Tadzkirah

Keutamaan Bulan Muharram

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

Diriwayatkan dari Abu Bakrah semoga Allah meridhoinya, dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Dalam satu tahun itu ada dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan haram, tiga bulan berturut-turut, (yaitu) bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharam, (kemudian) bulan Rajab yang terpisah antara bulan Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Bukhari dan Muslim).

Di antara kasih sayang Allah Ta’ala kepada orang-orang yang beriman, dibuatkanlah musim-musim ibadah; musim musim ketaatan yang di dalamnya Allah menyiapkan berbagai instrumen yang menambah kekhusyu’an. Setelah musim haji berakhir, datanglah bulan setelahnya, bulan Muharram yang beberapa hari lagi tiba, sebagai syahrullah (bulannya Allah).

Menyusul keutamaan di bulan-bulan haji. Sebagaimana di dunia bisnis, para pebisnis yang menunggu momentum-momentum agar sahamnya naik atau menemukan momentum untuk menaikkan keuntungan bisnisnya, maka orang-orang beriman juga diberikan momentum untuk menaikkan nilai dan ketaatannya di mata Allah Azza wa Jalla.

Mulianya Syahrullah (Bulan Allah)
Al-Qurthubi berkata, “Ketika Allah mengkhususkan bulan-bulan hurum yang artinya bulan-bulan yang dimuliakan , dan disebutkan secara khusus melarang orang-orang beriman berbuat dzalim di dalamnya, hal ini menunjukkan kemuliaan bulan Muharam.” Bukankah berlaku dzalim itu dilarang di setiap saat? Betul, tetapi dikhususkannya kata-kata, “Janganlah kamu berlaku dzalim dan mendzalimi dirimu sendiri,” berarti Allah sedang memuliakan bulan ini.

Allah Ta’ala berfirman di bulan haji, “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS Al-Baqarah ayat 197).

Jangan berkata rafats (hal-hal yang dapat menimbulkan birahi) , jangan berlaku fasik/fusukh (berlaku dosa-dosa besar) juga jidal (dilarang berbantah-bantahan) di bulan haji. Bukankah ini semua sebenarnya juga dilarang diluar bulan haji? Namun, Allah Azza wa Jalla menekankan pelarangannya di bulan Haji, tentu untuk memuliakan bulan Haji. Maka seperti itulah Allah memuliakan bulan Muharam.

Karenanya para ahli ilmu mengatakan, terkait dengan ayat larangan berlaku zalim, maka sesungguhnya Allah Azza wa Jalla sedang memuliakan bulan ini.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah ayat 36).

Pada bulan-bulan haram, mereka yang tidak melakukan kedzaliman, berarti telah menegakkan agama yang lurus. Di bulan-bulan haram ini, Allah Ta’ala telah menyiapkan banyak kesempatan instimewa, kemuliaan, dan pahala. Namun, sayangnya masih banyak orang yang lalai. Padahal, sejatinya ada dua sikap yang sangat penting bagi orang-orang beriman dalam menggunakan ruang waktu dan ruang tempat. Jadikanlah setiap ruang waktu menjadi ibadah dan jadikanlah ruang tempat menjadi tempat taat dan lahan untuk beribadah.

Karena itu, manakala Allah memuliakan bulan-bulan atau waktu tertentu; janganlah di bulan itu, kita terjerumus dalam kedzaliman. Walau pun demikian, para fuqoha juga berpendapat bahwa ayat mengenai larangan berperang di bulan haram juga tidak dimansukhkan hingga saat ini dan tetap berlaku. Bila beberapa sebab dalam ayat ini terjadi.

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar. Tetapi, menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup. Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah ayat 217)

Lalu, apa keutamaan yang terdapat di bulan Haram yang terdiri dari bulan Dzulqoidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab ini? Terutama untuk bulan Muharram, Allah Ta’ala menyebutnya dengan nama Syahrullah. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla kemudian dilekatkan kepadanya nama Allah, maka itu mencerminkan kemuliaannya di sisi Allah Ta’ala.

Keutamaan Syahrullah
Bulan Muharram, di dalamnya terdapat hari Asy-Syura yang di dahului dengan hari Tasu’a. Berpuasa di hari Asy-Syura akan mengampuni dosa kita setahun yang lalu. Namun, Rasulullah Muhammad saw kemudian memerintahkan kepada kita agar berpuasa sehari sebelum hari Asy-Syura agar tak serupa kita dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Walau kemudian Rasulullah saw tidak bisa membersamai kita menjalankannya karena beliau telah lebih dahulu wafat, perintah ini tetap berlaku hingga sekarang.

Puasa di hari Tasu’a dan Asy-Syura ini tentu sangatlah penting nilainya karena Rasulullah saw bersabda, “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan keutamaan kita berpuasa di hari Tasu’a dan Asy-Syura. Karena dua puasa tersebut berada di dalam bulan Allah (Muharram). Kita juga dianjurkan banyak berpuasa di bulan ini, walau tidak untuk berpuasa sebulan penuh.
Selain bulan Muharram adalah syahrullah (bulannya Allah), di bulan ini juga banyak sekali pertolongan Allah yang diturunkan kepada orang-orang beriman. Di bulan ini, Allah banyak menunjukkan kemenangan yang haq atas yang bathil. Di antaranya Nabi Musa as ditolong dari kejaran Fir’aun di Laut Merah dan menenggelamkan Fir’aun.

Inilah momentum yang Allah pilihkan sehingga bulan ini disebut sebagai bulan pertolongan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, banyaklah berdoa di bulan ini. Sebagai bentuk taat dan kesyukuran. Jadikanlah momentum bulan Allah ini menjadi media pertolongan dari orang-orang yang ingkar kepada Allah. Jadikan momentum ini sebagai pembakar semangat bagi para pemuda untuk mengalahkan Firaunisme dimana pun berada.

Jadikan momen bulan Muharram yang akan segera datang ini sebagai momen untuk berpihak kepada kebenaran karena Allah akan terus jadikan bulan ini dipenuhi kemuliaan, sebagaimana Rasulullah saw yang banyak berpuasa di bulan ini karena kemuliaannya.

Jadikan bulan ini sebagai semangat untuk terus berada di belakang barisan amar ma’ruf nahi mungkar karena bulan ini adalah bulan mulia dan dimuliakan oleh Allah Ta’ala dengan pertolongan kepada orang-orang beriman yang berjuang di jalan-Nya. Banyaklah berdoa, berpuasa, dan jangan menzalimi diri sendiri karena banyak pahala dan kemuliaan yang Allah Azza wa Jalla berikan di bulan yang mulia ini.*

Exit mobile version