Tegar di Jalan Dakwah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl ayat 125-128).
Hidup tidak akan pernah sepi dari ujian karena Allah Azza wa Jalla memang terkadang sengaja membuat kita terpuruk agar ingat dan kembali kepada-Nya. Dengan rasa sedih, sakit, musibah, atau kalah dan kecewa. Hadapilah semua dengan iman dan syukur kepada apa pun yang Allah berikan. Bila suatu hari kebaikan kita dibalas dengan keburukan, akankah kita merasa sakit hati?
Bila suatu hari, dakwah yang kita tujukan untuk kebaikan malah menjadi bahan fitnah orang-orang yang tidak suka pada dakwah kita; apakah kita akan kecewa?
Meski merasa hal yang sedemikian adalah hal yang manusiawi. Namun, kita jangan lupa bahwa mungkin ini adalah ujian dari Allah Azza wa Jalla untuk mengukur sejauh mana ketulusan kita. Berbagai macam cara Allah melatih konsistensi tekad liqoullah (perjumpaan dengan Allah) kita karena jangan-jangan kita beriman kepada Allah Ta’ala hanya karena sedang “cocok”.
Namun, saat apa yang kita inginkan sedang tidak bersesuaian dengan takdir Allah, maka kita justru menggugat, sedih, dan kecewa dengan apa yang Allah berlakukan.
Banyak Arti
Tentu kondisi yang tidak diinginkan itu mengandung berbagai arti; termasuk di dalamnya menguji sejauh mana keteguhan dan ketulusan iman kita. Untuk selalu istiqomah berada di jalan Allah. Supaya kita bisa bertahan dari berbagai macam guncangan bahkan musibah. Agar terlihat dengan jelas –terutama bagi diri kita sendiri; apakah kita benar-benar menginginkan perjumpaan dengan-Nya atau tidak.
Surat An-Nahl ayat 125-128 di atas merupakan salah satu ruang ujian yang Allah Ta’ala beritakan bagi orang-orang beriman. Bahwa, pasti ada waktunya dimana kita menyeru orang kepada kebaikan, tetapi apa yang kita dapatkan dari “manusia” tidak seperti yang kita harapkan.
Kita difitnah, dihujat, bahkan diserang secara fisik. Di ayat ini, Allah mengingatkan kepada kita, “Jangan bersedih, jangan berduka, dan jangan bersempit hati.” Rasa sakit, sesak, dan sempit di dalam dada adalah hal yang biasa Allah berikan kepada orang-orang beriman sebagai “mata ajar pelatihan”.
Berdakwah dan menyerulah kepada jalan Tuhanmu dengan penuh hikmah dengan bijaksana dan penuh nasihat yang baik, adalah tuntunan yang Allah berikan kepada kita. Ini adalah tugas pokok kita. Lalu bagaimana jika mereka kemudian malah membantah? Maka, bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Disini kita diingatkan urgensi kualitas ilmu dan argumentasi yang berisi agar dapat mematahkan bantahan mereka dengan cara yang lebih baik.
Bersabar Lebih Baik
Kenapa harus demikian? Karena sesungguhnya Tuhanmu adalah yang paling mengetahui siapa yang tunduk kepada Tuhannya dan siapa yang sesat dari jalan-Nya. Oleh karena itu, jika ada orang kita ajak pada kebaikan kemudian dia menolak, jangan merasa kecewa.
Tugas kita hanya mengajak dan berdakwah di jalan yang benar. Jangan merasa sempit hati manakala mereka membantah, karena hanya Allah Yang Maha mengetahui, siapakah yang kelak akan menjadi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Azza wa Jalla. Bisa jadi, kita adalah orang-orang yang masih berada di jalan yang salah; karena salah memilih metode dakwah atau lemah dalam mengelola pesan dan emosi.
“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS An-Nahl ayat 125).
Apabila dakwah justru mendatangkan kekerasan kepada kita, maka kita boleh membalas dengan balasan yang sama kadarnya dengan kekerasan atau kekejaman yang mereka berikan. Jangan malah pasrah mereka menginjak kehormatan Islam. Namun, tidak boleh berlebihan. Lawan, seimbang kadarnya dengan apa yang mereka lakukan.
Namun demikian, bila kita mampu bersabar, itu mungkin lebih baik. Bisa jadi silaturahmi kita yang kurang atau bisa jadi, kita yang kurang komunikasi, dan kurang bersabar. Karena, seringkali kesabaran kita menjadi kunci kemenangan di dalam dakwah.
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An-Nahl ayat 127).
Disini, Allah perkuat lagi perintah sabar bagi orang-orang yang berdakwah di jalan Allah dan ingin merasakan perjumpaan dengan Allah di jalan dakwah. Bahwa, kesabaran itu hanya akan ada bila kita bersama Allah Ta’ala. Bila tidak bersama Allah, mustahil kesabaran itu bisa tetap ada di dalam dada. Yang ada nantinya tawar-menawar logika dan pragmatis. Dan sungguh, kesabaran itu tidak akan pernah ada tanpa bersama Allah.
Duka cita dan kesedihan yang berlarut-larut karena keingkaran dan kekejian kaum kafir itu tidak boleh berlarut-larut. Tidak usah sedih dengan segala manuver mereka. Para nabi dan rasul merasakan yang jauh lebih hebat deritanya dari apa yang kita hadapi saat ini. Dengan tipu daya kaum kafir, kita justru akan mendapatkan nilai dan pahala dari kesabaran dan perjuangan yang kita lakukan. Maksud Allah dengan semua kekejaman yang mereka timpakan justru adalah membersihkan hati kita dari kemarahan dan angkara yang mereka sulut dengan sengaja agar kita lebih dekat dengan hawa nafsu.
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.
”Semuanya agar ada ruang kosong dalam jiwa kita yang akan diisi-Nya dengan kebersamaan dan ketergantungan hanya kepada-Nya. Kekosongan dari sedih, marah, duka, dan dendam inilah yang akan menjadi tempat tumbuh suburnya hati yang terpelihara dari angkara nafsu dan dosa; serta senantiasa berbuat kebaikan.
Sungguh, hanya pada orang-orang yang telah mengagungkan dan menyucikan Allah dalam setiap urusan dan senantiasa berbuat baik, Allah Ta’ala akan senantiasa ada dan melindungi.*