Tadzkirah

Kiat Agar Tetap Istiqamah dalam Ibadah

Ilustrasi/Rumaysho.com

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

SEBAGAI mukmin yang beriman kepada Allah dan meyakini hari Akhir tentu kita selalu berharap dan bercita-cita mati dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga kita selalu berusaha untuk selalu istiqamah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun, karena hati manusia itu dapat berubah kapan saja sesuai dengan kehendak Allah, juga karena godaan nafsu dan setan maka perlu perjuangan dan usaha terus menerus serta hidayah dari Allah SWT. Untuk dapat terus teguh dan istiqamah dalam ketaatan kepada Allah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، يَقُولُ : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ: إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Dari Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah SWT. akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah SAW. berdoa; “Allahumma mushorrifal quluub shorrif  quluubanaa ala thoatik” [Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!] (Riwayat Muslim).

Terlebih lagi dengan kondisi masyarakat kita sekarang. Di mana kita sebagai muslim hidup di tengah masyarakat yang penuh dengan berbagai fitnah dan godaan materi, kekuasaan, syahwat. Serta menjamurnya aliran-aliran sesat dan paham-paham sekuler yang semakin menjauhkan seorang muslim dari agamanya. Rasulullah telah menggambarkan bahwa pada zaman seperti itu seorang muslim yang berpegang teguh pada agamanya ibarat seseorang yang memegang bara api.

عَنْ أَنَسٍ بنُ مَالِكِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَأْتِي عَلىَ النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كاَلْقَابِضِ عَلىَ الْجَمَرِ . رواه الترمذي

Dari Anas Ibnu Malik ra. ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: “Akan datang pada manusia suatu zaman, dimana orang yang memegang teguh agamanya seperti orang yang memegang bara api.” (Riwayat Tirmidzi).

Tapi Islam sebagai rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia telah menjelaskan cara dan langkah-langkah yang harus dilakukan seorang mukmin agar dapat terus teguh dan istiqamah dalam menjalankan agamanya di tengah kondisi apapun. Alquran, Sunnah Nabi Muhammad, sirah Rasulullah dan para salaf al-shalih penuh dengan keterangan tentang itu. Di antaranya langkah-langkah itu adalah:

– Selalu berdoa dan memohon kepada Allah agar selalu diteguhkan dalam ketaatan kepada-Nya karena istiqamah itu merupakan rahmat dan hidayah dari Allah SWT bagi hamba-Nya. Itulah yang selalu kita lakukan setiap shalat dengan membaca Ihdina al-shirat al-mustaqim. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah disamping doa yang telah disebutkan di hadits di atas adalah:

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِيْ الأَمْرِ، وَ الْعَزِيْمَةَ علَى الرُّشْدِ، وَ أَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَ حُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَ أَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيْمًا، وَ أَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَ أَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ

“Ya Allah aku memohon kepada-Mu ketetapan dalam urusanku, dan keteguhan dalam kebenaran. Dan aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas nikmat-Mu dan kebaikan dalam beribadah kepada-Mu. Aku mohon kepada-Mu hati yang bersih dan aku mohon kepada-Mu lisan yang jujur. Aku mohon kepada-Mu kebaikan yang Engkau ketahui dan aku berlindung dengan-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui, dan aku mohon ampun dari apa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya engkau Maha Mengetahui akan segala yang ghaib.” (Riwayat Thabrani).

-Berusaha dan berjuang untuk selalu melaksanakan syari’at Allah dan beramal shaleh, terutamanya shalat lima waktu dan ibadah-ibadah fardhu lainnya. Ditambah dengan amalan-amalan sunnah karena keimanan itu akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. Allah akan memberikan hidayah kepada kita jika kita berjuang untuk tetap dalam ketaatan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Surat Al-‘Ankabut [29]: 69).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Allah berfirman: “Siapa yang memusuhi wali-Ku maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang terhadapnya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai  tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku akan melindunginya.” (Riwayat Bukhari).

-Memperbanyak membaca dan mentadabburi ayat-ayat al-Qur`an. Allah berfirman:

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ‌ لِّلْعَالَمِينَ ﴿٢٧﴾ لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ ﴿٢٨

“Al Quran itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (Surat At-Takwir. [81]: 27-28).

-Bergaul dan berteman dengan orang-orang shaleh dan menjauhi orang-orang fasik yang selalu bermaksiat. Karena itu akan membantu kita untuk tetap istiqamah di jalan Allah SWT.

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang mengikuti agama kawannya. Karena itu, lihatlah olehmu siapakah yang menjadi kawanmu.” (Riwayat Abu Daud dan Tirmidzi).

Rasulullah juga bersabda:

عَنْ أَبِي مُوسَى ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ ، إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Abu Musa meriwayatkan dari Nabi SAW. beliau bersabda: “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberikan minyak wangi kepadamu, atau engkau akan membeli minyak wangi darinya, atau setidaknya engkau akan mencium aroma wangi darinya. Adapun tukang pandai besi, maka mungkin bajumu bisa terbakar karena apinya, atau setidaknya engkau pasti akan mendapati bau tak sedap.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

-Membaca dan mempelajari sirah para Nabi dan rasul, kehidupan sahabat Nabi Muhammad serta orang-orang shaleh agar bisa dijadikan teladan. Allah Ta’ala berfirman:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ الرُّ‌سُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَـٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَ‌ىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Surat Hud [11]: 120).

-Tidak berlebih-lebihan dalam beragama dengan memaksakan diri melakukan hal yang berat, tapi hendaklah kita melakukan hal yang kita mampu lakukan secara konsisten. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ خُذُوا مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا ، وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

“Wahai manusia! Ambillah (lakukanlah) amal sesuai kemampuanmu, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kamu bosan, Dan sesungguhnya amal yang paling Allah sukai ialah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, ini lafaz Bukhari).

-Terus berusaha menuntut ilmu, khususnya ilmu yang dapat menuntun kita menjalankan Islam dengan benar. Karena dengan ilmu itu adalah cahaya yang menerangi jalan kita dalam menjalani kehidupan. Sehingga bisa membedakan yang baik dan buruk, dan dengan ilmu itulah kita semakin takut kepada Allah SWT.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّـهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّـهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ‌

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Surat Fathir [35]: 28).

Itulah di antara cara agar kita dapat istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT. Tidak mudah tergoda dengan segala fitnah yang mengelilingi kita di zaman ini. Semoga kita termasuk hambanya yang mendapat hidayah untuk selalu istiqaamah di jalan-Nya. Aamiin. Wallahu a’lam bish shawab.*