandung dalam kata talbiyah, di antaranya adalah:
Pertama, ketertundukan sehingga makna ‘labbaika’ adalah aku tunduk patuh kepada Mu.
Kedua, menetap dan konsisten, sehingga maknanya adalah aku akan konsisten dan tetap selalu taat kepada Mu.
Ketiga, cinta, sehingga kata ‘labbaika’ tidak akan diucapkan kecuali kepada yang dicintai dan diagungkan.
Keempat, ikhlas yang berarti bahwa aku murnikan hatiku hanya untuk Mu.
Kelima, mendekat yang berarti bahwa aku selalu mendekat dan semakin mendekat kepada Mu.
Dalam lafadz talbiyah ini ada komitmen mentauhidkan Allah Ta’ala dalam setiap ibadah dan amal yang kita lakukan karena tauhid inilah asas dan pokok dari ajaran agama ini. Di antara hal penting yang ingin ditanamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ibadah haji ini kepada setiap orang yang diberikan nikmat dapat memenuhi panggilan ke Baitullah adalah perkara mentauhidkan Allah Ta’ala dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَوَتْ بِهِ رَاحِلَتُهُ ، قَائِمَةً عِنْدَ مَسْجِدِ ذِي الْحُلَيْفَةِ أَهَلَّ ، فَقَالَ : ” لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ ، لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ ، لَا شَرِيكَ لَكَ
Abdullah bin Umar ra. meriwayatkan bahwa ketika tunggangan Rasulullah SAW. berdiri tegak di masjid Dzul Hulaifah, maka beliau mengucapkan talbiyah, (yang artinya) ‘Aku memenuhi panggilan Mu ya Allah, Aku memenuhi panggilan Mu, Aku memenuhi panggilan Mu. Tiada sekutu bagiMu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kerajaan adalah milikMu. Tiada sekutu bagiMu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Talbiyah yang merupakan syiar ibadah haji ini merupakan penegasan tauhid seseorang bahwa tidak ada sesuatu pun yang berhak untuk disembah dan beribadah untuknya kecuali Allah Azza wa Jalla.
Dalam lafaz talbiyah ini juga ada pengakuan akan segala nikmat Allah Ta’ala. Sehingga segala pujian hanya patut kita haturkan kepada-Nya atas segala nikmat-Nya. Juga pengakuan bahwa segala kekuasaan dan kerajaan sesungguhnya adalah milik Allah sehingga segala bentuk kekuasaan dan kerajaan selainnya bukanlah kekuasaan dan kerajaan sesungguhnya. Wallahu a’lam bish shawab.*