Tadzkirah

Jangan Berikan yang Tersisa untuk Allah

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

SETIAP kali fajar menyingsing dan kelopak mata mulai terbuka, apa yang pertama kali kita cari? Di tengah kehidupan modern, sebagian dari kita mungkin lebih dahulu meraih gawai, memeriksa pesan, membuka media sosial, atau mengikuti riuh kabar dunia.

Padahal, ada satu hal yang semestinya menjadi awal dari seluruh aktivitas kita: mengingat Allah SWT. Lisan yang mengucapkan alhamdulillah, hati yang bersyukur, dan kesadaran bahwa kita masih diberi kesempatan menjalani kehidupan adalah bentuk sederhana dari menempatkan Allah di urutan pertama.

Namun, mari bertanya lebih dalam kepada diri sendiri: Sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk Allah, atau justru hanya memberikan yang tersisa?

Pertanyaan ini penting karena tanpa disadari, kehidupan kita terkadang berjalan dengan pola demikian. Shalat dikerjakan setelah kesibukan duniawi selesai. Membaca Alquran dilakukan ketika ada waktu luang. Bersedekah menunggu ketika kebutuhan pribadi sudah terpenuhi. Bahkan waktu untuk beribadah sering kali diberikan setelah tenaga terkuras oleh berbagai urusan dunia.

Seolah-olah Allah hanya mendapatkan sisa waktu, sisa tenaga, dan sisa perhatian kita.

Padahal, kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS, mengajarkan sesuatu yang jauh lebih tinggi: ketaatan kepada Allah menuntut kesungguhan dan ketulusan, bukan sekadar sisa pengorbanan.

Kisah itu diabadikan Allah SWT dalam Surah ash-Saffat. Ketika Ibrahim AS menerima perintah untuk menyembelih putranya, Ismail AS, beliau tidak menjadikan kecintaan kepada anak sebagai alasan untuk menolak perintah Allah.

Ismail AS pun menunjukkan ketundukan yang sama. Alquran mengabadikan sikap keduanya dalam firman Allah SWT:

“Maka ketika keduanya telah berserah diri…” (QS ash-Saffat: 103).

Keduanya berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Mereka tidak sedang menyerahkan sesuatu yang tidak berharga. Justru yang dipertaruhkan adalah sesuatu yang sangat mereka cintai.

Di situlah letak pelajarannya.

Ibrahim AS tidak memberikan “sisa” cintanya kepada Allah. Ismail AS tidak memberikan “sisa” ketaatannya. Mereka menempatkan perintah Allah di atas kecintaan kepada apa pun yang mereka miliki.

Dan ketika seorang hamba bersungguh-sungguh mengutamakan Allah, Allah tidak pernah menyia-nyiakannya.

Allah kemudian mengganti Ismail AS dengan sembelihan yang besar. Allah juga mengabadikan nama Ibrahim AS sebagai teladan kebaikan dan memberikan kepadanya keturunan yang saleh. Sebuah pengorbanan yang tampak berat di mata manusia justru menjadi jalan menuju kemuliaan yang panjang.

Karena itu, barangkali yang perlu kita tanyakan bukan hanya, “Apa yang sudah saya berikan kepada Allah?” Tetapi juga, “Apakah yang saya berikan itu yang terbaik atau hanya yang tersisa?”

Dalam mendidik anak, misalnya, orang tua sering kali begitu serius mempersiapkan masa depan duniawi anak-anaknya. Pendidikan, pekerjaan, keterampilan, dan berbagai kebutuhan mereka dipikirkan dengan sungguh-sungguh. Namun, pendidikan iman dan akhlak terkadang justru mendapatkan waktu yang tersisa.

Padahal, anak bukan sekadar investasi dunia. Mereka adalah amanah Allah SWT.

Begitu pula dengan harta. Kita sering menghitung dengan cermat pengeluaran untuk berbagai kebutuhan, tetapi merasa berat ketika harus mengeluarkan sebagian harta untuk sedekah. Kita mencari nominal yang paling ringan untuk diberikan, bukan karena tidak memiliki kemampuan, melainkan karena belum menjadikan Allah sebagai prioritas.

Demikian pula dengan waktu. Untuk pekerjaan, kita mampu menyediakan berjam-jam. Untuk hiburan, kita bisa lupa waktu. Untuk media sosial, kita dapat membuka layar berkali-kali dalam sehari. Tetapi untuk membaca Alquran, menghadiri majelis ilmu, atau bermunajat kepada Allah, kita sering berkata, “Nanti kalau ada waktu.”

Bukankah ini tanda bahwa ada yang perlu kita benahi?

Sejarah bangsa ini pun mengajarkan keteladanan tentang pengorbanan. Para ulama, kiai, santri, dan pejuang terdahulu tidak membangun perjuangan dengan memberikan apa yang tersisa. Mereka mengerahkan tenaga, pikiran, harta, bahkan mempertaruhkan keselamatan demi mempertahankan agama dan tanah air.

Kini, pertanyaannya kembali kepada kita.

Apa “Ismail” dalam kehidupan kita?

Bisa jadi ia adalah harta yang paling kita cintai. Bisa jadi jabatan, kenyamanan, ambisi, waktu, atau bahkan ego yang selama ini sulit kita lepaskan.

Bukan berarti semua yang kita cintai harus ditinggalkan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mengabaikan dunia. Namun, semua yang kita miliki harus ditempatkan pada posisi yang benar: menjadi sarana mendekat kepada Allah, bukan sesuatu yang membuat kita melupakan-Nya.

Karena itu, jangan biasakan Allah mendapatkan sisa.

Jangan berikan kepada-Nya sisa waktu setelah seluruh kesibukan selesai. Jangan berikan sisa tenaga ketika tubuh sudah terlalu lelah. Jangan berikan sisa perhatian ketika pikiran telah dipenuhi urusan dunia. Dan jangan jadikan sedekah sekadar apa yang kebetulan tersisa setelah semua keinginan terpenuhi.

Berikan yang terbaik untuk Allah.

Sebab, sesungguhnya tidak ada satu pun pengorbanan yang dilakukan karena Allah yang sia-sia.

Ketika Allah menjadi prioritas, dunia tidak selalu menjadi lebih sedikit. Tetapi hati kita menjadi lebih mampu menempatkan dunia pada tempatnya.

Dari sanalah lahir ketenangan, keberkahan, dan kemuliaan hidup. Wallahu a’lam bish-shawab.*