Tadabbur

Mengetuk Pintu Langit dengan Surah Al-Fatihah

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

MANUSIA kerap menghabiskan banyak tenaga untuk mengejar harta, karier, jabatan, dan berbagai pencapaian duniawi. Namun, di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang sering terlupakan: mengejar rahmat Allah SWT.

Padahal, harta dan kedudukan hanyalah bagian kecil dari luasnya rahmat Allah. Seseorang yang mengejar harta belum tentu mendapatkan apa yang benar-benar dibutuhkannya. Sebaliknya, orang yang hidup dalam naungan rahmat Allah akan memperoleh sesuatu yang paling tepat bagi kehidupannya.

Bayangkan seseorang tersesat dan kelaparan di tengah hutan. Jika kepadanya diberikan uang ratusan miliar rupiah, uang itu tidak akan menyelamatkan hidupnya. Yang ia butuhkan saat itu bukan uang, melainkan makanan.

Demikian pula kehidupan manusia. Apa yang terlihat sebagai kesuksesan di mata manusia belum tentu menjadi kebutuhan terbaik bagi dirinya. Allah SWT mengetahui apa yang dibutuhkan setiap hamba. Karena itu, memasuki “alam rahmat” Allah berarti bersedia menerima pemberian-Nya dengan keyakinan bahwa Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik.

 

Memahami Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Pintu menuju rahmat Allah dapat direnungkan melalui dua nama-Nya yang agung, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Ar-Rahman menggambarkan keluasan dan kepenuhan rahmat Allah. Rahmat pada tingkatan ini meliputi seluruh makhluk. Manusia, hewan, tumbuhan, bahkan seluruh kehidupan di alam semesta berada dalam cakupan rahmat-Nya.

Sementara Ar-Rahim menggambarkan kasih sayang Allah yang terus-menerus dan sampai kepada hamba yang dirahmati-Nya. Al-Quran menggambarkan hubungan sifat ini dengan orang-orang beriman.

Betapa luas rahmat Allah. Nabi SAW juga menggambarkan bahwa dari seratus bagian rahmat Allah, hanya satu bagian yang diturunkan ke bumi, sementara 99 bagian lainnya disimpan di sisi-Nya. Dengan satu bagian itu saja, makhluk dapat saling menyayangi dan mengasihi.

Karena itu, rahmat Allah jauh lebih luas daripada apa pun yang dapat dibayangkan manusia. Bahkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya hanyalah bagian kecil dari rahmat Allah yang diturunkan ke bumi.

Kesadaran terhadap Ar-Rahman dan Ar-Rahim semestinya tidak berhenti pada pengetahuan. Ia harus memantul dalam akhlak.

Menyayangi orang yang sedang lalai dapat diwujudkan melalui nasihat yang baik. Menyayangi orang yang lemah dan terzalimi dapat diwujudkan dengan pertolongan. Dengan demikian, seorang mukmin bukan hanya berharap mendapatkan rahmat Allah, tetapi juga menjadi jalan hadirnya rahmat bagi sesama.

 

Dua Sayap: Harapan dan Ketakutan

Salah satu pintu penting untuk menjemput rahmat itu adalah Surah Al-Fatihah.

Setiap hari, seorang Muslim membacanya berulang kali dalam shalat. Namun, Al-Fatihah bukan sekadar rangkaian ayat yang harus diselesaikan. Di dalamnya terdapat pendidikan jiwa yang sangat dalam.

Ayat-ayat awal Al-Fatihah mengajarkan manusia untuk mengenal dan memuji Allah. Kemudian seorang hamba menyatakan pengabdiannya kepada Allah sebelum memohon petunjuk menuju jalan yang lurus.

Di dalam rangkaian tersebut terdapat keseimbangan antara harapan dan ketakutan.

Ketika seorang hamba mengenal Allah sebagai Ar-Rahman, ia tidak mudah berputus asa. Sebesar apa pun persoalan yang dihadapi, selalu ada ruang untuk berharap kepada rahmat-Nya.

Namun, ketika mengingat Allah sebagai Maliki Yaumiddin, Penguasa Hari Pembalasan, seorang hamba tidak boleh merasa terlalu aman dari ketetapan Allah. Ia tetap perlu memiliki rasa takut yang membuatnya rendah hati dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Inilah dua sayap seorang mukmin: ar-raja’, harapan, dan al-khauf, rasa takut.

Burung tidak dapat terbang dengan satu sayap. Demikian pula hati manusia. Harapan tanpa rasa takut dapat melahirkan rasa aman yang berlebihan. Sebaliknya, ketakutan tanpa harapan dapat membuat jiwa kehilangan daya untuk bangkit.

Maka, seorang mukmin perlu takut kehilangan rahmat Allah sekaligus terus berharap untuk mendapatkannya.

 

Tiga Latihan Menghadirkan Rahmat

Kesadaran terhadap rahmat Allah dapat dilatih melalui amalan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Pertama, menghadirkan makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam shalat.

Al-Fatihah dibaca setidaknya 17 kali dalam rakaat shalat fardu sehari semalam. Jangan biarkan pengulangan itu berubah menjadi rutinitas tanpa kesadaran.

Ketika membaca Ar-Rahmanir-Rahim, hadirkan kembali keyakinan bahwa seluruh kehidupan berada dalam pengawasan dan rahmat Allah. Ketika datang ujian, keyakinan ini membantu seseorang untuk tidak mudah berputus asa dan tetap berprasangka baik kepada Allah.

Kedua, mengawali aktivitas dengan basmalah secara sadar.

Bismillahirrahmanirrahim bukan sekadar ucapan pembuka. Di dalamnya terdapat pengakuan bahwa pekerjaan yang akan dilakukan berada dalam nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Karena itu, basmalah sebaiknya tidak dilafalkan sekadar sebagai kebiasaan lisan. Berhentilah sejenak dan hadirkan kesadaran bahwa kita sedang meminta agar aktivitas tersebut berada dalam naungan rahmat Allah.

Termasuk ketika menghadapi persoalan keluarga yang menguji kesabaran. Basmalah dapat menjadi pengingat bahwa kita tidak menghadapi persoalan seorang diri.

Ketiga, memberi jeda ketika membaca ayat tentang rahmat.

Dalam membaca Al-Fatihah, seseorang dapat melatih kekhusyukan dengan tidak tergesa-gesa. Berikan jeda singkat setelah membaca Bismillahirrahmanirrahim dan ketika menyebut Ar-Rahmanir-Rahim.

Jeda dua atau tiga detik itu mungkin tampak sederhana. Namun, justru dalam keheningan singkat itulah seseorang dapat memberi ruang bagi hati untuk memahami apa yang sedang diucapkan.

Rasakan bahwa kita sedang berada di hadapan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kemudian hadirkan permohonan dalam hati agar setiap keputusan, langkah, pekerjaan, dan perjalanan hidup berada dalam tuntunan rahmat-Nya.

Sebab, rahmat Allah tidak selalu datang dalam bentuk apa yang kita inginkan. Terkadang ia hadir dalam bentuk sesuatu yang baru kita pahami setelah melewati sebuah ujian.

Karena itu, jangan hanya meminta kepada Allah agar hidup selalu mudah. Mintalah agar setiap kemudahan maupun kesulitan membawa kita tetap berada dalam rahmat-Nya.

Sebab ketika rahmat Allah telah menaungi kehidupan, seseorang tidak hanya mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi juga apa yang benar-benar dibutuhkannya.*

Exit mobile version